Batik

Pembuatan Batik Tulis
Batik berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa, yaitu "amba" yang berarti menulis dan kata "tik" yang berarti titik. Titik tersebut disebut “cecek” yang artinya bagian penting dari batik. Dalam bahasa jawa batik disebut “trik atau tantik”, yaitu kain yang digambari tampak seperti bentuk titik-titik. Kata ambatik mungkin diterjemahkan selembar kain yang terdiri dari titik-titik berasal dari malam atau zat tertentu. Berdasarkan uraian pendapat di atas, batik dapat dikatakan menghiasi kain mori, katun atau sutera dengan menggunakan lilin atau malam sebagai bahan penolak warna dengan menggunakan alat canting atau sejenisnya, serta melalui beberapa proses sehingga menghasilkan suatu motif batik yang unik dan menarik pada permukaan kain tersebut.
Sejarah Tehnik Batik
Pembuatan Batik Tulis
Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal. Di Indonesia, batik tradisional Indonesia sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan sampai awal abad XX ialah batik tulis, sedangkan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.
G.P. Rouffaer
G.P Rouffaer
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuno membuat batik. G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu. Detil ukiran kain yang menyerupai pola batik dikenakan oleh Prajnaparamita, arca dewi kebijaksanaan buddhis dari Jawa Timur abad ke-13. Detil pakaian menampilkan pola sulur tumbuhan dan kembang-kembang rumit yang mirip dengan pola batik tradisional Jawa yang dapat ditemukan kini. Hal ini menunjukkan bahwa membuat pola batik yang rumit yang hanya dapat dibuat dengan canting telah dikenal di Jawa sejak abad ke-13 atau bahkan lebih awal.
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa. Oleh beberapa penafsir, serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.
Semenjak industrialisasi dan globalisasi memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul dan dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.
Sejarah Perkembangan Batik Tradisional di Indonesia
Batik Belanda Motif Fairy Tale
Seni batik maupun cara pembuatannya sudah dikenal di Indonesia sejak dulu. Namun demikian mengenai asal mula batik masih banyak diperdebatkan. Ada beberapa pihak yang menyetujui bahwa batik Indonesia merupakan bentuk kesenian yang berdiri sendiri dan tidak ada hubungannya dengan batik dinegara lain. Tetapi ada juga beberapa pihak yang mengemukakan bahwa batik diperkenalkan kepada nenek moyang kita oleh kaum pendatang. Pendukung pendapat ini mengemukakan bahwa batik sebenarnya berasal dari Persia dan Mesir, oleh sebab itu cara pembuatan dan penghiasan batik tidak hanya dikenal di Indonesia tetapi juga ada di Thailand, India, Jepang, Sri Lanka dan Batik Malaysia. Terlepas dari kedua pendapat tersebut, sesungguhnya batik memilki latar belakang yang kuat dengan bangsa Indonesia.
Batik Belanda
Batik tradisional Indonesia terus mengalami perubahan seiring dengan pengaruh dan perkembangan jaman. Perkembangan batik diawali pada jaman Belanda yang disebut dengan batik Van Zuylen sebagai orang pertama yang memperkenalkan seni batik kepada seluruh masyarakat di negeri Belanda, yang kemudian disebut sebagai "Batik Belanda”. Batik ini tumbuh dan berkembang antara tahun 1840-1940. Hampir semua Batik Belanda berbentuk sarung yang pada mulanya hanya dibuat masyarakat Belanda dan Indo-Belanda di daerah pesisir (Pekalongan). Batik Belanda sangat terkenal dengan kehalusan, ketelitian dan keserasian pembatikannya. Selain itu ragam hiasnya sebagian besar menampilkan paduan aneka bunga yang dirangkai menjadi buket atau pohon bunga dengan ragam hias burung atau dongeng-dongeng Eropa sebagai tema pola. Paduan sejenis juga dibuat dengan ragam hias Tiongkok atau Jawa dengan warna yang selalu lebih cerah sesuai dengan selera masyarakat Eropa pada masa itu.
Batik Lok Can
Selanjutnya pengaruh budaya Tiongkok juga terdapat pada batik di pesisir utara Jawa Tengah hingga saat ini yang dikenal dengan nama Lok Can. Orang-orang Tionghoa mulai membuat batik pada awal abad ke 19. Jenis batik ini dibuat oleh orang-orang Tionghoa yang menampilkan pola-pola dengan ragam hias satwa mitos Tiongkok (naga dan burung phoenix), ragam hias yang berasal dari keramik Tiongkok kuno, dan ragam hias yang berbetuk mega dengan warna merah atau merah dan biru. Batik Tionghoa juga mengandung ragam hias buketan, terutama batik Tionghoa yang dipengaruhi pola Batik Belanda. Pola-pola batik Tionghoa dimensional, suatu efek yang diperoleh karena penggunaan perbedaan ketebalan dari satu warna dengan warna lain dan isian pola yang sangat rumit. Hal ini ditunjang oleh penggunaan zat warna sintetis jauh sebelum orang-orang Indo-Belanda menggunakannya.
Batik Jawa Hokokai
Pada jaman Jepang dikenal Batik Jawa Baru atau Jawa Hokokai. Batik ini diproduksi oleh perusahaan-perusahaan batik di Pekalongan sekitar tahun 1942-1945 dengan pola dan warna yang sangat dipengaruhi oleh budaya Jepang, walaupun pada latarnya masih menampakkan pola keraton. Batik Jawa Hokokai selalu hadir dalam bentuk “pagi-sore” yaitu batik dengan penataan dua pola yang berlainan pada sehelai kain batik. Batik ini terkenal rumit karena selalu menampilkan isian pola dan isian latar kecil dalam tata warna yang banyak. selain itu ragam warnanya lebih kuat seperti penggunaan warna kuning, lembayung, merah muda dan merah yang merupakan warna yang secara jelas menggambarkan nuansa dan citra Jepang.
Batik Motif Mega Mendung
Perkembangan batik Indonesia sendiri lahir sekitar tahun 1950 yang secara teknis merupakan paduan antara batik keraton dan batik pesisir. Pada perkembangannya batik di Indonesia juga memasukkan ragam hias berbagai suku di Indonesia. Ketekunan serta keterampilan seni dari para pengrajin batik membuat batik Indonesia tampil lebih serasi dan indah. Hal ini disebabkan karena unsur-unsur budaya pendukungnya yang sangat kuat sehingga terwujud perpaduan ideal antara pola batik keraton yang anggun atau pola ragam hias busana adat berbagai daerah di Indonesia dengan teknologi batik pesisiran yang dikemas dalam simfoni warna yang tidak terbatas pada latarnya.
Jenis-Jenis Batik
Menurut macamnya kain batik terdiri atas tiga, yaitu:
Dari ketiga jenis batik tersebut diatas cara pembuatan batik tulis yang paling lama dan rumit, oleh karenanya harga batik tulis lebih mahal dan mempunyai keunikan nilai seni tersendiri.
Sesuai dengan sejarahnya, batik memiliki kandungan makna filosofis tersendiri dalam setiap motifnya. Menurut KRHT. DR. Winarso Kalinggo, terdapat kandungan makna dalam motif:
Dalam tradisi Jawa Keraton kain batik dipakai sebagai busana sehari-hari yang digolongkan dalam dua jenis, yaitu:
v  Kumpuh atau Dodot
Kain jarik dipakai untuk berbusana “Jawi Jangkep” dengan ukuran 1 meter x 2,5 meter, bagian pinggir kain melebar memakai “seret” untuk “wiron”. Batik sebagai busana dalam bentuk kain jarik ini memiliki 8 (delapan) kelengkapan yaitu:
v  Udheng (blangkon)
v  Kulambi (pakaian)
v  Sabuk (ikat pinggang)
v  Epektimang
v  Setagen
v  Kain Jarik
v  Dhuwung (keris)
v  Selop (alas kaki)
Khusus untuk kulambi (baju) terbagi kedalam 3 (tiga) jenis menurut golongan kepangkatan, yaitu :
v  Sikepan
v  Atelah
Tatanan dan Tuntunan Dalam Batik
Dalam tatanannya, batik juga digunakan untuk menentukan usia anak khususnya dalam bentuk pemakaiannya, yaitu :
v  Sabukwala Anak Putra;
Leluhur masyarakat Jawa telah memberikan ajaran atau tuntunan yang dimasukkan kedalam motif-motif kain batik sebagai pegangan dalam kehidupan sehari-hari karena masyarakat Jawa begitu sarat dengan makna-makna simbolis yang diberi doa dan permohonan kepada Tuhan dalam melaksanakan tatacara dan upacara. Demikian pula batik dipakai sebagai sarana dalam kehidupan manusia sejak lahir sampai meninggal dunia, seperti :
Oleh karena di dalam busana adat Jawa tersebut mengandung ajaran moral, etika, kepemimpinan, pengabdian, mistik dan perjodohan, maka dalam berbusana harus diperhatikan masalah :
v  Polatan : Wajah harus “sumeh” atau murah senyum.
v  Wicara : Bertutur kata halus dan menghargai lawan bicara.
v  Solah Bawa : Perilaku, cara berjalan dan pandangan harus sopan.
v  Saradan : Kebiasaan sombong dan kekerasan harus dihilangkan.
v  Patrap : Menghargai sesama, berprasangka baik dan menyenangkan orang lain.
Untuk menunjang kelancaran kegiatan perdagangan dari berbagai jenis batik, Pemerintah telah menentapkan bahwa semua kain batik yang dipasarkan harus memakai merek dan label. Ketetapan ini dimaksudkan untuk melindungi kepentingan baik produsen maupun konsumen. Setiap batik yang dibuat dengan tulis tangan, pada bagian tepinya harus terdapat tulisan “Batik Tulis” dan pada batik cap maka harus pula terdapat tulisan “Batik Cap”. Melalui ketentuan ini diharapkan agar konsumen yang bukan ahli dalam masalah batik tidak akan salah pilih. Begitu pula dengan produsen batik terutama pengusaha kecil yang umumnya pengrajin batik tradisional, diharapkan dapat dilindungi dari ulah para pembajak yang biasanya memiliki modal lebih besar dan lebih kuat.

