FEEDBURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Sejarah Batik Malaysia Motif dan Keanekaragamannya

Pengrajin Batik di Malaysia
Pengrajin Batik di Malaysia
Sejarah batik Malaysia dimulai pada abad ke 18 saat Batik Minah Pelangi mendirikan perusahaan Batik di Trengganu. Pada tahun 1911 Haji Che Su bin Haji Ishak mendirikan perusahaan Batik di kawasan Lorong Gajah Mati, Kota Baru - Kelantan. Pada jaman dahulu, masyarakat Melayu menggunakan kentang sebagai alat cap pembuat batik, tetapi saat ini kain batik telah dibuat dengan alat-alat modern. Di Melayu (Pulau Sumatra dan Malaysia), suatu motif batik yang disebut Batik Pelangi yang telah diperkenalkan sejak tahun 1770-an.
Pada saat itu teknik pembuatan batik hanyalah menggunakan teknik ikat dan celup dan dikenali sebagai Batik Pelangi. Pada saat itu kain diimport dari Thailand jenis ‘Kain Pereir’ sementara itu pewarna dibuat sendiri dengan menggunakan pewarna buah dan kulit kayu. Warna kain batik pelangi hanyalah Biru dan hitam saja. Pada tahun 1922 Haji Che Su telah mulai membuat batik yang menggunakan blok kayu (tehnik batik cap). Pada tahun 1926 pewarna kimia dari Eropa telah membawa perkembangan batik Malaysia dan mulai banyak digunakan. Aneka corak batik awalnya dipengaruhi oleh corak batik Indonesia disertai dengan nama batik yang dikomersialkan.
MOTIF BATIK MALAYSIA
Motif batik di Malaysia banyak dipengaruhi oleh alam sekitar. Motif-motif ini dihasilkan karena kepekaan masyarakat tradisional terhadap lingkungan. Bagi mereka apa saja yang menarik dan mengandung falsafah sendiri bisa dijadikan corak. Oleh itu kita boleh membuat kesimpulan bahwa motif-motif ini menunjukkan penyatuan masyarakat tradisional dengan alam. Terdapat enam jenis motif alam yang digubah menjadi corak atau ragam hias yang menarik:
Unsur flora
Fungsi unsur flora adalah seperti berikut:
§  Untuk menghiaskan kain batik ela. Motif flora seperti bunga, kudup, putik, daun, ranting dan pucuk digunakan secara tunggal atau bertabur
§  Untuk menghiasi badan batik sarung.
v bunga, kuntum, putik, ranting dan pucuk disusun menjalar datar dengan bentuk lembut
v helaian daun, kelopak serta ranting dan bunga
v bunga disusun berdahan tegak
§  Untuk menghiasi bahagian kepala kain (gunung) biasanya motif pucuk rebung biasa digunakan, ragam corak diubah bukan secara realistik tetapi campuran gaya organik dan geometri.

Unsur Flora Pada Batik Malaysia
Unsur Flora Pada Batik Malaysia





Unsur fauna
Unsur-unsur fauna adalah seperti:
Motif rama-rama, kumbang, burung, ayam, rusa, bangau, ikan, kijang dan sebagainya.
Unsur Fauna Pada Batik Malaysia
Unsur Fauna Pada Batik Malaysia







Unsur geometri
Fungsi motif unsur rupa geometri:
§  Untuk hiasan kaki kain atau gigi — susunan garis-garis halus, motif parang rusak, motif banji atau swastika dan motif pinggir awan digunakan.
§  Garis-garis lurus yang direka dan disusun menjadi motif seperti cangkerang, siput, kisi-kisi, jaring bersilang dan lain-lain lagi.
§  Untuk menghiasi batik panjang — motif kawung dalam susunan empat bentuk bujur sering digunakan.
§  Motif ceplok dengan susunan segi empat yang berisikan beberapa bentuk lain seperti bunga, unggas atau binatang dan garis berpalang digunakan bentuk ini bukan bentuk geometri sebenarnya, ini merupakan campuran gaya organik dan geometri.
Contoh motif unsur geometri: keluk pinggir awan persegi, pilin berganda', buntut siput, parang rusak, banji, ceplok, jalur, kawung.
Unsur Geometri Pada Batik Malaysia
Unsur Geometri Pada Batik Malaysia





Unsur benda buatan manusia
Fungsi motif unsur buatan manusia yang agak moden ini biasanya digunakan untuk hiasan batik ela. Contoh motif unsur benda buatan manusia:
§  abor
§  jaring ikan
§  kampung
§  layang layang
Unsur Buatan Manusia Pada Batik Malaysia
Unsur Buatan Manusia Pada Batik Malaysia







Unsur Motif Isen
Isen ialah motif pengisi untuk, memenuhi kain batik tradisional atau sebagai latar belakang kepala sesualu pola corak.
Contoh jenis isen:
Ada-ada, atap, sirapan, berangan, cacah gari, cantlel, cecek-cecek, cecek pitu, cecek sawut daun, galangan, grinsing, mata dara, penutup, poleng, sisik dan sebagainya.
Daftar Pola/Motif Batik Malaysia.
Contoh Motif Isen Pada Batik Malaysia
Contoh Motif Isen Pada Batik Malaysia






