batik pati

batik kudus

batik klaten

  • Selamat Datang di BatikDan
  • Batik : Warisan Budaya Bangsa Yang Diakui Dunia
  • Dasar Kekayan Ragam Budaya di Indonesia
  • Upaya Perlindungan dan Pelestarian Batik Tradisional Indonesia
  • Cinta Produk Indonesia Cinta Indonesia

batik kendal

batik kebumen

Kain Mori Dalam Pembuatan Batik

Kain Mori adalah bahan baku batik dari katun atau sutera. Kualitas kain mori bermacam-macam, dan jenisnya sangat menentukan baik buruknya kain batik yang dihasilkan. Kain mori dilihat dari bahan dasarnya dapat berasal dari bahan sutra atau katun. Bedasarkan kehalusannya kain mori dari bahan katun dibedakan menjadi 3 golongan utama yaitu golongan yang sangat halus disebut “Primissima”, golongan halus disebut “Prima” dan golongan sedang disebut “Biru”. Sebagai tambahan yaitu golongan kasar yang disebut “kain grey” atau “blaco”.
Karena kebutuhan kain mori dari macam-macam kain tidak sama, keterangan dibawah ini mungkin bermanfaat sebagai wawasan dalam pembuatan batik.
Ukuran Kain Mori
Kain mori yang dibutuhkan sesuai dengan panjang pendeknya kain yang dikehendaki. Ada juga kebutuhan yang pasti misalnya udheng atau ikat kepala. Udheng berukuran lebih atau kurang dari kebutuhan ; oleh karena itu tidak dapat dipergunakan sesuai dengan pemakaian yang semestinya. Tetapi kain tidak pasti ukurannya. Jika pendek akan mempengaruhi kesempurnaan pemakaiannya ; jika lebih panjang akan menambah sempurna dalam pemakaian.
Cara mengukurnya pun hanya dengan jalan memegang kedua sudut kain mori pada sebuah sisi lebar dan menempelkan salah satu sudut tadi pada sisi panjang berseberangan sepanjang lebar kain mori. Kalau akan mengambil beberapa kacu, maka berganti-ganti tangan kiri dan kanan memegang sudut kain mori itu, menempelkan pada sisi panjang yang sama dengan menekuk kain mori.
Kebutuhan Akan Kain Mori
Kain dodot membutuhkan kain mori 7 kacu. Kain dodot biasanya dipakai oleh keluarga kraton atau penari klasik.Tetapi karena kain dodot mahal harganya, maka fungsi kain dodot para penari diganti oleh kain biasa yang cukup panjang. Kain nyamping membutuhkan 2 atau 2.5 kacu, menurut kesenangan atau besar kecilnya si pemakai. Udheng membutuhkan kain mori sekacu. Udheng ada dua macam; “udheng lembaran” dan “udheng jadi”. Udheng jadi ialah udheng yang sudah berbentuk, tinggal pakai. Udheng jadi ini sebenarnya hanya membutuhkan kain setengah kacu, dan memotongnya secara diagonal.
Sedang udheng lembaran dibentuk sewaktu akan dipakai, langsung dikepala si pemakai ; selesai dipakai udheng itu dilepas lagi. Udheng terakhir ini membutuhkan kain mori sekacu ; tetapi secara praktis juga hanya setengah kacu, karena setengah kacu lagi terlipat didalam sebagai penebal belaka.
Oleh karenanya udheng lembaran dapat dibatik menurut dua macam motif batik dengan batas salah satu diagonal. Dalam hal udheng yang memakai dua macam motif batik itu, si pemakai bebas memilih motif mana yang ditaruh diluar untuk diperlihatkan.
Mengolah Kain Mori Sebelum Dibuat Batik
Sebelum dibuat batik kain mori harus diolah lebih dahulu. Baik buruknya pengolahan akan menentukan baik buruknya kain. Pengolahan kain mori adalah sebagai berikut: Kain mori yang sudah dipotong kemudian diplipit, diplipit ialah dijahit pada bekas potongan supaya benang “pakan” tidak terlepas. Benang pakan ialah benang yang melintang pada tenunan. Setelah diplipit kemudian dicuci dengan air tawar sampai bersih. Kalau kain mori kotor, maka kotoran itu akan menahan meresapnya cairan lilin (malam yang dibatikkan) dan menahan cairan warna pada waktu proses pem-babaran. Di daerah Yogyakarta dan Surakarta kain mori dijemur sampai kering setelah dicuci. Tetapi didaerah Blora, setelah dicuci bersih kain mori terus direbus.
Setelah wantu panas, kain mori bersih dimasukkan kedalamnya. Cara memasukkan kain mori kedalam wantu mulai dari ujung sampai pangkal secara urut. Rebusan memakan waktu beberapa menit. Kain mori kemudian diangkat dan dicuci untuk menghilangkan kotoran sewaktu direbus.
Selesai dicuci barulah dijemur sampai kering. Kain mori setelah dicuci dan dijemur kemudian menjadi lemas/tidak kaku; kemudian setelah itu dikanji ( bahan kanji ialah beras). Didaerah Blora dipakai sembarang beras asalkan putih. Beras direndam beberapa saat dalam air secukupnya, kemudian bersama air rendaman tadi direbus sampai mendidih. Air rebusan beras diambil dan dinamakan tajin. Kain mori kering dimasukkan kedalam tajin sampai merata, tanpa diperas langsung dijemur supaya kering. Setelah proses penganjian ini akhirnya kain mori menjadi kaku.
Setelah kain mori lembab, kemudian dikemplong. Dikemplong ialah dipukuli pada tempat tertentu dengan cara tertentu pula, supaya benang-benang menjadi kendor dan lemas, sehingga cairan lilin dapat meresap. Cara mengemplong kain mori yaitu dengan menyediakan kayu kemplongan sebagai alas dan alu pemukul atau “ganden” (ganden ialah martil agak besar terbuat dari kayu). Kain mori dilipat memanjang menurut lebarnya, lebar lipatan lebih kurang setengah jengkal; kemudian ditaruh diatas kayu dasar memanjang, lalu dipukul-pukul. Jika perlu dibolak-balik agar pukulan menjadi rata.
Setelah dikemplong, tinggal menentukan motif batik yang dikehendaki. Jika ingin motif parang-parangan, atau motif-motif yang membutuhkan bidang-bidang tertentu, maka kain mori digarisi lebih dahulu. Fungsi penggarisan ini hanyalah untuk menentukan letak motif agar menjadi rapi (lurus). Pembatik yang sudah mahir tidak menggunakan penggarisan. Besar kecilnya garisan tidak sama, tergantung pada motif rencana batikan. Biasanya kayu garisan berpenampang bujursangkar.
Cara memindah kayu penggaris setelah garis pertama ke garis kedua ialah dengan memutar kayu penggaris (membalik), tanpa mengangkatnya. Maka lebar sempitnya ruang antara garis satu sama lain ditentukan oleh banyaknya putaran kayu penggaris. Kain mori yang akan dibuat batik dengan motif semen tidak perlu digarisi, langsung dirangkap dengan pola pada muka kain mori sebaliknya. Setelah semua itu selesai, barulah dapat dimulai kerja membatik.
. . .