Baca Selengkapnya»

Batik Pekalongan

Kota Pekalongan
Batik Pekalongan termasuk kesenian batik yang terkenal di Indonesia, bahkan hingga mancanegara sudah mengenal jenis batik dari daerah ini. Dan jika ada salah satu daerah yang dijuluki sebagai Kampung Batik Indonesia maka itu adalah kota Pekalongan. Batik Pekalongan merupakan batik pesisir yang paling kaya akan warna. Batik Pekalongan menggambarkan ciri kehidupan masyarakat pesisir yang mudah beradaptasi pengaruh budaya luar dan juga mampu mengadaptasi pengaruh batik pedalaman.
Sejarah batik Pekalongan tak lepas dari adanya pengaruh baik dari daerah lain maupun pengaruh dari luar. Pengaruh-pengaruh tersebut semakin memperkaya keanekaragaman batik Pekalongan itu sendiri. Hal-hal yang mempengaruhi batik Pekalongan diantaranya adalah:
Pengaruh Kraton Cirebon
Batik Cirebon, Taman Arum Sunyaragi
Awal perkembangan batik yang erat hubungannya dengan pengaruh masa Kesultanan Cirebon terdapat pada batik Pekalongan. Hal ini disebabkan pada abad XV dan XVI Keraton Cirebon merupakan kiblat bagi budaya dan agama bagi penduduk di pesisir utara jawa. Perkembangan batik baik di Cirebon maupun Pekalongan tidak terlepas dari adanya hubungan kultural-lokal yang sumber utamanya bertolak dari sejarah bangunan yang ditunjang komponen pendukungnya. Pola hias batik Cirebon mendapat pengaruh antara lain bentuk ragam hias dari taman Sunyaragi dan keraton Pakungwati, sedangkan Pekalongan lebih banyak ke arah ragam hias dari keramik Tiongkok yang menghiasi Keraton kasepuhan dan makam Raja-raja Cirebon di Gunungjati.
Secara filosofi, para pengrajin batik Pekalongan telah menempatkan hiasan keramik Tiongkok sebagai manifestasi ikatan kebudayaan leluhur yang dalam lukisannya memiliki kefasihan dan kelembutan. Pemilihan ragam hias jenis tumbuhan yang sebagian besar menjadi objek utama dan banyak terdapat pada lukisan keramik Tiongkok. Selain itu ragam hias batik Pekalongan yang berbentuk binatang seperti burung pipit, burung merak, ular naga dan kupu-kupu turut melengkapi ragam hias tumbuhan. Pola-pola batik untuk kepentingan peribadatan mengadaptasi ragam-ragam hias bentuk-bentuk manusia dewa dalam kerajaan langit sesuai kepercayaam agama leluhur yang disebut Tok-Wi(Jenis batik yang digunakan untuk alas altar persembahyangan) orang Tionghoa. Pengaruh batik Cirebon pada perkembangan batik Pekalongan juga nampak pada penghargaan yang diberikan keraton Cirebon terhadap batik Pekalongan khususnya oleh kalangan ningrat Tionghoa. Penghargaan keraton Cirebon terhadap batik Pekalongan nampaknya bukan hanya disebabkan oleh ragam hias dari keramik dinasti Ming namun juga disebabkan oleh ciri khas batik Pekalongan yaitu cara pembuatan yang berbeda dengan cara pembuatan batik di daerah lain khususnya pada masa itu.
Batik Kraton Motif Parang
Pengaruh Kraton Mataram
Wilayah Pekalongan merupakan wilayah kerajaan Mataram maka perjalanan sejarah batik Pekalongan tidak lepas dari pengaruh kerajaan Mataram. Pengaruh batik Keraton atau batik pedalalam terhadap sejarah perkembangan batik Pekalongan secara nyata terjadi setelah Perang Diponegoro atau juga disebut Perang Jawa (1825-1830) di kerajaan Mataram. Terjadinya peperangan ini mendesak keluarga kraton serta para pengikutnya banyak yang meninggalkan daerah kerajaan. Mereka kemudian tersebar ke arah Timur dan Barat. Kemudian di daerah-daerah baru itu para keluarga dan pengikutnya mengembangkan batik. Ke timur batik Solo dan Yogyakarta menyempurnakan corak batik yang telah ada di Mojokerto serta Tulungagung hingga menyebar ke Gresik, Surabaya dan Madura. Sedang ke arah Barat batik berkembang di Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon dan Pekalongan. Produksi batik tidak berhenti walaupun mereka telah tersingkir dari kehidupan kraton sebab batik merupakan sandang yang dipakai sehari-hari sehingga batik merupakan kebutuhan pokok.
Dengan adanya migrasi ini, maka batik Pekalongan yang telah ada sebelumnya semakin berkembang. Seiring berjalannya waktu, Batik Pekalongan mengalami perkembangan pesat dibandingkan dengan daerah lain. Di daerah ini batik berkembang di sekitar daerah pantai, yaitu di daerah Pekalongan kota dan daerah Buaran, Pekajangan serta Wonopringgo. Meskipun ciri-ciri batik Pekalongan motifnya mirip dengan batik Yogya atau batik Solo namun batik Pekalongan sangat bebas dan menarik karena dimodifikasi dengan banyak variasi warna yang atraktif. Banyak dijumpai juga batik Pekalongan yang memiliki banyak warna yang berbeda dengan kombinasi yang dinamis. Warna-warnanya yang mencolok terlihat sangat kontras jika dibandingkan dengan corak batik pedalaman seperti batik Solo dan Jogjakarta. Nama-nama batik Solo dan Jogya sangat bertolak belakang dengan batik Pekalongan yang memiliki beragam warna sesuai karakter masyarakatnya yang terbuka, bebas dan sangat marjinal. Batik Pekalongan menggambarkan ciri kehidupan masyarakat pantai yang mudah mengadaptasi pengaruh budaya luar dan juga mampu mengadaptasi pengaruh batik pedalaman.
Pengaruh Dari Luar
Batik Encim Pekalongan
Perjumpaan masyarakat Pekalongan dengan berbagai bangsa seperti Tiongkok, Belanda, Arab, India, Melayu dan Jepang pada zaman lampau telah mewarnai dinamika pada motif dan tata warna seni batik Pekalongan. Sehubungan dengan itu beberapa jenis motif batik hasil pengaruh dari berbagai negara tersebut yang kemudian dikenal sebagai identitas batik Pekalongan. Motif itu, yaitu batik Jlamprang, diilhami dari Negeri India dan Arab. Lalu batik Encim dan Klengenan, dipengaruhi oleh orang Tionghoa. Batik Belanda, batik Pagi Sore, dan batik Jawa Hokokai, tumbuh pesat sejak pendudukan Jepang. 
Batik Jlamprang diilhami dari India dan Arab. Batik Encim dan Klengenan dipengaruhi dari peranakan Tionghoa. Batik Pagi Sore diilhami dari Belanda dan Batik Jawa Hokokai diilhami dari Jepang. Perkembangan budaya tehnik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain pada batik Pekalongan memang tidak lepas dari pengaruh negara-negara tersebut.
Tinjauan Antropologi Pekalongan
Perkembangan batik Pekalongan tidak sepenuhnya dikuasai pengusaha bermodal besar, akan tetapi bertopang pada ratusan pengusaha kecil dan hampir semua dikerjakan di rumah-rumah. Batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat, dan menjadi salah satu khasanah batik tradisional Indonesia. Penduduk Pekalongan berdasarkan asal keturunan/etnisnya dapat dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu penduduk asli/pribumi, penduduk dari suku bangsa Indonesia yang lain, orang-orang Tionghoa, orang-orang Arab baik yang sudah menjadi WNI maupun yang masih WNA, dan orang asing.
Masyarakat Pekalongan dilihat dari perbedaan etnis terdiri dari tiga kelompok, yaitu kelompok etnis Jawa, Arab dan Tionghoa. 
Etnis Jawa
Kelompok etnis Jawa di bagi ke dalam tiga kelompok sosial yang masing-masing memiliki ciri tersendiri. Tiga kelompok sosial itu yaitu :
Wong kaji