Terdapat beberapa jenis susunan motif pada kain batik Malaysia, yaitu:
§  berdiri
§  berjalur
§  calur/ dam
§  kisi-kisi
§  melintang
§  menyeluruh
§  serong
§  tompok-tompok (bertabur)
§  ulang bersilang
§  ulang batu bata
Motif pucuk rebung sering diletakkan pada bagian kepala kain. Susunan motif untuk bagian badan kain lebih bebas, berbentuk bunga berpohon atau bunga tunggal bisa disusun untuk menghasilkan corak. Motif parang rosak, pilin berganda atau banji sering digunakan untuk susunan menyerong. Motif pinggir awan, keluk berlingkar, keluk berbunga dan lengkungan separuh bulat sering menyatukan bentuk dengan bagian badan kain.
JENIS TEKNIK DAN PEMBUTAN BATIK DI MALAYSIA
Terdapat tiga teknik pembuatan batik di Malaysia.
Teknik batik blok
§  Blok tembaga yang berukir dengan gaya ukiran timbul digunakan untuk mengecap.
§  Berbagai wama yang digunakan untuk membuat corak yang berlatarkan kain putih.
§  Biasanya tiga blok yang berbeda digunakan.
§  Setiap blok mempunyai sarang tertentu.
§  Sarang jenis ini meninggalkan garis serta titik yang khas dan bungkus pada terapan lilin apabila dicelup dengan pewama.
§  Corak dan motif yang lebih rumit dan sempurna juga dapat dihasilkan.
Peralatan Yang Digunakan
§  Blok bunga atau sarang yang dibentuk khas dan di pateri mengikut rekaan corak
§  Kuali leper untuk memasak bahan campuran lilin dan pengadang
§  Kuali kawah untuk mencelup, merendam dan merebus kain
§  Meja menerap
Dilapisi span, kain goni atau kelopak batang pisang yang telah diproses dan direndam dalam air garam selama 12 jam.
Biasanya pokok pisang jenis kelat air, pisang Benggala atau Pisang rasa digunakan
§  Kain putih
§  Bahan pewarna
§  Debu soda
Proses membuat batik Cap di Malaysia:
§  Kain putih direbus untuk melembutkan dan menanggalkan kanji, kemudian dijemur sampai kering.
§  Kain dibentangkan dengan rata di atas permukaan meja.
§  Bahan campuran lilin damar dipanaskan dan permukaan blok dicelup kedalam lilin cair itu.
§  Lilin cair diterapkan pada permukaan kain mengikut susunan dan pola letak /motif dengan teliti.
§  Kain yang telah siap dicap dengan lilin dicelup ke dalam bahan pewarna.
§  Proses menerap dan mencelup warna dilakukan berulang kali dengan blok dan pewama yang berlainan untuk menghasilkan kain batik yang beraneka corak dan warna.
§  Kain kemudian direbus dengan air yang dicampurkan dengan bahan debu soda.
§  Kain dicuci dan dibilas sebelum dijemur sehingga kering.
Teknik batik tulis Malaysia
Banyak disukai oleh orang Malaysia karena mempunyai ciri yang up to date; wama eksklusif dan motif yang bebas serta dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. Batik Tulis juga mempunyai motif/corak yang tersendiri.
Peralatan yang digunakan:
§  Kain putih atau kertas
§  Canting
§  Campuran lilin (lilin paraffin, lilin lebah, dammar & lemak binatang/minyak masak)
§  Berus lembut
§  Serbuk pewarna jenis ‘reactive-dye’
§  Sodium silicate (Pemati wama)
§  Soda ash
§  Pemidang kayu
Proses membuat batik tulis Malaysia:
§  Kain yang telah dicuci (untuk membuang kanji) dikeringkan dan diregangkan pada pemidang kayu.
§  Motif dan corak dilakar pada kain dengan menggunakan pensil (6D).
§  Bahan campuran lilin dipanaskan dengan suhu sedang.
§  Lilin (60%) + damar (40%) + sedikit minyak masak untuk melicinkan aliran lilin.
§  Canting yang berisi lilin cair digunakan untuk melukis mengikuti pola di atas permukaan kain.
§  Bahan pewama disapu pada pola corak.
§  Kain dibiarkan mengering, kemudian disapu atau direndam dengan sodium silikat dan dibiarkan selama 8-12 jam di tempat teduh untuk mematikan warna.
§  Kain yang telah dimatikan warnanya, dicuci dengan air mengalir sehingga menghilangkan bekas sodium silikat tersebut.
§  Kain selanjutnya direbus dan di campur dengan sedikit abu soda sehingga lilinnya lepas.
§  Kain dicuci dan dibilas di dalam air sehingga bersih sebelum dikeringkan.
Teknik Batik Skrin Malaysia
Pada awalnya dipelopori oleh sekelompok pembuat batik di negeri Kelantan dan terus berkembang menjadi satu industri.
Proses pembuatan lebih cepat, lebih ekonomi dan teknik yang digunakan lebih cepat daripada teknik membatik yang lain.
Peralatan:
§  Skrin
§  Sekuji
§  Meja mengecap
§  Selongsong slensil
§  Kain putih
§  Bahan pewarna
§  bahan lekar
Proses membuat batik skrin di Malaysia
§  Motif/Pola dibuat, dilukis dan ditentukan skema warnanya pada kertas
§  Pecahan pola/ corak dibuat mengikut warna untuk menentukan jumlah pemidang yang akan digunakan
§  Selongsong stensil yang diisi dengan bahan laker digunakan untuk melukis corak pada skrin mengikut pecahan warna dan reka corak
§  Kain putih yang bersih diregang diratakan diatas meja
§  Skrin diletakkan di atas permukaan kain dengan ditata dengan rapi
§  Bahan pewarna dituang pada bagian ujung skrin
§  Pewarna disapukan dengan lembut dan rata dengan cara menarik atau menolak sekuji
§  Kain yang telah siap dicetak dijemur sehingga kering
§  Proses penguapan dilakukan pada kain supaya wamanya tidak luntur
§  Kain kemudiannya direndam dan dibersihkan di dalam air hangat yang bercampur bio-soft untuk menanggalkan sisa bahan pewarna di samping untukmelembutkan kain dan dijemur.

