FEEDBURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Keanekaragaman Batik Tradisional Indonesia

Peragaan Busana Kain Batik Bentenan/Batik Minahasa
Selama ini masyarakat Indonesia lebih mengenal batik dari daerah Jawa Tengah baik itu Pekalongan, Yogyakarta, terutama Solo yang memang dinobatkan sebagai Kota Batik, padahal batik merupakan ciri khas budaya dalam pertekstilan Indonesia karena batik ini dapat ditemukan di berbagai tempat di Indonesia. Seperti Jawa Barat misalnya, bisa ditemukan batik khas Jawa Barat, yaitu batik Pesisir di Cirebon dan Indramayu yang dikenal dengan Batik Trusmi dan Dermayon, atau di daerah priangan yaitu Batik Garutan dari Garut. Di Propinsi lain seperti Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Papua, dan Bali juga dapat ditemukan Batik dengan ragam hias yang berbeda. Berikut ini adalah macam-macam batik-batik dari luar Jawa tersebut:
Batik Kalimantan
Batik Kalimantan
Batik Kalimantan
Selama ini yang terkenal hanyalah motif batik dari pulau Jawa. padahal Kalimantan juga memiliki motif yang tak kalah menarik dan khas. Bila kain Batik Kalimatan Selatan terkenal dengan nama kain Sasirangan, kain batik Kalimantan Tengah terkenal dengan nama Batik Benang Bintiknya. Motifnya pun variatif dengan warna-warna yang memanjakan selera. Motif yang umum adalah Batang Garing (simbol batang kehidupan bagi masyarakat Dayak), Mandau (senjata khas suku Dayak), Burung Enggang/Tingang (Elang Kalimantan), dan Balanga. Warnanya lebih berani seperti shocking pink, hijau stabilo, merah terang, oranye, dan masih banyak lagi.
Sasirangan bagi masyarakat Banjar merupakan warisan budaya turun temurun. Kain ini memiliki nilai adat dan tradisi yang mengikat dikalangan masyarakat Banjar. Proses pembuatan kain sasirangan sejak dahulu hingga kini masih secara tradisional. Masyarakat suku Banjar meyakini bahwa setiap warna memiliki kekuatan magis yang tersembunyi dibaliknya dan dapat dijadikan sebagai sarana penyembuhan. Oleh sebab itu pemberian warna pada kain sasirangan selalu dibuat sesuai dengan tujuan tertentu, yakni sebagai sarana pelengkap dalam terapi pengobatan. Tidak hanya itu, beragam corak atau motif yang terdapat pada kain sasirangan juga dipercaya memiliki fungsi yang berbeda satu sama lain dalam ritual upacara adat Suku Banjar. Seperti untuk pengobatan orang sakit (ghaib), ikat kepala adat Banjar (laung), kerudung (kakamban), sarung atau jarik untuk perempuan (tapih bahalai), serta ikat pinggang (babat).

Batik Papua
Batik Papua
Batik Papua
Bila dibandingkan dengan batik Jawa, batik Papua mempunyai corak yang cukup mencolok. Batik Papua pada umumnya berwarna cenderung lebih gelap dengan motif yang kebanyakan berpola patung. Lambang-lambang yang dikeramatkan dan ukiran khas Papua juga menjadi ciri khas batik asal daerah berpanorama indah tersebut. Salah satu batik Papua yang dikenal masyarakat luas adalah batik motif asmat yaitu simbol patung-patung kayu suku Asmat. Batik ini mempunyai ciri-ciri yang sangat khas, antara lain, warnanya lebih cokelat dengan campuran warna tanah dan terakota (merah kecokelat-cokelatan). Soal pemilihan motif batik Papua banyak menggunakan simbol-simbol keramat dan ukiran khas Papua. Cecak atau buaya adalah salah satunya,selain tentu lingkaran-lingkaran besar.