Wong kaji merupakan golongan para haji yaitu orang yang telah melaksanakan ibadah haji, mengunjungi Baitullah (ka‟bah) di Mekkah, melakukan ibadah kepada Allah SWT pada waktu tertentu dengan cara tertentu secara tertib sebagai rukun Islam kelima. Wong kaji berperan dalam kehidupan beragama terutama dalam agama Islam, karena dianggap telah melaksanakan kesempurnaan ibadah rukun Islam. Bagi seorang muslim, ibadah haji merupakan kewajiban bagi yang mampu, sekali seumur hidup. Sehingga seorang muslim akan berusaha semaksimal mungkin untuk dapat melaksanakan kewajiban itu. Kondisi ini merupakan motivasi dan dorongan bagi pengusaha muslim untuk bekerja keras, berhemat, mengatur keuangan, membelanjakan sesuai keperluan, menabung dan penuh perhitungan yang sangat teliti. Posisi wong kaji dalam masyarakat dianggap terhormat karena dianggap orang yang tahu atau alim, berinisiatif membangun kemajuan dan memiliki modal dalam usaha pembatikan.
Wong priyayi
Pada umumnya merupakan orang yang menjabat sebagai pegawai negeri. Wong Priyayi biasanya mempunyai jabatan atau menjadi pegawai negeri dan disegani oleh masyarakt feodal di Pekalongan.
Wong cilik atau wong biasa
Terdiri dari para pekerja atau buruh, meliputi buruh-buruh pada perusahaan tekstil dan pembuatan batik tulis, nelayan, petani dan para tukang. Wong cilik seringkali dihubungkan dengan usaha pembatikan yang termasuk wong cilik adalah pembatik tulis, tukang celup, tukang ketel, tukang colet, tukang lorod, tukang kuwuk, dan pembuat batik cap. Wong cilik di Pekalongan memproduksi batik yang disebut batik Pegon dengan daerah penghasilnya Kalimati, Kletan dan Paesan. 
Etnis Tionghoa
Kelompok etnis Tionghoa di Pekalongan diperkirakan telah menetap sejak abad XVI. Daerah asal mereka adalah Kwantun atau Fukien di daerah Tiongkok  Selatan yang merupakan daerah pantai. Mereka melakukan migrasi karena faktor sosial ekonomis seperti tekanan yang terjadi karena padatnya penduduk di Tiongkok sehingga sulit mendapatkan mata pencaharian. Mereka kemudian melakukan penyesuaian dengan penduduk setempat salah satunya melakukan perkawinan. Dari perkawinan campuran dengan penduduk pribumi, unsur-unsur kebudayaan daerah Pekalongan mempengaruhi tata cara kehidupan sosial mereka. Setelah orang Tiongkok banyak berdatangan ke Pekalongan, pengaruh unsur kebudayaan Pekalongan berkurang terhadap tata cara kehidupan sosial orang Tionghoa.
Pada umumnya orang Tionghoa di Pekalongan menduduki lapisan masyarakat tingkat bawah seperti menjadi tukang, pedagang kecil dan menjadi kuli di berbagai perusahaan. Berdasarkan kepercayaan yang dianutnya, maka orang Tionghoa di Pekalongan umumnya menganut ajaran Kon Fu Tze atau Kristen.
Di Pekalongan, orang-orang Tionghoa pada umumnya telah menjadi warga negara Indonesia atau WNI. Mereka dominan memegang perekonomian terutama dalam bidang perdagangan bahan-bahan untuk pembatikan, pengusaha batik, pengusaha tekstil dan menjalankan berbagai toko.
Etnis Arab
Kelompok etnis Arab diperkirakan datang ada abad XV, bersamaan dengan masa perkembangan pertama agama Islam di Indonesia. Kedatangan orang-orang Arab ke Jawa didorong oleh usaha perdagangan untuk mencari daerah yang memungkinkan usaha mereka berkembang. Dengan mengenal dan mengetahui daerah asal barang yang dibutuhkan diharapkan mereka dapat menjual barang dengan harga lebih murah. Lama kelaman orang-orang Arab menetap di daerah pesisir utara Jawa sebagai daerah yang ramai oleh lalu lintas perdagangan. Pada orang-orang Arab di Pekalongan terdapat kelompok yang menyebut dirinya Hadarom yaitu orang Arab yang berasal dari Hadramaut. Ada juga yang menamakan dirinya Baal-wi sebagai keturunan langsung dari Nabi Muhammmad. Mereka memakai gelar Sayyid atau Habib. Orang Arab yang dilahirkan di Indonesia disebut Mual’at sedangkan orang Arab yang masih menjadi warga negara asing disebut Ulaiti. Orang-orang Arab di Pekalongan memakai sebutan Bin untuk menunjukkan dasar ikatan keluaga yang diambil dari garis keturunan Ayah. 
Orang Arab lebih dapat menyesuaikan diri dengan penduduk setempat karena faktor kesamaan agama dan mereka mempunyai pembawaan untuk dapat menyesuaikan diri kepada kebudayaan lain bila terdapat kesempatan untuk melakukannya. Orang Arab di Pekalongan berpusat di daerah Kampung Arab dan Desa Lego. Kebanyakan bermata pencaharian sebagai pedagang, penjual bahan-bahan pembatikan dan tekstil.
Seperti halnya daerah pantai utara jawa dimana Pekalongan sebagai pusat perkembangan batik. Pelaku perbatikan di Pekalongan di lakukan oleh tiga kelompok yaitu etnis China, etnis Arab dan Belanda.
Ragam Hias Batik Pekalongan
Batik Jlamprang, Batik Pekalongan pengaruh India & Arab
Perkembangan budaya tehnik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain yang kemudian disebut batik, memang tak bisa dilepaskan dari pengaruh budaya-budaya bangsa pendatang seperti Tionghoa, Arab dan India. Ini memperlihatkan konteks kelenturan batik dari masa ke masa. Batik Pekalongan menjadi sangat khas karena bertopang sepenuhnya pada ratusan pengusaha kecil, bukan pada segelintir pengusaha bermodal besar. Sejak berpuluh tahun lampau hingga sekarang, sebagian besar proses produksi batik Pekalongan dikerjakan di rumah-rumah. Akibatnya, batik Pekalongan menyatu erat dengan kehidupan masyarakat Pekalongan yang kini terbagi dalam dua wilayah administratif, yakni Kotamadya Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.
Batik Jlamprang diilhami dari India dan Arab. Batik Encim dan Klengenan dipengaruhi dari peranakan Tiongkok. Batik Pagi Sore diilhami dari Belanda dan Batik Jawa Hokokai diilhami dari Jepang. Perkembangan budaya tehnik cetak motif tutup celup dengan menggunakan malam (lilin) di atas kain, memang tidak lepas dari pengaruh negara-negara tersebut.
Penduduk pribumi yang semula merupakan buruh atau pekerja pada pedagang Tionghoa lambat laun mampu memproduksi batik sendiri bahkan kemudian berkembang tidak hanya menjadi pembatik rumahan tetapi sebagian mampu berkembang menjadi pengusaha batik. Tumbuhnya para pengusaha batik pribumi telah memperkaya ragam hias batik Pekalongan karena mereka menampilkan pola campuran yang memperkaya ragam hias batik asli dari masing-masing budaya. Pertemuan ketiga unsur dari masyarakat pembatikan Pekalongan ini akhirnya menjadi bagian terbesar dari ciri khas batik Pekalongan dengan segala ragam warna-warninya Contoh ragam batik Pekalongan yang merupakan campuran ragam hais adalah ragam hias salur pandan, bunga persik dan bunga rose dengan stirilisasi burung pipit serta burung merak yang bercorak Tionghoa mendapat isen latar pola kawung, gringsing atau parang yang merupakan pola asli tradisional.
Menurut gaya dan seleranya, serta dilihat dari segi ragam hiasnya maupun tata warnanya, batik daerah Pekalongan dapat digolongkan dalam 3 golongan:
Batik Encim
Batik Semarangan  Motif  Kembang Cengkeh
Batik Encim dikenal dengan tatawarna khas Tiongkok, dan sering mengingatkan pada benda-benda porselin Cina. Batik encim Pekalongan tampaknya condong pada tata warna porselin famille rose, famille verte dan sebagainya. Ragam hiasnya dapat digolongan atas tiga jenis ragam hias yaitu :