Canting Batik Macam dan Kegunaannya

Canting Batik dan Bagiannya
Canting berasal dari bahasa Jawa yang berarti alat untuk melukis batik tulis. Canting batik terdiri dari tiga bagian yaitu cucuk, nyamplung dan pegangan. Cucuk atau carat fungsinya seperti mata pena sebagai ujung keluarnya cairan malam (lilin). Supaya keluarnya lebih lancar, ujung cucuk ini ditiup dahulu untuk mendinginkan suhu malam. Nyamplung fungsinya sebagai tempat untuk memasukkan malam panas. Cucuk dan nyamplung terbuat dari tembaga, karena tembaga merupakan material yang baik sebagai penghantar panas.
Bagian canting batik yang ketiga adalah pegangan canting batik yang terbuat dari bambu. Pada umumnya canting batik terbuat dari tembaga, dalam perkembangannya fungsi tembaga digantikan dengan teflon. Bahkan saat ini ada canting batik elektrik yang pemanasnya langsung ke nyamplung canting, jadi tidak perlu di panaskan di dalam wajan.
Bentuk dan bagian-bagian canting batik:
Bagian-bagian Canting Batik
  1. Gagang terong, yaitu tangkai canting batik yang terletak pada bagian belakang untuk ditancapkan pada tangkai yang sebenarnya dan umumnya terbuat dari bambu.
  2. Nyamplungan, yaitu badan utama canting batik dan berbentuk oval agak pipih. Fungsinya untuk menciduk dari tempat cairan malam. Dinamakan nyamplungan karena bentuk dan besarnya menyerupai nyamplung yaitu nama buah-buahan.
  3. Carat/cucuk. Carat atau cucuk terletak pada bagian paling depan dan berbentuk seperti pipa melengkung. Fungsinya untuk jalan keluarnya cairan malam.
Sebagai alat untuk melukis batik, canting batik dibedakan menjadi beberapa macam, canting batik menurut fungsinya, canting menurut besar kecilnya cucuk, dan canting batik menurut banyaknya cucuk atau carat.
1. Canting Batik Menurut Fungsinya
Canting Batik Rengreng
Canting batik ini mempunyai cucuk tunggal dan tidak terlalu besar, diameter 1-2.5 mm. Fungsinya untuk membuat pola pertama pada batik tulis atau terkenal dengan istilah merengreng. Pola pertama atau dasar tidak terlalu rumit karena belum ada isian maupun tembokan atau pulasan pada kain.
Canting Batik Isen
Canting batik isen mempunyai cucuk tunggal dan banyak sesuai dengan motif yang diinginkan, diameter canting ini lebih kecil 0.5-1.5 mm.
2. Canting Batik Menurut Ukurannya
Canting Batik Cucuk Kecil
Adalah canting batik bercucuk kecil digunakan untuk membuat isen pada pola batik yang telah direngreng.
Canting Batik Cucuk Sedang
Canting batik ini digunakan untuk membuat pola pertama sebagai pola dasar dalam pembuatan batik tulis.
Canting Batik Cucuk Besar
Digunakan untuk membuat pola-pola yang berukuran besar. Pola tersebut dipilih untuk membuat perbedaan antara pola utama dan pola tambahan. Tapi tidak semuanya pola diperlakukan seperti itu karena akan memakan waktu yang lebih lama untuk memilih pola yang akan diperbesar. Di daerah Trusmi, Cirebon canting batik ini digunakan untuk membuat tembokan atau pulasan pada kain, biasanya ujung cucuk ditambah dengan balutan kain sehingga diameter yang didapat lebih besar.
3. Canting Batik Menurut Banyaknya Cucuk atau Carat
Canting Batik Cecekan
Canting batik ini tergolong canting isen yang mempunyai carat tunggal. Fungsinya sebagai pembuat titik-titik isen atau isen lainnya seperti isen ukel, pada motif batik.
Canting Batik Loron
Diambil dari kata loro (dua dalam bahasa jawa), yang berarti canting batik ini mempunyai cucuk dua atas dan bawah. Fungsinya untuk membuat garis rangkap pada pola batik seperti batasan pada bogem.
Canting Batik Telon
Canting batik telon mempunyai cucuk tiga berbentuk segitiga sama sisi. Fungsinya untuk membuat pola isen yang berbentuk segitiga.
Canting Batik Prapatan
Bentuk canting batik prapatan cucuknya mempunyai empat buah dengan titik pola segi empat. Fungsinya sama seperti canting batik isen lainnya sebagai pembuat pola isen sehingga menghasilkan pola segi empat.
Canting Batik Liman
Mempunayai cucuk lima dengan titik berbentuk lingkaran. Satu sebagai pusatnya dan keempatnya mengelilingi pusat.
Canting Batik Byok
Canting batik ini cucuknya berjumlah tujuh atau lebih biasanya jumlahnya ganjil. Fungsinya untuk membuat lingkaran
Canting Batik Galaran
Canting batik galaran atau renteng mempunyai mata cucuk yang berbaris dari atas kebawah, jumlahnya empat atau lebih, biasanya berjumlah genap.