Sebenarnya masih banyak motif batik Papua lain yang dapat ditemui di pasaran contohnya motif burung cendrawasih, motif kamoro (atau simbol patung berdiri), motif sentani dengan ciri gambar alur batang kayu yang melingkar-lingkar dengan jenis warna hanya satu atau dua warna dan ada pula motif yang divariasi dengan sentuhan garis-garis emas dan dijuluki batik prada. Keunikan motif batik Papua membuatnya dilirik banyak orang, mulai dari konsumen lokal hingga internasional. Hal itu dinilai wajar sebab batik Papua tak hanya melambangkan budaya masyarakat sekitar saja tapi juga menorehkan unsur sejarah dan arkeolog di dalamnya. Karenanya, batik khas daerah paling timur Indonesia ini layak dilestarikan dan dibimbing untuk bisa bersaing dengan aset nasional lainnya.
Batik Padang
Batik Tanah Liek, Padang-Sumatra Barat
Batik Tanah Liek, Padang-Sumatra Barat
Batik Padang atau dalam bahasa Minangkabau disebut batik tanah liek (tanah liat) adalah jenis kain batik yang berasal dari Minangkabau. Dinamakan batik tanah liat karena batik ini menggunakan tanah liat dalam proses pewarnaannya. Motif batik Padang antara lain motif kaluak paku, motif pucuk rebung, motif rangkiang, dan lain-lain. Pemakaian batik tanah liek dahulu hanya digunakan untuk acara-acara adat dan dipakai oleh para pemuka adat saja sedangkan sekarang sudah bisa digunakan oleh masyarakat pada umumnya.
Pemakaian batik tanah liek dahulu hanya digunakan untuk acara-acara adat. Dulu pemuka adat seperti Datuak (penghulu atau kepala adat), Bundo Kanduang (pemimpin wanita di Minang), raja-raja kecil di Sungai Pagu, Solok, Jambu Lipo. Punjung. Sawah Lunto, dan Sijujung memakai batik ini. Biasanya batik ini dipakai sebagai perlengkapan adat, bisa berupa selendang atau saluak/peci. Para Datuak memakai selendang dengan melingkarkannya di leher, sedangkan untuk kaum wanita melampirkan selendang itu di bahu dengan ujung kain pertama dililit dua kali di bahu kiri dan ujungnya disampirkan di tangan kanan melalui bagian belakang badan.
Batik Padang memiliki ciri khas unik dalam pemilihan corak dan warnanya. Media pewarna dasar kain berupa tanah liat dengan cara merendam dasar kain yang belum dibubuhi motif batik kedalam larutan tanah liat. Perendaman ini bisa memakan waktu lebih dari satu hari untuk mendapatkan ketahanan warna ttanah yang menyatu dengan kain. Setelah itu, kain dicuci bersih lalu proses pembatikan. Warna Batik Padang kebanyakan hitam, kuning, merah ungu. Keterbatasan warna karena batik ini menggunakan tanah liat sebagai pewarna. Terkadang Batik Padang menggunakan pewarna alam dan juga pewarna sintetis. Motif-motif Batik Padang, diantaranya yaitu motif kaluak paku, motif pucuk rebung, motif rangkiang, motif itik pulang patang, motif parang rusak, motif tumbuhan merambat atau akar berdaun, keluk daun pakis, dan lain-lain. Ada beberapa motifnya yang menyerupai atau sama dengan Batik Banyumas, Indramayu, Solo, dan Jogja.
Batik Minahasa
Kain Bentenan/Batik Minahasa
Kain Bentenan/Batik Minahasa
Kain Bentenan merupakan kain tradisional hasil karya Suku Minahasa yang ada sekitar abad ke-7, pada awalnya kain ini berbahan dasar dari serat kulit kayu yang disebut fuya, diambil dari pohon lahendong dan pohon Sawukouw, serta Nenas dan Pisang, disebut koffo dan serat bambu disebut wa’u yang kemudian dilakukan proses tenun secara tradisional. Sekitar abad ke-15, orang Minahasa mulai menenun dengan benang katun dan hasil tenunan inilah yang dinamakan Kain Batik Bentenan. Dari Desa Bentenan yang terletak di Pantai Timur Minahasa Tenggara (distrik Pasan, Ratahan, Ponosakan dan Tonsawang) inilah, kain batik Bentenan pertama. Ditemukan dan terakhir ditenun di daerah Ratahan pada tahun 1900.