  • Ragam hias buketan, yang biasanya memiliki tata warna famili rose, famili verte dan sebagainya.
  • Ragam hias simbolis kebudayaan Tiongkok dengan motif seperti burung hong (kebahagiaan), naga ( kesiagaan), banji (kehidupan abadi), kilin (kekuasaan), kupu-kupu dan beberapa lagi.
  • Ragam hias yang bercorak lukisan, seperti arakan pengantin Tionghoa ada pula yang bercorak yang diilhami oleh cerita/dongeng misalnya Batik Sam Pek Eng Tay.
Pemilihan warna yang mencolok dari batik Pekalongan tampaknya tidak sekedar sebagai pelengkap pola hias. Selain pengaruh warna biru putih keramik Tiongkok dari dinasti Ming yang diproduksi abad XVII –XVIII, diproduksi pula batik-batik dengan berbagai warna. Pengkespresian warna ke dalam benda-benda yang memiliki mitos kosmologi itu menerangkan tentang proses penciptaan alam jagad raya yang melibatkan dua kekuatan yaitu ying dan yang.
Batik encim juga mendapat pengaruh dari batik Solo-Jogya antara lain batik Cempaka Mulya yang merupakan kain batik untuk pengantin Tionghoa. Yang menarik lagi adalah penggunaan ragam hias tanahan (latar) batik Encim dari daerah Pekalongan yang dinamakan Semarangan. Yang termasuk ragam hias Semarangan antara lain kembang cengkeh, grindilan dan semacamnya.
Batik Belanda
Motif Buketan Bunga Batik Belanda
Kain batik Pekalongan yang bergaya dan berselerakan Belanda, antara lain batik dari juragan batik E. van Zuylen, Metz, Yans dan beberapa nama 
lagi. Namun yang sangat terkenal adalah batik Van Zuylen. Kebanyakan batik yang bergaya Belanda ini umumnya merupakan kain sarung. Mungkin hal ini dikarenakan kain sarung lebih mudah pemakainnya bagi kaum pendatang. Dalam kelompok batik ini terlihat ragam hias buketan yang biasanya terdiri dari flora yang tumbuh dinegeri Belanda seperti bunga krisan, buah anggur, dan rangkaian bunga Eropa. Dikenal juga ragam hias kartu bridge yang merupakan permainan kartu dari kalangan pendatang barat. Juga terdapat ragam hais berupa lambang bagi masyarakat eropa antaralain cupido (lambang cinta), tapak kuda dan klavderblad (lambang keberuntungan) dan juga ragam hias yang berasal dari cerita / dongeng misalnya putri salju, cinderella dan lain-lain.
Batik Pribumi
Disamping batik yang bergaya Tionghoa dan Belanda ini ada pula batik yang berselerakan pribumi. Batik bergaya pribumi ini umunya sangat cerah dan meriah dalam tata warnanya. Tak jarang pada sehelai kain batik dijumpai 8 warna yang sangat berani, tetapi sangat menakjubkan serta secara keseluruhan sangat menarik. Ragam hiasnya sangat bebas, meskipun disini banyak terlihat ragam hias tradisional batik kraton dari Solo-Yogya seperti ragam hias lar, parang, meru dan lain-lain yang telah mengalami sedikit perubahan dalam gayanya. Ragam hias yang dikembangkan oleh pribumi antara lain Merak kesimpir, Tambal, Jlamprang yang mempunyai kemiripan dengan ragam hias dari Solo-Jogya, ragam hias Terang bulan, dan batik dengan ragam hias tenunan palekat. Beberapa orang yang ikut mengembangkan batik Pekalongan pada jaman sebelum kemerdekaan adalah Ny. Barun Mohammad, Ny.Sastromuljono, dan Ny.Fatima Sugeng.
Perbedaan karakteristik batik Pekalongan juga dapat dilihat dari cara atau tehnik pewarnaan. Ketika daerah lain masih menggunakan tehnik celup (dipping technique) dalam hal pewarnaan, maka selain tehnik tersebut, tehnik melukis (natural brushing technique) juga sudah digunakan oleh para pengrajin. Tehnik pewarnaan ini mulai digunakan semenjak bahan pewarna masuk dalam industri batik di Pekalongan. Sistem melukis ini mempermudah dalam mencapai warna yang dikehendaki pada saat yang bersamaan, sehingga setiap detail ragam hias dapat dilukis dan diwarnai dengan cepat dan sempurna sesuai dengan aslinya. Tehnik pewarnaan dengan menggunakan kuas ini bukan suatu yang baru sebab tehnik tersebut erat kaitannya dengan pengaruh tehnik pewarnaan sutra dan porselin dari bangsa Tiongkok.