Lilin Batik

Lilin Batik
Lilin Batik adalah bahan yang dipakai untuk menutup permukaan kain mori menurut gambar motif batik, sehingga permukaan yang tertutup tersebut menolak atau resist terhadap warna yang diberikan pada kain tersebut. Lilin batik ini bukan merupakan terdiri dari satu macam bahan, tetapi campuran dari berbagai bahan pokok lilin. Sebagai bahan pokok lilin misalnya adalah; Gondorukem, Damar, Matakucing, Parafin (putih dan kuning), Microwax, lemak binatang (kendal, gajih), minyak kelapa, lilin tawon, lilin Lanceng.
Ada tiga jenis lilin batik, yakni lilin klowong untuk nglowong dan ngisen-iseni; lilin tembokan untuk nembok dan lilin biron untuk mbironi. Masing-masing lilin batik digunakan sesuai dengan tahap pembuatan batik, yaitu nglowong dan ngisen-iseni, nembok dan mbironi. Sesuai cara penempelannya, untuk batik tulis digunakan alat yang disebut canting, untuk batik tulis menggunakan canting tulis sedangkan untuk batik cap digunakan canting cap.
Jumlah bahan pokok komposisi dasar suatu lilin batik yang dipakai dan perbandingannya adalah bermacam-macam, menurut pemakaiannya dan pengalamannya masing-masing. Jadi lilin batik itu sudah merupakan kombinasi dari bahan-bahan pokok lilin batik. zaman dahulu dalam pembuatan batik, sebagai penutup kain menggunakan bubur dari ketan dan kain yang dibuat dengan cara ini disebut sebagai kain simbut. Namun setelah ditemukannya lilin cara seperti sudah tidak dipergunakan kembali.
Awal mula pemakainan lilin dalam proses penutup dakian saat membuat motif batik menggunanakan lilin dari tawon atau klanceng. Lilin dari binatang ini menurut orang jawa disebut dengan “malam”, maka lilin batik masih sering disebut pula malam batik. Karena pengalamannya, orang kemudian mencampur malam yang murni dari binatang lebah itu dengan bahan dari tumbuhan seperti Gondorukem dan Damar matakucing.
Kemudian untuk melemaskan dan menurunkan titik lelehnya ditambah lemak atau minyak, lemak binatang atau minyak kelapa. Pada proses pembuatan batik yang terakhir, seluruh lilin batik dihilangkan dengan cara memasukkan kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air panas, sehingga lilin batik tersebut lepas. Setelah air “lorodan” ini dingin, lilin batik menjadi beku kembali dan dapat diambil lagi. Lilin batik yang diperoleh dari “lorodan” ini disebut lilin bekas atau lilin hitam karena warnanya kehitaman. Lilin batik bekas ini dicampurkan kembali pada pembuatan campuran lilin batik baru.