Kain Bentenan memiliki tujuh motif, yaitu :
  • Tonilama (tenun dari benang putih, tidak berwarna dan merupakan kain putih),
  • Sinoi (tenun dengan benang warna warni dan berbentuk garis-garis),
  • Pinatikan (tenun dengan garis-garis motif jala dan bentuk segi enam, merupakan yang pertama ditenun di Minahasa),
  • Tinompak kuda (tenun dengan aneka motif berulang),
  • Tinonton mata (tenun dengan gambar manusia),
  • Ka’iwu patola (tenun dengan motif tenun Patola India),
  • Kokera (tenun dengan motif bunga warna-warni bersulam manik-manik).
Kain Bentenan yang asli saat ini bisa dilihat di Museum Nasional Jakarta, Museum Tropenmuseum, Amsterdam, Museum voor Land-en Volkenkunde, Rotterdam, Museum fur Volkenkunde, Frankfurt-am-Main, Jerman, Ethnographical Museum, Dresden, dan Indonesisch Ethografisch Museum. Kain Bentenan adalah pusaka terkubur dari Minahasa yang menuntut diselamatkan oleh generasi penerus yang peduli. Kain Bentenan telah lama menghilang dari kehidupan masyarakat Minahasa, bahkan di desa Bentenan, Sulawesi Utara pun sudah tidak dapat ditemui lagi orang yang mampu menenun kain itu. Atas prakarsa dari HIMSA (Himpunan Seni dan Budaya Minahasa) untuk pertama kali kain bentenan asli dibawa keluar Museum Nasional kembali ke Minahasa dengan kawalan langsung Ketua Museum Nasional saat itu. Kain tenun Bentenan asli motif Kaiwu Patola tersebut dipamerkan di kampus Universitas Sam Ratulangi pada 10-12 Juni 2005.
Melihat respon masyarakat, Yayasan Karema (Kreasi Masyarakat Sulawesi Utara), yang merupakan pengganti HIMSA, yang berdiri pada tanggal 3 November 2006, kemudian memproduksi kain Bentenan dalam bentuk print (dicetak) guna memenuhi kebutuhan masyarakat umum.
Batik Maluku
Batik Maluku
Batik Maluku
Batik Maluku memiliki ciri khas yaitu bermotif pala cengkih parang dan salawaku (senjata khas Maluku) serta jenis alat musik. Batik Maluku yaitu motif cengkeh gugur motif khas pulau Seram alat musik debur ombak dan budaya. juga beragam dari warna yang terang kalem biru laut bahkan. digunakan juga beragam yaitu kain katun. juga warga luar daerah juga minat. batik ini berasal dari Kalimantan Papua Jakarta bahkan Belanda. Maluku merupakan persembahan warga Maluku untuk menghadirkan ragam hias khusus yang digali dari adat budaya lama negeri-negeri di Tanah. ini dirancang dengan memadukan etnik tradisional dan teknik desain modern untuk tampilan yang lebih elegan dan kontemporer namun tetap dikerjakan secara tradisional sekali.
Para Pengrajin Batik Maluku selalu melakukan upaya agar batik khas Maluku ini bisa dikenal dan diterima oleh semua masyarakat maluku. Sebuah Upayanya yaitu melakukan pendekatan ke pemerintah daerah selain itu juga mengikuti pameran tingkat nasional di Jakarta serta menggelar pameran di Ambon maluku. Para Pemerintah daerah dapat membantu pihaknya dan pengusaha batik untuk mensosialisasikan Batik Maluku kepada PNS maupun para tamu yang berkunjung di daerah tersebut. instansi di pemerintah provinsi Pemkot Ambon dan kabupaten juga telah menggunakan batik bunga cengkih pada hari Kamis dan Jumat siang. Urun serta Perhatian pemerintah untuk menjadikan hari Kamis dan Jumat berpakaian batik dapat meningkatkan pendapatan pelaku usaha serta melestarikan budaya daerah melalui batik maluku.