Cara Menentukan Kualitas Batik

Presiden Joko Widodo Belanja Batik di Cirebon
Seringkali kita bertanya-tanya bagaimana cara menentukan kualitas batik yang akan kita beli. Kualitas kain batik yang kita beli akan memengaruhi kenyamanan saat memakainya. Semakin bagus kualitas kain batik, maka harganya juga akan semakin mahal. Namun demikian, yang sangat menentukan tinggi rendahnya harga sehelai kain batik adalah tingkat kesulitan proses pembuatannya.
Bagi Anda yang sangat memerhatikan kualitas untuk barang-barang yang digunakan, memilih kain batik berkualitas bagus pasti menjadi suatu hal penting. Berikut beberapa tips yang bisa digunakan saat memilih kain batik.
Jenis Batik
Perhatikan jenis kain batik sebelum membeli, apakah batik tulis atau batik cetak/cap. Biasanya, kain pada batik tulis memiliki kualitas yang lebih baik dibanding batik cetak atau cap.  Di samping itu, harganya pun juga jauh lebih mahal. Hal ini karena dibutuhkan keterampilan saat proses pembuatannya, disamping itu waktu pembuatan dari batik tulis lebih lama dan lebih rumit jika dibandingkan dengan batik cap atau cetak.  Untuk membedakan atara batik tulis atau cap, batik tulis tiap-tiap corak gambar yang ada pada kain berbeda antara satu sama lain, sedang pada batik cetak/cap sama.  Hal ini disebabkan oleh human error saat pencantingan pada batik tulis, dan dari hal inilah yang menjadikan batik tulis lebih bernilai seni tinggi.
Jenis Bahan.
Terdapat lima jenis bahan (kain) dalam pembuatan batik.
A.  Kain Sutera
Sejak jaman dahulu, sutra telah digunakan untuk pakaian yang istimewa. Saat mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra, kita akan merasakan kenyamanan dan kelembutan dari bahan sutra tersebut.
B.  Kain Serat Nanas
Serat nanas teksturnya kasar mirip dobi. Biasanya terlihat sulur-sulur pada kain tersebut dan mengkilap. Hampir semua kain mempunyai tingkatan dari yang paling kasar sampai yang paling halus.Tergantung dari pencampuran bahan dasar pembuatan kain.
C. Kain Paris
Kain Paristeksturnya lembut dan jatuh. Bahannya tipis dengan serat kain yang kuat. Kain paris pun memiliki tingkatan-tingkatan seperti kain-kain yang lain.
D. Kain Katun
Terdapat 3 jenis kain katun yang biasanya digunakan dalam pembuatan batik, dan jika diurutkan berdasarkan kualitasnya maka:
1.  Polisima
2.  Primissima
3.  Prima
Seperti halnya kain katun, kain mori mempunyai beberapa tingkatan berdasarkan kualitasnya; yaitu:
1.  Mori Primissima
2.  Mori Prima
3.  Mori Biru
Kualitas Pewarnaan
Rabalah warna cat yang terdapat pada kain batik. Pastikan warna yang ada di sana tidak menempel pada tangan Anda. Bila warna cat meninggalkan bekas di tangan berarti pewarna kain yang digunakan memiliki kualitas rendah. Hal ini bisa menyebabkan luntur sehingga lambat laun kain batik Anda menjadi pudar.
Kualitas Cetakan
Cobalah untuk membalik bahan kain batik yang akan Anda beli. Kain batik dengan kualitas bagus biasanya memiliki cetakan luar dan dalam yang sama. Jadi, ketika Anda membalik kain batik, motif dan warna yang ada di bagian dalam sama dengan bagian luar. Ini menunjukkan kain tersebut telah melalui proses pembuatan yang detail dan lebih awet ketimbang kain batik yang bagian luar dan dalamnya berbeda.
Disamping beberapa tips diatas, cobalah untuk menempelkan kain batik yang ingin anda beli ke kulit, jika anda merasakan kain terasa dingin jika dikenakan ini artinya bahan batik tersebut merupakan kain dengan kualitas bagus.  Biasanya kain batik jenis ini juga tidak akan mudah kusam meskipun Anda telah mencucinya berkali-kali. Dan juga jangan takut ketika Anda menemukan kain batik yang tampak kaku, karena hal ini memang sering terjadi dan akan melunak sendiri setelah dicuci.
Demikian batikdan menyarikan dari berbagai sumber tentang tips cara menentukan kualitas batik bagi anda, semoga bermanfaat.

Batik Kraton

Batik Parang Kusumo
Pada zaman dahulu, pembuatan batik yang pada tahap pembatikannya hanya dikerjakan oleh putri-putri di lingkungan kraton dipandang sebagai kegiatan penuh nilai kerokhanian yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa dengan dilandasi permohonan, petunjuk, dan ridho Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebabnya ragam hias wastra batik senantiasa menonjolkan keindahan abadi dan mengandung nilai-nilai perlambang yang berkait erat dengan latar belakang penciptaan, penggunaan, dan penghargaan yang dimilikinya.
Batik kraton adalah wastra batik dengan pola tradisional, terutama yang semula tumbuh dan berkembang di kraton-kraton Jawa. Tata susunan ragam hias dan pewarnaannya merupakan paduan mengagumkan antara matra seni, adat, pandangan hidup, dan kepribadian lingkungan yang melahirkannya, yaitu lingkungan kraton.
Pada awalnya pembuatan batik Kraton secara keseluruhan yaitu mulai dari penciptaan ragam hias hingga pencelupan akhir, kesemuanya dikerjakan di dalam Kraton dan dibuat khusus hanya untuk keluarga raja. Seiring dengan kebutuhan wastra batik di lingkungan Kraton yang semakin meningkat, maka pembuatannya tidak lagi memungkinkan jika hanya bergantung kepada putri-putri dan para abdi dalem di Kraton, sehingga diatasi dengan pembuatan batik diluar Kraton oleh kerabat dan abdi dalem yang bertempat tinggal di luar Kraton. Usaha rumah tangga ini berkembang menjadi industri yang dikelola oleh para saudagadan mulai berkembang di luar Kraton dalam bentuk batik Sudagaran dan Batik Pedesaan. Batik Kraton terdapat di Kasunanan Surakarta, Kasultanan Jogjakarta, Pura Mangkunegaran dan Pura Pakualaman. Perbedaan utama dari keempat Batik Kraton terletak pada bentuk, ukuran, patra dan nuansa warna soga (coklat).
Batik Kraton Jogjakarta
Desain Batik Kraton Jogjakarta, Grompol
Jogjakarta sebagai ibukota dan kerajaan di Jawa, dikenal sebagai jantung seni batik. Desain batik Jogja sangat unik yaitu mengembangkan kombinasi beberapa motif geometris.Contoh desain Batik Jogja adalah: Grompol dan Nitik.
Grompol biasa digunakan untuk acara pernikahan. Grompol berarti datang bersama, menyimbolkan kehadiran bersama semua hal yang baik, seperti; nasib baik, kebahagiaan, anak dan perkawinan yang harmonis. Nitik merupakan motif yang banyak ditemui di Jogja. Selama perayaan tahunan kolonial (Jaarbeurs) di masa penjajahan Belanda, seorang produsen batik memberinama Nitik Jaarbeurs untuk motif yang mendapat penghargaan.
Batik Kraton Surakarta
Batik Surakarta: Sawat/Lar
Surakarta atau Solo adalah satu dari dua kesultanan Jawa, dengan segala tradisi dan adat-istiadat kraton yang merupakan pusat kebudayaan Hindu-Jawa. Kraton bukan hanya kediaman raja, tetapi juga pusat pemerintahan, keagamaan dan kebudayaan yang direfleksikan dalam seni daerah, terutama pada ciri batiknya: motif, warna dan aturan-aturan pemakaiannya. Di Solo terdapat beberapa aturan khusus tentang pemakaian batik, meliputi: satus tsosial pemakai dan acara khusus di mana batik harus digunakan dalam hubungannya dengan harapan atau berkah yang disimbolisasi melalui desain batik.
Desain batik Solo juga sering dihubungkan dengan kultur Hindu Jawa, simbol Sawat dari mahkota atau kekuasaan tertinggi, simbol Meru dari gunung atau bumi, simbol Naga dari air, simbol Burung dari angin atau dunia bagian atas dan simbol Lidah Api dari api. Beberapadesain tradisional yang dipakai pada acara-acara penting, misalnya: Satria Manah dan Semen Rante yang dikenakan pada saat acara lamaran pengantin.
Batik Surakarta, Desain Kain Panjang
Desain Kain Panjang dibuat dalam workshop Panembahan Hardjonagoro, Surakarta pada awal 80'an, bermotif kombinasi pengaruh beberapa daerah, tetapi secara keseluruhan gaya dan warnanya tipikal desain Solo. Kain panjang adalah kain dua kali setengah meter, yang digunakan sebagai sarung formal.
Batik Pura Mangkunegaran
Gaya motif Pura Mangkunegaran serupa dengan batik Karaton Surakarta, tetapi dengan warna soga cokelat kekuningan. Meski demikian batik pura Mangkunegaran selangkah lebih maju dalam penciptaan motif. Hal ini tampak dari banyaknya motif batik pura Mangkunegaran. Motif batik pura Mangkunegaran antara lain: buketan pakis (karya Ibu Bei Madusari), sapanti nata, ole-ole, wahyu tumurun, parang kesit barong, parang sondher, parang klithik glebag seruni, liris cemeng (karya Ibu Kanjeng Mangunkusumo).
Batik Pura Pakualaman
Pada awalnya wilayah Pakualaman merupakan bagian dari Kasultanan Yogyakarta. Pada tahun 1813 Kasultanan dibelah menjadi Kasultanan Ngayogjakarta dan Kadipaten Pakualaman sebagai akibat persengketaan antara Kasultanan Yogyakarta dengan Letnan Gubernur Jendral Inggris, Thomas Stamford Raffles. Oleh karena itu unsur budaya dan motif batiknya memiliki bayak persamaan.
Gaya motif pura Pakualaman berubah sejak Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Paku Buwono X. Sehingga kemudian motif batik Pakualaman kemudian tampil dalam paduan antara motif batik Yogyakarta dan warna batik karaton Surakarta. Motif batik Pakualaman diantaranya : candi baruna, peksi manyura, parang barong seling sisik, parang klitik seling ceplok, parang rusak seling huk, sawat manak, babon angrem.
Batik Keraton Cirebon
Cirebon dibawah pemerintahan Sunan Gunung Jati merupakan pusat kerajaan islam tertua di Jawa dan sekaligur merupakan pelabuhan penting dalam jalur perdagangan dari Persia, India, Arab, Eropa dan Cina. Kedua karatonnya, yaitu kasepuhan dan kanoman, menghasilkan batik dengan motif dan gaya yang tidak terdapat di daerah lain. Motif batik cirebon menunjukkan adanya pengaruh budaya Cina. Hal ini tampak pada bentuk penghiasan yang mendatar seperti lukisan ragam hias khas mega dan walasan dalam mega mendung dan wadasan. Beberapa contoh batik lainnya adalah : batik kereta kasepuhan, kapal kandas, peksi naga liman, cerita panji.
Batik Keraton Sumenep
Sumenep terletak di timur pulau Madura yang masih memiliki karaton yang masih terpelihara hingga sekarang. Berbeda dengan batik Madura batik sumeneb berwarna kecokelatan soga, hampir menyerupau batik dari karaton Mataram. Meski demikian juga terdapat batik biru tua, atau hitam dan putih namun dengan tambahan sedikit rona hijau dan merah. Ragam hias sawat dan lar diperkirakan merupakan pengaruh Mataram ketika Mataram menguasai Sumenep. Beberapa contoh batiknya adalah : lar, sekar jagad, lereng, limar buket, carcena lobang.
Batik Pengaruh Kraton
Batik Pengaruh Kraton menampilkan desain perpaduan ragam hias utama batik Kraton Mataram dengan ragam hias khas daerah yang dikembangkan sesuai selera masyarakat, lingkungan alam maupun budayanya.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung, seni dan budaya
Kraton Mataram tersebar luas dan Kraton merupakan pusat kegiatan negara, yaitu pemerintahan, agama dan seni-budaya. Oleh karena itu, batik dibawa serta oleh pengikut-pengikut raja. Beberapa penyebaran batik Kraton diantranya terjadi di Banyumas oleh Pangeran Puger yang masih kerabat Kasultanan Jogjakarta, di Madura pada saat Sultan Agung menaklukan Madura dan di Cirebon pada saat Sultan Agung mempersunting putri Kraton Cirebon, sehingga batik Kraton berkembang di Cirebon, Indramayu, Ciamis, Tasikmalaya dan Garut. Komposisi warna pada batik Pengaruh Kraton sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat sekitar tempat batik tersebut berkembang.