Motif Batik

Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik terdiri dari dua bagian, yaitu ornamen motif batik dan isen motif batik.
 1. Motif Geometris
Motif Geometris adalah motif-motif batik yang ornamen-ornamennya merupakan susunan geometris. Ciri ragam hias geometris ini adalah motif tersebut mudah dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut satu “raport”. Golongan geometris ini pada dasarnya dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:
a. Raportnya berbentuk seperti ilmu ukur biasa, seperti bentuk-bentuk segiempat, segiempat panjang atau lingkaran. Motif batik yang memiliki raport segi empat adalah golongan Banji, Ceplok, Ganggang, Kawung.
b. Raportnya tersusun dalam garis miring, sehingga raportnya berbentuk semacam belah ketupat. Contoh motif ini adalah golongan motif parang dan udan liris.
2. Motif Non Geometris
Motif non geometris adalah motif-motif batik yang tidak geometris. Termasuk dalam motif ini adalah motif Semen, Buketan, Terang Bulan. Motif-motif golongan non geometris tersusun dari ornamen-ornamen tumbuhan, Meru, Pohon Hayat, Candi, Binatang, Burung, Garuda, Ular (Naga) dalam susunan tidak teratur menurut bidang geometris meskipun dalam bidang luas akan terjadi berulang kembali susunan motif batik tersebut.
Keanekaragaman motif batik berakibat pada beranekaragam nama-nama batik. Motif batik merupakan keutuhan dari subyek gambar yang menghiasi kain batik tersebut. Biasanya motif ini di ulang-ulang untuk memenuhi seluruh bidang kain. Membentuk motif secara fisik adalah unsur spot (berupa goresan, warna dan teksture), line (garis) dan mass (massa/berupa gambar) dalam sebuah kesatuan. Kemudian motif tersebut diduplikasikan atau diberi variasi dengan perulangan untuk membentuk pola atau field.
Dalam seni batik di Jawa dikenal beberapa pola untuk menyusun motif batik yaitu :
1. Membentuk garis miring atau diagonal, misalnya bermacam-macam motif parang.
2. Membentuk kelompok-kelompok, misalnya motif-motif ceplok.
3. Membentuk garis tepi (motif pinggiran )
4. Membentuk tumpal atau karangan bunga, misalnya batik Buketan
Pada batik modern dan batik-batik diluar Jawa pola batik lebih variatif atau bebas. Penyusunan motif sering dilakaukan secara simetris maupun asimetris atau dengan cara memadukan bebarapa pola batik tradisional. Secara umum motif batik terdiri dari motif :
Motif Figuratif
Motif figuratif menggambarkan benda-benda sesuai dengan aslinya, misalnya bunga, ikan, buah, binatang dan sebagainya. Penyusunan motif figuratif pada umumnya juga mempertimbangkan ruang atau jauh dekat, warna dibuat mirip aslinya dan lain-lain. Motif ini banyak digunakan pada batik modern dan batik-batik luar Jawa.
Motif Semifiguratif
Jika pada motif figuratif bentuk-bentuk benda yang digambarkan masih kelihatan maka pada motif semifiguratif benda-benda dilakukan stilisasi dan deformasi. Penggambaran benda masih bertujuan untuk menggambarkan filosofi tertentu namun besar kecilnya benda, proporsi, dan perspektif tidak lagi diperhatikan. Pemberian warna juga kebih bebas sehingga penyusunan motif ini lebih bersifat dekoratif. Penggambaran motif semifiguratif dapat secara geometris yaitu mengikuti bentuk-bentuk ilmu ukur misalnya segitiga, segi empat, lingkaran maupun non geometris yaitu masih mengikuti garis-garis objek gambarnya.
Motif Nonfiguratif.
Motif nonfiguratif disebut juga motif abstrak sehingga bentuk-bentuk benda apapun tidak lagi dipersoalkan. Yang diutamakan adalah keindahan motif itu sendiri. Motif abstark dapat berupa garis, massa, spot, isian-isian batik, bidang atau warna yang serasi antara bagian dan keseluruhan maupun bagian dan keseluruhan maupun bagian dengan bagian lainnya.
Para perancang batik memiliki kebebasan dalam menyaring dan memilih motif yang diinginkan. Dalam memilih motif batik yang terpenting adalah ketelitian misalnya dalam memilih motif figuratif perancang perlu memperhatikan detail pemotongan agar objek tetap indah
Macam-Macam Motif Batik
Batik Motif Parang Kusumo
Batik Motif Parang Kusumo
Motif Parangkusumo
Motif Parang Kusumo adalah motif batik yang mempunyai makna pada suatu kehidupan harus dilandasi dengan perjuangan dan usaha dalam mencapai keharuman lahir dan batin. Kata kusuma dalam bahasa jawa kusumo disamakan dengan harumnya bunga (kusuma) pada filsafat jawa. Yang dimaksud adalah kehidupan dalam bermasyarakat yang harus diutamakan adalah membentuk kepribadian yang harum dengan mementingkan norma dan nilai yang berlaku pada masyarakat, berharap dapat menempuh kehidupan yang lahir dan batin dengan kerja keras dari tingkah laku dan pribadi yang baik. Batik Parang Kusumo diutamakan mendapatkan keharuman pada pribadi itu sendiri yang dilandasi pada pencarian lahir dan batin. Kegunaan dari motif ini sebagai kain saat tukar cincin dalam pernikahan, yang diharapkan kehidupan yang harum sempurna lahir dan batin pada pernikahan nanti.
Batik Motif Trumtum
Batik Motif Trumtum
Motif Truntum
Motif batik Truntum adalah motif berdasarkan simbol yang bermakna cinta. Berdasarkan cerita yang dimulai dari Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) dengan makna cinta tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini sebagai simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi dan semakin subur dan berkembang atau disebut juga dengan Tumaruntum. Banyak yang memakai motif ini pada orang tua pengantin pada hari pernikahan, harapanya agar cinta kasih akan menghinggapi kedua mempelai. Dan juga orang tua dapat menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan yang baru.
Batik Motif Kawung
Batik Motif Kawung
Motif Kawung
Motif Kawung adalah sebagai lambang keperkasaan dan keadilan. Corak dari motif ini bulat seperti pada buah Kawung yang seperti buah kelapa atau disebut juga buah Kolang-Kaling yang dibentuk berstruktur dan geometris dan rapi. Beberapa dari motif ini juga diadaptasi dengan bunga lotus dengan empat lembat daun bunga yang merekah yang diartikan dengan bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian. Biasanya motif ini dinamakan sesuai dengan besar kecilnya atau bentuk yang terdapat pada motif tertentu.
Batik Motif Ceplok
Batik Motif Ceplok
Motif Ceplok
Motif Ceplok adalah motif yang didalamnya terdapat gambaran berbentuk lingkaran, binatang, roset dan beberapa variasinya. Gambaran tersebut terletak pada bidang yang dasarnya berbentuk segi empat, lingkaran dan lainya yang berbentuk geometris. Ornament pada corak menggambarkan bunga tampak depan, buah yang dipotong melintang. Bunga dan daun dibentuk secara roset, dan binatang yang tersusun secara melingkar dalam lingkaran atau segi empat. Nama ceplok terbentuk dari beberapa sudut pandang yang berbeda seperti berdasarkan pada ornament yang dipakai seperti ceplok kembang jeruk, ceplok manggis, ceplok salak sategal, ceplok supit urang, ceplok Cakar ayam, ceplok gandosan, ceplok kembang waru, ceplok lung slop, dan sebagainya. Ada juga yang berdasarkan tempat asal dari pembuatan motif tersebut. Dan terakhir berdasarkan nama penciptanya yaitu Ceplok Pubonegoro, Ceplok madu Sumirat, Ceplok Sirat Madu, Ceplok Cokrokusumo.
Batik Motif Tambal
Batik Motif Tambal
Motif Tambal
Motif batik Tambal mempunyai unsur motif yang diadaptasi dari motif ceplok, parang, meru, dll dengan ciri khas kerokan yang pada umumnya digunakan sebagai kain panjang. Filosofi dari motif ini adalah tambal yang artinya sebagai menambah semangat baru, dan masyarakat percaya bahwa bila ada orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, maka sakitnya akan cepat sembuh.


Batik Motif Satwa Wana
Batik Motif Satwa Wana
Motif Satwa Wana
Motif Satwa Wana mempunyai pola Satwa wana yang berarti aneka macam satwa di dalam hutan, yang biasanya terdapat gambar Gajah, Burung Merak, Ayam Alas, Kupu–Kupu, Macan, Rusa, Kambing, Banteng dan lain–lain. Selain binatang terdapat juga tanaman yang disusun secara padat dan detail yang sehingga dapat mengisi hampir seluruh bidang kain.