Batik Nusa Tenggara
Batik Sasambo - Nusa Tenggara
Batik Sasambo - Nusa Tenggara
Daerah Nusa Tenggara juga memiliki batik dengan motif khasnya sendiri. Contohnya adalah batik Sasambo yang dijadikan sebagai pakaian batik resmi lokal NTB. Di NTT, juga terdapat batik. Bahkan setiap pulaunya bisa menghasilkan batik dengan keunikan masing-masing. Pulau Sumba misalnya batik tenunnya khas dengan motif hewan. Pulau Rote khas dengan motif daunnya.
Batik itu warisan budaya Nusantara. Seandainya kita tidak terpisah oleh penjajah, Malaysia itu juga termasuk nusantara. Kita itu dengan mereka dulunya satu. bedanya Malaysia dijajah Inggris, Indonesia dijajah Belanda. Tapi kita dengan mereka berbagi warisan budaya yang berakar dari leluhur yang sama. Seperti motif Batik Sumatera berbeda dengan motif batik Jawa dan motif Batik Papua, seperti itu juga bedanya motif batik Malaysia dengan motif batik Indonesia.

Motif Batik Khas Tiongkok

Batik Encim Pekalongan
Batik Tionghoa adalah jenis batik yang dibuat oleh pengusaha Tionghoa yang kebanyakan hidup di kota pantai utara Jawa. Patra batiknya menampilkan ragam hias satwa mitos Tiongkok seperti naga, singa, burung phoenix atau hong, kura–kura, kilin, dewa dan dewi ataupun ragam hias keramik Tiongkok, serta ragam hias berbentuk mega. Batik Tionghoa yang dipengaruhi patra batik Belanda yang mulai berkembang kurang lebih 10 tahun sebelum batik Tionghoa, juga menggunakan ragam hias bunga dan buket lengkap dengan kupu–kupu dan burung–burungnya. Ada pula patra batik Tionghoa yang menggunakan ragam hias batik Kraton dan warna soga.  Hingga saat ini yang dapat menyamai halusnya batik Belanda adalah batik Tionghoa, baik dalam teknik maupun patra.
Batik Tionghoa Sarung Tiga Negeri
Batik Tionghoa Sarung Tiga Negeri
Pada awalnya batik Tionghoa hanya digunakan sebagai pelengkap upacara keagamaan. Oleh karena itu, sebelum 1910 batik Tionghoa hanya berupa Tokwi (kain altar), Mukli (taplak meja besar) dan kain batik untuk hiasan dinding dan umbul-umbul yang warnanya masih terbatas pada warna biru Indigo dan merah Mengkudu. Produk batik Tionghoa ada pula yang berupa sarung, dengan patra mirip patra tekstil atau hiasan keramik Tiongkok, yang pada umumnya mempunyai arti filosofis seperti banji (lambang kebahagiaan) dan kelelawar (lambang nasib baik).
Setelah tahun 1910, patra dan warna dari batik Tionghoa mengalami perubahan karena lebih banyak digunakan sebagai busana.  Perkembangan tersebut juga dipicu dengan keadaan pasar yang dibanjiri oleh batik Belanda. Pedagang Tionghoa memanfaatkan peluang ini dengan membuat batik yang patra dan warnanya cenderung dipengaruhi batik Belanda dan unsur budaya Eropa. Batik Tionghoa  juga dibuat untuk masyarakat pedalaman, dengan menampilkan warna dan patra batik Kraton. Jenis batik ini disebut "Batik Tiga Negri”, karena membuatnya melibatkan tiga daerah pembatikan, yaitu Lasem untuk warna merah, Kudus dan Pekalongan untuk warna biru, dan Surakarta, Jogjakarta dan Banyumas untuk warna coklat.
Batik Tionghoa, Sarung Jawa Hokokai
Batik Tionghoa, Sarung Jawa Hokokai
Batik Tionghoa lain yang sangat khas adalah batik Batik Djawa Hokokai yang menampilkan pengaruh budaya Jepang, baik warna maupun patranya, dan dibuat pada era penjajahan Jepang (tahun 1942 – 1945). Format batiknya dibuat dengan format “pagi–sore”, karena pada satu helai kain terdapat dua macam patra batik pada kedua sisi kain. Patra–patra batik Djawa Hokokai tersusun dari ragam hias bernuansa Jepang misalnya bunga Sakura, bunga Seruni, burung Merak dan kupu–kupu, dan warnanya-pun terdiri dari warna–warna yang merupakan selera orang Jepang.