Batik Pesisir

Batik Bakaran-Juwana
Pada zaman penjajahan Belanda, batik dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yakni batik vorstenlanden dan batik pesisir. Yang disebut batik vorstenlanden adalah batik dari daerah Solo dan Yogyakarta, sedangkan batik pesisir adalah semua batik yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo dan Yogyakarta.
Istilah batik "pesisir" muncul karena letaknya berada di daerah pesisir utara pulau jawa seperti Cirebon, Indramayu, Lasem, Bakaran, dan lain sebagainya. Pola yang ada pada batik pesisir lebih bebas dan warnanya lebih beraneka ragam, dikarenakan pengaruh budaya luar yang begitu kuat. Tidak seperti batik keraton, batik pesisir lebih ditujukan sebagai barang dagangan. Di samping itu budaya luar pada batik pesisir sangat mempengaruhi bentuk ragam hias batik-nya terutama pada saat masuknya agama Islam pada abad 16. Ragam flora non figuratif menjadi alternatif dalam motif batik pesisir dikarenakan adanya larangan dikalangan ulama Islam dalam menggambar bentuk-bentuk figuratif.
Dalam sejarah perkembangan batik pesisir mengalami kemajuan sekitar abad ke-19, hal yang menyebabkan kemajuannya adalah karena adanya kemunduran produksi tekstil dari India yang selama itu menjadi salah satu produsen kain terbesar yang dijual ke pulau jawa dan mengakibatkan banyak konsumen beralih ke kain batik.
Puncak perkembangan batik pesisir adalah di masa pengusaha Indo-Belanda yang berperan pada usaha pembatikan. Batik tersebut dikenal dengan nama "Batik Belanda". Selain pengusaha dari belanda pengusaha Tionghoa juga ikut dalam usaha pengembangan batik pesisir.
Batik pesisir memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Ragam hias batik-nya bersifat natural dan mendapat pengaruh kebudayaan asing secara dominan.
- Warna beraneka ragam
Batik pesisir terbagi menjadi delapan model :
1. Batik pesisir tradisional yang merah biru
2. Batik hasil pengembangan pengusaha keturunan, khususnya Tionghoa dan indo Eropa
3. Batik yang dipengaruhi kuat oleh Belanda
4. Batik yang mencerminkan kekuasaan kolonial
5. Batik hasil modifikasi pengusaha Tionghoayang ditujukan untuk kebutuhan kalangan Tionghoa
6. Kain panjang
7. Batik hasil pengembangan dari model batik merah biru
8. Kain adat
Berdasarkan motifnya batik pesisir terdiri dari:

Motif Batik Khas Tiongkok

Batik Tionghoa Sarung Tiga Negeri
Batik Tionghoa adalah jenis batik yang dibuat oleh pengusaha Tionghoa yang kebanyakan hidup di kota pantai utara Jawa. Patra batiknya menampilkan ragam hias satwa mitos Tiongkok seperti naga, singa, burung phoenix atau hong, kura–kura, kilin, dewa dan dewi ataupun ragam hias keramik Tiongkok, serta ragam hias berbentuk mega. Batik Tionghoa yang dipengaruhi patra batik Belanda yang mulai berkembang kurang lebih 10 tahun sebelum batik Tionghoa, juga menggunakan ragam hias bunga dan buket lengkap dengan kupu–kupu dan burung–burungnya. Ada pula patra batik Tionghoa yang menggunakan ragam hias batik Kraton dan warna soga.  Hingga saat ini yang dapat menyamai halusnya batik Belanda adalah batik Tionghoa, baik dalam teknik maupun patra.
Batik Tionghoa Sarung Tiga Negeri
Pada awalnya batik Tionghoa hanya digunakan sebagai pelengkap upacara keagamaan. Oleh karena itu, sebelum 1910 batik Tionghoa hanya berupa Tokwi (kain altar), Mukli (taplak meja besar) dan kain batik untuk hiasan dinding dan umbul-umbul yang warnanya masih terbatas pada warna biru Indigo dan merah Mengkudu. Produk batik Tionghoa ada pula yang berupa sarung, dengan patra mirip patra tekstil atau hiasan keramik Tiongkok, yang pada umumnya mempunyai arti filosofis seperti banji (lambang kebahagiaan) dan kelelawar (lambang nasib baik).
Setelah tahun 1910, patra dan warna dari batik Tionghoa mengalami perubahan karena lebih banyak digunakan sebagai busana.  Perkembangan tersebut juga dipicu dengan keadaan pasar yang dibanjiri oleh batik Belanda. Pedagang Tionghoa memanfaatkan peluang ini dengan membuat batik yang patra dan warnanya cenderung dipengaruhi batik Belanda dan unsur budaya Eropa. Batik Tionghoa  juga dibuat untuk masyarakat pedalaman, dengan menampilkan warna dan patra batik Kraton. Jenis batik ini disebut "Batik Tiga Negri”, karena membuatnya melibatkan tiga daerah pembatikan, yaitu Lasem untuk warna merah, Kudus dan Pekalongan untuk warna biru, dan Surakarta, Jogjakarta dan Banyumas untuk warna coklat.
Batik Tionghoa, Sarung Jawa Hokokai
Batik Tionghoa lain yang sangat khas adalah batik Batik Djawa Hokokai yang menampilkan pengaruh budaya Jepang, baik warna maupun patranya, dan dibuat pada era penjajahan Jepang (tahun 1942 – 1945). Format batiknya dibuat dengan format “pagi–sore”, karena pada satu helai kain terdapat dua macam patra batik pada kedua sisi kain. Patra–patra batik Djawa Hokokai tersusun dari ragam hias bernuansa Jepang misalnya bunga Sakura, bunga Seruni, burung Merak dan kupu–kupu, dan warnanya-pun terdiri dari warna–warna yang merupakan selera orang Jepang.
Meski mengandung kesamaan dalam unsur budaya luar Indonesia, batik Belanda dan batik Tionghoa berbeda dari segi pendekatan rohaniah-nya. Patra dan warna batik Tionghoa masih banyak mengandung makna filosofis. Batik Tionghoa terutama terdapat di daerah pesisir seperti Cirebon, Pekalongan. Lasem, Demak dan Kudus. Batik Tionghoa yang terkenal antara lain karya Oey Soe Tjoen (Kedungwuni – Pekalongan), The Tie Siet, Oey Soen King, Liem Siok Hien dan Oey Koh Sing. Oey Soe Tjoen adalah batik paling dikenal di seluruh dunia karena keindahannya.
Hal yang mendorong munculnya batik-batik dengan ragam hias yang berasal dari budaya Tionghoa adalah cara berpakaian para penduduk di kota-kota pelabuhan yang menggunakan batik diikuti oleh orang-orang Tionghoa , yang wanita menggunakan sarting atau kain batik, sedangkan yang pria menggunakan celana dari bahan batik.
Kehalusan batik Tionghoa dapat dikatakan menyamai batik Belanda, baik dalam teknik maupun pola. Pola-pola batik Tionghoa  lebih dimensional, suatu efek yang diperolah karena penggunaan perbedaan ketebalan dari satu warna dengan warna lain, isen pola yang rurnit, seperti cecek yang ditata dengan berbagai tata susun. Penampilan warna yang luar biasa ini ditunjang oleh penggunaan zat warna sintetis jauh sebelum orang-orang Indo-Belanda menggunakannya.
Batik Lasem Bermotif Naga dan Burung Hong
Batik seringkali menampilkan pola-pola dengan ragam hias satwa mitos Tiongkok, seperti:
- naga
- singa
- burung phoenix (burung Hong)
- kura-kura
- kilin (anjing berkepala singa)
- dewa-dewi
- ragam hias yang berasal dari keramik Tiongkokkuno dan
- ragam hias berbentuk mega dengan warna merah dan biru
- ragam hias buketan atau bunga-bungaan, ter-utama batik Tionghoayang dipengaruhi pola batik Belanda dan menggunakan warna seperti batik Belanda.
Adapun ragam hias yang terdapat pada batik Tionghoatersebut merupakan perlambang atau mempunyai makna khusus, seperti:
Kupu-kupu dan Bebek Mandarin, sering digunakan sebagai simbol cinta abadi. Kupu-kupu dianggap sebagai penjelmaan pasangan Romeo-Julietnya Tionghoa (Sampek-Engtay) maka yang menjadikan bebek mandarin sebagai simbol adalah karena unggas ini hanya memiliki satu pasangan hidup sepanjang hayatnya.
Naga,dipercaya sebagai makhluk penjelmaan dewa. Makhluk ini digambarkan sebagai makhluk supranatural yang baik dan bijak. Selain itu naga pun manjadi simbol laki-laki (Yang), yang melambangkan kesuburan, hujan, di musim semi, dan hujan secara umum. oleh karena itu Naga di timur disebut juga sebagai Qinglong atau naga biru.
Burung Hong, dalam catatan sejarah musim semi dan musim gugur yang ditulis pada abad ke-4 SM, digambarkan bahwa burung hong jantan adalah salah satu simbol negeri yang diperintah oleh raja yang bijaksana. Burung Hong merupakan pemimpin hewan-hewan berbulu, jika penggambarannya bersama dengan naga, maka burung hong merupakan simbol permaisuri yang mendampingi sang kaisar (naga).
Bunga Peony, merupakan lambang dari orang yang dicintai jika digabungkan dengan burung Hong)

Sejarah Penyebaran Batik Jawa, Motif, Ornamen dan Makna

Motif Batik Pada Atap Candi Prambanan
Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik. Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat.  Beberapa ahli berpendapat bahwa batik di tanah Jawa baru diproduksi pada pertengahan abad ke-18, karena pada masa tersebut belum terdapat kain yang diyakini cocok untuk dibatik dengan menerapkan desain rumit. Meskipun demikian, Kata ‘batik’ tercantum dalam rekening muatan kiriman barang pada tahun 1641 dari Batavia (Jakarta) ke Sumatera.
Salah satu referensi sejarah yang merekam budaya batik di tanah Jawa adalah sisa-sisa peninggalan kerajaan Majapahit yang berupa arca. Banyak ragam hiasan pada arca tersebut yang memperlihatkan motif-motif layaknya batik. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa pada masa penciptaan batik, tradisi ini hanya diperuntukan bagi kalangan kerajaan saja, sehingga terkesan terbatas. Namun, seiring berkembangnya zaman, batik yang banyak dikerjakan oleh para pekerja di kalangan kerajaan mulai dibawa ke masyarakat luar. Hal ini dikarenakan banyaknya pekerja di kerajaan yang berdomisili di daerah di luar kerajaan tersebut. Akibatnya, batik mulai dijadikan suatu pekerjaan keseharian bagi masyarakat karena dapat bernilai jual. 
Seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit, tradisi membatik tetap berlanjut di masa penguasaan kerajaan Islam, khususnya pada masa sesudah kerajaan Mataram (1588–1681). Kerajaan Mataram merupakan cikal bakal lahirnya kesultanan Yogyakarta dan kasunanan Surakarta. Kedua daerah ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan batik tradisional Indonesia
Kesultanan Surakarta sebagai salah satu pecahan dari kerajaan Mataram, memiliki motif batik yang khas yaitu Sidomukti dan Sidoluruh.
Motif Sidomukti biasanya diterapkan sebagai pakaian pengantin dalam upacara pernikahan, dengan pengharapan bahwa akan adanya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi sang pengantin yang menggunakan batik tersebut. 
Sementara itu, motif Sidoluhur memiliki makna suatu pengharapan agar si pemakai dapat berhati serta berpikir luhur sehingga dapat berguna bagi masyarakat banyak.
Di Yogyakarta sendiri, batik pertama kali dikenal pada masa kerajaan Mataram I, di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati. Seperti halnya di masa kejayaan Majapahit, batik yang berkembang di masa kejayaan kesultanan Yogyakarta hanya sebatas dikalangan kerajaan saja (keraton). Tradisi membatik dilakukan oleh para abdi dalem (pembantu kerajaan). Selama masa kesultanan tersebut, ada kalanya orang-orang keraton  menggunakan pakaian batik dalam rangka suatu upacara resmi kerajaan. Hal inilah yang menjadi awal mula batik mulai dikenal oleh masyarakat.
Penyebaran sentra industri batik di pulau Jawa sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal:
Perluasan Kerajaan Majapahit
Dalam usaha perluasan wilayah kerajaan Majapahit, beberapa petugas kerajaan dan keluarga kerajaan membawa serta budaya membatiknya ke daerah baru. Seperti yang terjadi di daerah Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo Kabupaten Mojokerto. 
Keruntuhan Majapahit
Pada saat-saat keruntuhan Kerajaan Majapahit banyak keluarga kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke beberapa daerah. Dalam masa pelariannya tersebut, beberapa menularkan ilmu membatiknya kepada warga sekitar sehingga daerah-daerah yang belum mengenal batik bisa mengenal dan memproduksi batik sendiri. Hal ini terjadi di desa Bakaran kecamatan Juwana Kabupaten Pati, dimana terdapat sentra industri batik yang pertama kali dirintis oleh salah seorang keluarga kerajaan Majapahit.
Perang Diponegoro
Setelah perang perang Diponegoro (1825-1830)banyak penduduk di wilayah kerajaan Mataram berpindah tempat. Mereka mencari daerah yang lebih aman dari peperangan, seperti Banyumas, Pekalongan, Kebumen, Tasikmalaya dan Ciamis.
Dengan adanya penyebaran batik ke beberapa daerah di pulau Jawa, semakin memperkaya khasanah batik tradisional Indonesia. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya motif-motif batik baru yang muncul di daerah-daerah tersebut, dimana setiap daerah mempunyai ciri khas dan motif masing-masing.
Berikut ini adalah beberapa motif batik Tradisional Indonesia:
Batik Motif Sido Wirasat
a. Batik Motif Sido Wirasat
Dikenakan pada saat pernikahan oleh orang tua pengantin, mempunyai makna orang tua memberi nasehat pada anaknya.