Batik Motif Parang Sarpa
Batik Motif Parang Sarpa
Motif Parang Sarpa
Motif Parang Sarpa diambil dari kata Sarpa yaitu Ular, simbol yang melambangkan keberanian, kekuasaan, kemegahan, sukses, keamanan, dan kesejahteraan. Dan Parang adalah motif larangan yang biasanya dipakai oleh keluarga kerajaan atau keraton. Kata Parang itu sendiri merupakan simbolisasi dimana tempat raja bersemedi yang berada di sekitar pantai, yang berasal dari kata batu karang.
Batik Motif Semen Rama Latar Sisik
Batik Motif Semen Rama Latar Sisik
Motif Semen Romo Latar Sisik
Motif Semen Romo Latar Sisik ini yang berasal dari Pola Semen dari kata semi-semian, yang menceritakan kehidupan. Didalam motif ini terdapat simbol ketabahan, kekuasaan, matahari, yang digambarkan dalam bentuk sayap (Garuda). Batik Semen Romo ini memuat ajaran Hastha Brata yaitu ajaran pada keutamaan, cerminan, dari sifat darma, adil terhadap sesama, teguh hati, berjiwa luhur, tidak “adigang adigung” dan ada kesaktian melawan musuh. Dengan latar gringsing (pola sisik ular) yang dianggap dapat memberikan umur panjang.
Batik Motif Parang Barong
Batik Motif Parang Barong
Motif Parang Barong
Motif Parang Barong adalah salah satu motif larangan dan bagi kalangan keraton. Motif ini hanya digunakan oleh Raja dan keluarganya. Kata parang inipun berasal dari kata tempat bersemedi raja yang berada disekitar pantai, yaitu “batu karang” dan Barong dalam bahasa jawa yaitu Singa. Pada zaman kekerajaan Parang Barong ini bermotif besar dan biasanya digunakan oleh bangsawan untuk upacara ritual keagamaan dan meditasi karena diangggap sakral. Parang juga merupakan simbol dari sebuah senjata, yang menggambarkan kekuasaan, kekuatan dan kecepatan gerak. Ksatria yang menggunakan motif ini dapat dilambangkan kuat dan gesit.

Batik Motif Sidomukti
Batik Motif Sidomukti
Motif Sidomukti
Motif Sidomukti yang berasal dari kata mukti yang artinya kehidupan yang mulya dan luhur. Yang mempunyai harapan bagi pemakainya agar dapat mencapai kedudukan yang tinggi (luhur) dan diberikan rejeki yang lebih (mulya). Sering dipakai untuk upacara tradisi dan biasanya dikenakan oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai sawitan (sepasang). Batik ini merupakan pengembangan dari Motif Batik Sidomulya latar putih, yang dasarnya digantikan dengan isen – isen latar ukel.
Batik Motif Sri Kuncoro
Batik Motif Sri Kuncoro
Motif Sri Kuncoro
Motif Sri Kuncoro adalah motif batik yang biasa dipakai oleh kerabat kerjaan untuk menghadiri perayaan – perayaan. Pengharapan akan (Kehidupan baru) agar mempunyai nama yang tersohor / terkenal.

Motif Sekar Jagad
Motif Sekar Jagad adalah motif yang berasal dari kata sekar (bunga) dan jagad (dunia) atau puja dunia yang mempunyai makna filosofi kebahagiaan. Sekar jagad biasanya dipakai oleh orang tua pengantin perempuan pada saat resepsi pernikahan yang melambangkan kebahagiaan orang tua yang mendapat anugerah, karena putrinya telah mendapatkan jodoh.


Batik Motif Ceplok Lempeng
Batik Motif Ceplok Lempeng
Motif Ceplok Lempeng
Motif Ceplok Lempeng adalah kain yang beradaptasi dari kain ceplok yang berpola ceplok lempeng, yang terdapat gambar bulatan – bulatan dengan sisi yang berombak – ombak didalamnya yang berisi motif parang rusak. Latar kain berwarna hitam penuh dengan tumbuhan bermotif ukel dan bunga berwarna coklat, gambar bunga berkelopak tujuh di antara bulatan / ceplokan. Keempat sisi kain berwarna putih kosong. Kedua ujung kain dikelim dengan jahitan tangan.

Batik Motif Parang Rusak Seling Huk
Batik Motif Parang Rusak Seling Huk
Motif Parang Rusak Seling Huk
Motif Parang Rusak Seling Huk adalah motif yang termasuk di dalam kategori motif ‘larangan’. Yang hanya dipakai oleh Raja, Permaisuri, dan putera – puteranya. Kata Parang bisa merupakan simbolisasi tempat para raja semedi di sekitar pantai, berasal dari kata “batu karang”. Dalam kain batik ini motif parang diselingi dengan motif burung huk.




Batik Motif Parang Klithik
Batik Motif Parang Klithik
Motif Parang Klithik
Motif Parang Klithik adalah motif yang dipergunakan untuk putri kerajaan. Dalam dongeng pewayangan Dewi Kunti, Ibu Pandawa memakai batik parang klitik yang menyimbolkan perilaku halus dan bijaksana. Motif Parang termasuk motif ‘larangan’ yang biasa dipakai oleh keluarga kerajaan. Kata Parang merupakan simbolisasi tempat para raja semedi di sekitar pantai, berasal dari kata “batu karang”.

Seni Busana Jawa

Busana Abdi Dalem Kraton Yogyakarta
Busana Abdi Dalem Kraton Yogyakarta
Seni busana Jawa bersumber pada seni busana yang ada dikaraton ,dibedakan menjadi dua jenis, yaitu :
1. Seni busana untuk putra
2. Seni busana untuk putri.