Meski mengandung kesamaan dalam unsur budaya luar Indonesia, batik Belanda dan batik Tionghoa berbeda dari segi pendekatan rohaniah-nya. Patra dan warna batik Tionghoa masih banyak mengandung makna filosofis. Batik Tionghoa terutama terdapat di daerah pesisir seperti Cirebon, Pekalongan. Lasem, Demak dan Kudus. Batik Tionghoa yang terkenal antara lain karya Oey Soe Tjoen (Kedungwuni – Pekalongan), The Tie Siet, Oey Soen King, Liem Siok Hien dan Oey Koh Sing. Oey Soe Tjoen adalah batik paling dikenal di seluruh dunia karena keindahannya.
Hal yang mendorong munculnya batik-batik dengan ragam hias yang berasal dari budaya Tionghoa adalah cara berpakaian para penduduk di kota-kota pelabuhan yang menggunakan batik diikuti oleh orang-orang Tionghoa , yang wanita menggunakan sarting atau kain batik, sedangkan yang pria menggunakan celana dari bahan batik.
Kehalusan batik Tionghoa dapat dikatakan menyamai batik Belanda, baik dalam teknik maupun pola. Pola-pola batik Tionghoa  lebih dimensional, suatu efek yang diperolah karena penggunaan perbedaan ketebalan dari satu warna dengan warna lain, isen pola yang rurnit, seperti cecek yang ditata dengan berbagai tata susun. Penampilan warna yang luar biasa ini ditunjang oleh penggunaan zat warna sintetis jauh sebelum orang-orang Indo-Belanda menggunakannya.
Batik Lasem Bermotif Naga dan Burung Hong
Batik Lasem Bermotif Naga dan Burung Hong
Batik seringkali menampilkan pola-pola dengan ragam hias satwa mitos Tiongkok, seperti:
- naga
- singa
- burung phoenix (burung Hong)
- kura-kura
- kilin (anjing berkepala singa)
- dewa-dewi
- ragam hias yang berasal dari keramik Tiongkokkuno dan
- ragam hias berbentuk mega dengan warna merah dan biru
- ragam hias buketan atau bunga-bungaan, ter-utama batik Tionghoayang dipengaruhi pola batik Belanda dan menggunakan warna seperti batik Belanda.
Adapun ragam hias yang terdapat pada batik Tionghoatersebut merupakan perlambang atau mempunyai makna khusus, seperti:
Kupu-kupu dan Bebek Mandarin, sering digunakan sebagai simbol cinta abadi. Kupu-kupu dianggap sebagai penjelmaan pasangan Romeo-Julietnya Tionghoa (Sampek-Engtay) maka yang menjadikan bebek mandarin sebagai simbol adalah karena unggas ini hanya memiliki satu pasangan hidup sepanjang hayatnya.
Naga,dipercaya sebagai makhluk penjelmaan dewa. Makhluk ini digambarkan sebagai makhluk supranatural yang baik dan bijak. Selain itu naga pun manjadi simbol laki-laki (Yang), yang melambangkan kesuburan, hujan, di musim semi, dan hujan secara umum. oleh karena itu Naga di timur disebut juga sebagai Qinglong atau naga biru.
Burung Hong, dalam catatan sejarah musim semi dan musim gugur yang ditulis pada abad ke-4 SM, digambarkan bahwa burung hong jantan adalah salah satu simbol negeri yang diperintah oleh raja yang bijaksana. Burung Hong merupakan pemimpin hewan-hewan berbulu, jika penggambarannya bersama dengan naga, maka burung hong merupakan simbol permaisuri yang mendampingi sang kaisar (naga).
Bunga Peony, merupakan lambang dari orang yang dicintai jika digabungkan dengan burung Hong)

Cara Membedakan Batik Tulis, Batik Cap dan Batik Printing

Memiliki batik bukan berarti hanya sekadar punya, tapi juga mengenal. Bisa dimulai dengan mengetahui, mengidentifikasi, mencari tahu asal-usulnya, sebagaimana mengenali pasangan kita. Mari kita berkenalan dengan tiga jenis batik berdasarkan teknik pembuatannya, yakni batik tulis, cap dan print. Bagaimana mengenali perbedaan antara tiga jenis batik?