Batik Motif Parang Kusumo
b. Batik Motif Parang Kusumo
Dikenakan pada saat pernikahan oleh pengantin putri saat prosesi tukar cincin, termasuk jenis motif batik keraton yang mempunyai makna hati yang berbunga-bunga.








Batik Motif Truntum
c. Batik Motif Truntum
Dikenakan pada saat pernikahan oleh orang tua pengantin, termasuk jenis motif batik keraton Surakarta mempunyai makna orang tua memberi tuntunan pada anak.








Batik Motif Kawung
d. Batik Motif Kawung
Salah satu motif batik keraton Surakarta, melambangkan pertumbuhan, perkembangan dan kesuburan.









Batik Motif Sido Mulyo
e. Sido Mulyo
Dikenakan pada saat pernikahan oleh pengantin putra dan putri, termasuk jenis motif batik pengaruh dari keraton Surakarta, mempunyai makna bahagia serta rejeki yang melimpah.







Batik Motif Semen Rante
f. Batik Motif Semen Rante
Dikenakan oleh utusan, termasuk jenis motif batik petani yang mempunyai makna panah dan mengikat.









Batik Motif Wahyu Temurun
g. Batik Motif Wahyu Temurun
Salah satu jens motif batik keraton Surakarta.










Batik Motif Sido Mukti
h. Batik Motif Sido Mukti
Dikenakan oleh pengantin putra dan putri saat proses resepsi atau penghargaan, termasuk jenis motif batik petani yang mempunyai makna bahagia dan berkecukupan.








Batik Motif Sidoluhur
i. Batik Motif Sido Luhur
Dikenakan oleh pengantin putri pada saat malam pengantin, termasuk jenis batik keraton yang mempunyai makna dua jiwa menjadi satu.








Batik Motif Sido Asih
j. Batik Motif Sido Asih
Dikenakan oleh pengantin putri pada saat malam pengantin, termasuk jenis batik keraton yang mempunyai makna dua jiwa menjadi satu.








Batik Motif Bondhet
k. Batik Motif Bondhet
Dikenakan oleh pengantin putri pada saat malam pengantin, termasuk jenis batik keraton yang mempunyai makna dua jiwa menjadi satu.








Batik Motif Sekar Jagad
l. Batik Motif Sekar Jagad
Dikenakan oleh orang tua pengantin, termasuk jenis motif batik petani yang mempunyai makna hati yang gembira. Beraneka ragam motif batik Surakarta, keseluruhannya mempunyai makna tersendiri yang melambangkan kedudukan, perasaan, peristiwa pemakai batik.






Batik Motif Megamendung
m. Batik Motif Megamendung
Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan).











Batik Motif Parang
n. Batik Motif Parang
Motif Batik Parang itu berpola pedang yang menunjukkan kekuatan atau kekuasaan,
karenanya batik bercorak parang diperuntukkan para ksatria dan penguasa.
Kalau berpola pisau belati atau keris , batik bercorak parang boleh dipakai
oleh tiap orang dan dipercaya membawa rizki dan menjauhkan dari
penyakit. Variasinya : Parang Rusak, Parang Barong dan Parang Klitik.


Motif
Dilihat dari mitologi masyarakat Jawa secara keseluruhan, motif batik Jawa mengacu pada unsur alam, masing-masing stilasi (perubahan bentuk dari alamiah ke bentuk baru) mempunyai falsafah yang sama, mulai dari kehidupan air, darat, dan kehidupan udara. Menurut paham Triloka, yaitu faham dari kebudayaan Hindu, unsur-unsur kehidupan tersebut terbagi menjadi tiga bagian, meliputi Alam atas, Alam tengah, Alam bawah, contoh dari ketiga tempat tersebut adalah burung melambangkan Alam atas, pohon melambangkan alam tengah, ular melambangkan alam bawah. 
Ornamen
Ornamen yang berhubungan dengan alam atas atau udara seperti garuda, kupu-kupu, lidah api, burung atau binatang terbang, merupakan tempat para Dewa. Ornamen yang berhubungan dengan alam tengah atau daratan, meliputi pohon hayat, tumbuh-tumbuhan, meru, binatang darat, dan bangunan, merupakan tempat manusia hidup. Ornamen yang berhubungan dengan air seperti perahu, naga (ular), dan binatang laut lainnya merupakan alam bawah sebagai tempat orang yang hidupnya tidak benar. Ornamen-ornamen yang biasa ditampilkan ke dalam motif semen, sawat, dan motif alas-alasan adalah sawat melambangkan matahari, kesaktian, kepekarsaan, meru merupakan tempat Dewa melambangkan kehidupan dan kesuburan, pohon hayat melambangkan kehidupan, burung melambangkan umur panjang, binatang berkaki empat melambangkan keperkasaan dan kesaktian, kapal melambangkan cobaan, damper atau tahta melambangkan tempat Raja, pusaka melambangkan wahyu, kegembiraan, dan ketenangan, naga melmbangkan kesaktian dan kesuburan, kupu-kupu melambangkan kebahagiaan dan kesuburan.
Ornamen utama dari motif batik Yogyakarta yang mempunyai makna simbolis adalah:
  • Meru melambangkan gunung atau tanah yang disebut juga bumi. 
  • Api atau lidah api melambangkan nyala api yang disebut juga agni atau geni. 
  • Ular atau naga melambangkan air atau banyu disebut juga tirta ( udhaka ). 
  • Burung melambangkan angin atau maruta.
  • Garuda atau lar garuda melambangkan mahkota atau penguasa tertinggi, yaitu penguasa jagad dan isinya.
Secara umum ornamen-ornemen yang ada adalah:
  • Ornamen garuda, ornamen ini melambangkan kekuatan dan keperkasaan. Dimana ornamen ini dalam pemakaiannya sering digambarkan dengan bentuk badan manusia dan kepalanya burung garuda. 
  • Ornamen meru, melambangkan atau menggambarkan bentuk puncak
  • gunung tetapi dari penampakan samping. Gunung ini diibaratkan sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa. Motif ini menyimbolkan unsur tanah atau bumi, yang didalamnya terdapat berbagai macam kehidupan dan pertumbuhan. Baik itu kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan.
  • Ornamen lidah api, ornamen ini sering disebut sebagai cemukiran atau modang. Makna ini sering dikaitkan dengan kesaktian dan ambisi untuk mendapatkan apa yang diinginkan karena dalam pemakaiannya digambarkan dengan deretan api.
  • Ornamen ular atau naga, ornamen ini dalam pemakaiannya digambarkan ular yang kepalanya memakai mahkota. Ornamen ini melambangkan kesaktian dan kekuatan yang luar biasa.
  • Ornamen burung, ornamen ini merupakan ornamen utama yang dilambangkan burung merak, phoenix, dan burung yang aneh dan berjengger. Ornamen ini melambangkan kesucian dan dunia atas, karena burung merak ini sebagai kendaraan dewa-dewa.

hay-hay