A. Seni Busana Putra
Busana putra bagi karaton Surakarta dapat dikatakan sebagai pengagemen kejawen Surakarta atau juga disebut busana Jawi Jangkep. Berdasarkan keperluaannya, busana Jawi Jangkep dibedakan menjadi dua yaitu :
1. Pakaian harian (padintenan) warna bukan hitam
2. Pakaian bukan harian (sanes padintenan) yaitu pakaian untuk upacara dan warnanya selalu hitam.
Adapun yang menjadi kelengkapan busana Jawi Jangkep, khusus bagi busana pria adalah sebagai berikut :
1. Destar (Ikat belangkon) dan kuluk
2. Rasukan krowok artinya berlubang dibelakang sebagai tempat keris, yang jenisnya ada 5 macam :
  • Atelah : kancing baju ditengah dari leher ke bawah
  • Beskap : kancing baju di kanan dan kiri
  • Takwa : seperti beskap yang bagian bawah lancip memanjang
  • Langenharjan : seperti beskap tetapi di depan seperti jas-bukak
  • Sikepan : seperti atelah tetapi kancing baju tidak dimasukkan dan didalam memakai rompi berwarna putih.
3. Sabuk : semacam setagen
4. Epek, timang, dan lerep : semacam ikat pinggang
5. Nyamping : kain
6. Wangkingan atau keris
7. Lambaran suku atau selop/canela
Perlengkapan Busana Jawi Jangkep bagi kerabat karaton ada aturan yang disesuaikan dengan kedudukan dan kepangkatan. Adapun aturan yang dimaksud secara garis besar antara lain sebagai berikut :
1. Dhestar, kuluk
Bagi abdi dalem jajar sampai dengan bupati dhestarnya harus menggunakan kuncung dan mondholannya cekok. Akan tetapi bagi tiya Nginggil sampai dengan Pangeran Putra dhestarnya tidak memakai kuncung dan mondholannya jebehan. Kuluk untuk keperluan khusus misalnya untuk Raja dan Pengantin Karaton.
2. Rasukan Krowok
Bagi abdi dalem jajar sampai dengan bupati, Santana Panji dan Riyo Ngandhap busananya atelah, akan tetapi bagi santana dalem Riyo Nginggil Pangeran Wayah dan Pangeran.
3. Sabuk
Khusus sabuk yang tergolong cindhe hanya untuk raja.
4. Epek
Untuk para pangeran putra, pangeran sentana dan Riyo Nginggil diperkenankan memakai sabuk yang bermotif untu walang berbordir, dan abdi dalem selain itu epeknya polos.
5. Nyamping
Khusus kain yang bermotif lereng hanya boleh dipakai oleh pangeran wayah dan pangeran putra. Bagi abdi dalem motif lereng tersebut tidak diperkenankan memakainya.
Busana Jawi Jangkep yang merupakan tradisi Jawa ini mencerminkan adanya suatu pandangan bahwa: Ajining raga ana busana yang berarti ‘harga diri seseorang dapat tercerminkan pada busana’. Hal yang demikian diperhatikan dalam lingkungan karaton. Hal ini berdasarkan pertimbangan bahwa masalah busana juga termasuk dalam tatakrama.
Untuk busana Jawa ini memiliki prospek yang cerah, sebab bagi masyarakat Jawa khususnya Surakarta, dalam kegiatan upacara adat misalnya upacara perkawinan ada kecenderungan untuk memakai Jawa dan bagi masyarakat ada kebanggaan untuk memakai busana itu.
Keadaan yang demikian dapat dikatakan sebagai usaha melestarikan kebudayaan Karaton Surakarta Hadiningrat.
Sehubungan dengan kelengkapan busana yang telah disebutkan, di Karaton Surakartaada beberapa model busana. Model busana itu merupakan sebuah kostum yang menunjukkan identitas pemakainya.
Adapun model busana yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1. Cothan
2. Chotan Sikepan Cekak
3. Sikepan Cekak
4. Prajuritan Truno Kembang
5. Beskap
6. Beskap Kembang
7. Takwa
8. Dhotdhot Gedhedheran Sikepan Ageng
9. Langenharjan
10. Busana Pengantin Putra Basahan.
Model-model busana tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Putra Cothan
Busana ini dikenakan oleh para putra raja sebelum mereka dewasa pada setiap upacara Pasowanan. Busana ini tanpa baju/bagian atas. Mereka mengenakan pakaian batik berpola parang seperti Parangbarong, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang dan kalung ulur.
2. Busana Cothan Sikepan Cekak
Busana ini dikenakan oleh para pangeran yang memakai Sikepan berwarna putih, rompi putih di bagian dalam, kalung, tanpa dhestar. Busana ini dikenakan untuk mengiringi pengantin pria.
3. Pangeran Sikepan Cekak
Busana ini dikenakan oleh putra raja yang dinobatkan menjadi pangeran. Busana ini juga dikenakan dalam upacara untuk memperingati ulang tahun penobatan sang raja dan dalem upacara pernikahan para putra dan putri raja. Busana ini terdiri atas dhestar, beskap, sikepan dengan rompi, lencana di bagian dalam, kalung ulur, pakaian batik pola parang, ikat pinggang, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang dan boro.
4. Pangeran Prajuritan : Truno Kembang
Dalam kesempatan parade serdadu Karaton, para pangeran mengenakan busana Prajuritan. Busana ini terdiri atas kuluk, sikepan cekak dengan rompi di bagian dalamnya. Busana prajuritan ini dilengkapi dengan kalung ulur, ikat pinggang, kain celup, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang keris dan anggar, pantalon panjen dan cancutan.
5. Pangeran Beskap Kembang
Busan aini dikenakan oleh para pangeran. Busana Beskap Kembang dilengkapi dengan dhestar biru, ikat pinggang, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang. Busana ini dikenakan pada upacara Pasowanan pada malam hari.
6. Putra Dhodhot Gedhedheran Sikepan Ageng
Dhotdhot Gedhedheran dikenakan oleh para pangeran dalem kesempatan Festival Grebeg Mulud. Mereka juga mengenakan Kuluk Mathak, Sikepan Ageng yang disulam dengan benang keemas-emasan, selop, keris, ikat pinggang, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang, kalung ulur, pantalon celup dengan Dhodhot Ageng Gedhedheran. Busan aini juga dikenakan dalam upacara-upacara pernikahan.
7. Putra Langenharjan
Menurut sejarah, busana Langenharjan diciptakan oleh Mangkunegaran VII ketika beliau menghadap Sri Susuhunan Paku Buwana IX di Pesanggrahan Langenharjan. Nam aLangenharjan diberikan oleh Sri Susuhunan Paku Buwana IX pada busana yang diciptakan oleh Sri Paduka Mangkunegara. Dewasa ini busana Langenharjan dikenakan oleh pengantin pria selama upacara Sang-keran. Dalam tradisi perkawinan Jawa, busana ini dikenakan oleh pengantin pria dan dikenal sebagai busana Langenharjan.

B. Seni Busana Putri
Busana Putri bagi karaton Surakarta merupakan busana tradisional Jawa yang mencerminkan putri karaton. Istilah putri karaton ini mengisyaratkan adanya makna keibuan, keanggunan, kelembutan, kesopanan, dan sejenisnya, dan bukanlah mengisyaratkan makna yang sebaliknya. Sama halnya dengan busana putra, busana putri juga disesuaikan dengan kedudukan atau kepangkatan bagi pemakainya.
Kelengkapan busana putri karaton Surakarta adalah sebagai berikut :
1. Ungkel atau sanggul
2. Kebayak
3. Semekan
4. Setagen
5. Januran dan Slepe mirip epek dan timang (busana putra)
6. Kain panjang (sinjang dan dhodhotan) atau nyamping
Kelengkapan busana tersebut pemakainya disesuaikan dengan umur, kepangkatan dan keperluannya. Sehubungan dengan hal tersebut di karaton Surakarta dikenal adanya jenis atau model busana putri sebagai berikut :
1. Sabuk Wala
2. Sabuk Wala Kebayak Cekak
3. Dhodhot Ageng Ngumbar Kunca
4. Semekan kancing Wingking
5. Pincung Kencong
6. Bedhaya Dhodhot Klembrehan
7. Kebaya Cekak
8. Kebaya panjang
9. Busana pengantin Putri Basahan
Model-model busana tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Putri Sabukwala
Busana ini terdiri atas pakaian pola dringin dengan slepe, ukel welah sawelit, cunduk jungkat, cunduk mentul, kalung, anting-anting, gelang dan cincin. Busana ini juga dikenakan untuk mengiringi pengantin wanita.
2. Putri Sabukwala Kebaya Cekak
Busana ini dikenakan oleh para putri raja pada upacara tetesan dan supitan. Para putri raja mengenakn busana ini dengan pakaian Kebaya Cekak gesper penuh hiasan, slepe, ukel welah sawelit, dilengkapi dengan kokar, cunduk Jungkat, cunduk mentul dengan asesoris.
3. Putri Dhodhot Ageng Ngumbar Kunca
Dalam kesempatan Festival Garebeg Maulud di karaton, para putri raja yang sudah menikah mengenakan busana Ngumbar Kunco, konde Ukel Ageng yang dihiasi dengan kembang Banguntulak, dilengkapi dengan borokan, untaian bungan melati, cunduk jungkat, anting-anting berbentuk Brumbungan, kalung, gelang, kain batik celup. Diatasnya dikenakan selendang, ikat pinggang, pending dan slepe.
4. Putri Semekan Kancing Wingking
setiap hari Senin dan Kamis ketika para putri raja menghadap raja, mereka mengenakan busana Semakan Kancing Wingking dan pakaian batik pola parang, misalnya: parang Baris dengan busana semekan pola dringin yang bagian belakangnya dikancing dengan peniti. Konde Ukel Ageng mereka dihiasi daun pandan. Busana ini dikenakan oleh para putri raja ke suatu tempat yang disebut Sangkeran. Untuk upacara pernikahan, mereka mengenakan kalung, gelang, anting-anting, cunduk jungkat, cincin.
5. Putri Pinjung Kencong
Busana ini dikenakan oleh para putri raja yang telah berusia lebih dari 8 tahun, sebelum mereka menginjak dewasa. Para putri raja mengenakan pakaian celup, mekak, dan Ukel Welah Sawelit dilengkapi dengan kokar cunduk jungkat, cunduk mentul dan perhiasan lengkap.
6. Bedhaya Dhodhot Klembrehan (Ampil-ampil Miyos Bakda)
Busana ini dikenakan oleh para pembantu wanita dari pejabat tinggi istana selama upacara besar karaton. Mereka mengiringi raja dan membawa harta milik raja.
7. Putri Kebaya Cekak
Dalam kesempatan mendampingi raja untuk menyambut tamu-tamu penting di Karaton, para putri raja yang masih lajang dan sedang tumbuh dewasa mengenakan kebaya Cekak yang disulam dengan benang keemas-emasan, dilengkapi dengan konde ukel ageng yang dihiasi dengan daun pandan, mengenakan pakaian batik berpola parang (seperti Parangkusumo), kalung, anting-anting, cunduk jungkat, gelang.
8. Putri Kebaya Panjang
Dalam kesempatan Pasowanan besar, para putri raja yang telah menikah mengenakan Kebaya Panjang, konde berbentuk ukel ageng banguntulak, dihiasi bunga melati, borokan asesoros dan cunduk jungkat. Kebaya Panjang ini dilengkapi dengan setumpuk bros, kalung, anting-angting dan gelang. Busana ini juga dikenakan dalam upacara pernikahan.

C. Busana Pengantin
1 Busana Pengantin Pria
Pengatin pria mengenakan pantalon merah dengan pakaian pola alas-alasan, ikat pinggang lebar, gesper ikat pinggang berbentuk biji jagung, kalung ulur dan mengenakan Kuluk Mathak.
2 Pengantin Wanita
Pengantin wanita mengenakan pakaian batik berwarna merah, pada bagian luar mengenakan dodot berpola alas-alasan, konde berbentuk mangkok terbalik dengan krukup, dihiasi dengan kembang melati berbentuk biji ketimun, cunduk metul, asesoris, borokan dan beberapa untaian kembang melati.

BUKU KAMI DI GOOGLE BOOKS

title

BUKU NOVEL KOMEDI ANAK SEKOLAH
 
Support : Batik Tradisional Indonesia | Motif Batik | Keanekaragaman Batik
Copyright © 2013. Batik Tradisional Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by BatikDan
Proudly powered by Blogger