Tidak banyak yang tahu, kapan tepatnya teknik merintang warna diatas kain dengan menggunakan malam yang kemudian disebut batik pertama kali masuk ke Indonesia. Konon, teknik ini dibawa oleh anak buah kapal Laksamana Ceng Ho yang bernama Binang Oen. Namun, menurut Robyn Maxwell dalam bukunya “Textiles Of South East Asia: Tradition, Trade And Transformation”, batik mungkin baru berkembang di abad ke XVII. 
Semua punya teorinya sendiri. Batik tulis disebut “batik tulis” karena perintang warnanya dibubuhkan dengan cara seperti menulis dengan menggunakan alat bernama canting.
Ciri-ciri:
  • Tidak ada satu pun batik tulis yang kembar, semua dibuat hanya satu setiap lembar. Motif biasanya lebih rumit.
  • Karena dibuat dengan tangan, tidak ada satu pun yang motifnya sempurna. Justru ketidaksempurnaan inilah yang membuat batik tulis sangat manusiawi.
  • Bolak-balik, warna dan motifnya sama. Hal ini dikarenakan, setelah bagian depannya dicanting, bagian baliknya kemudian harus dicanting lagi.
  • Memiliki ukuran yang tidak biasa misalnya 2 x 1,25 meter persegi.
  • Kalau batik kuno, biasanya ada inisial tulisan tangan nama pembatik di ujung kain.
Pembuatan Batik Cap
Batik cap mulai berkembang di Indonesia setelah meningkatnya permintaan terhadap kain batik di pertengahan abad XIX. Pada saat itu produsen batik mulai mencari cara untuk bisa memproduksi batik dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat. Dari sini kemudian dibuatlah lempengan besi dengan motif batik untuk membubuhkan malam pada permukaan kain mori. Lempengan besi ini kemudian berfungsi seperti “stempel” yang dicapkan ke atas kain. Sehingga batiknya kemudian disebut sebagai batik cap.
Ciri-ciri:
  • Motifnya cenderung berulang, tidak banyak detail.
  • Bolak-balik warnanya tidak sama, bagian belakang cenderung memiliki warna yang lebih redup atau tipis.
  • Karena sudah masuk produksi massal, kualitas bahan umumnya tidak terlalu baik.
  • Dijual per lembar dengan ukuran standart kain potong.
  • Kain mori yang digunakan biasanya tidak melalui proses perebusan berhari-hari seperti batik tulis. 
Pembuatan Batik Printing Dengan Mesin
BATIK PRINT
Batik printing atau yang bisa juga disebut sebagai kain tekstil bermotif batik. Muncul di Indonesia tahun 1970-an seiring penetapan batik sebagai pakaian nasional.
Kain tekstil bermotif batik ini awalnya diproduksi oleh industri tekstil lokal, namun karena permintaan yang semakin banyak akhirnya batik print ini juga diproduksi oleh pabrik luar negeri. Hal inilah yang kemudian dikhawatirkan akan mematikan industri kerajinan batik lokal.
Ciri-ciri:
  • Motifnya sangat detail dan rapi, sangat rapi bahkan.
  • Warnanya cerah dan sangat menarik.
  • Bagian belakang berwarna putih, dengan sedikit tembusan-tembusan warna dari bagian mukanya.
  • Harganya sangat murah.
  • Biasanya dijual meteran.
Tidak sulit kan membedakan batik tulis, cap dan print? Hanya butuh latihan. Semakin sering kita bersentuhan dengan kain batik, memakainya dan berdialog dengan pedagang serta pembuatnya, semakin ahli kita mengidentifikasi kain batik.

Kain Jarik

Jarik adalah kain panjang berwarna latar hitam dengan corak batik warna coklat dengan motif batik yang beraneka ragam.  Kain sebagai khasanah Batik Tradisional Indonesia seringkali disebut juga jarit.  Pada masa lalu nyamping atau jarik yang digunakan biasanya berupa batik tulis, tetapi  untuk saat ini rupanya tidak jarang pula dipergunakan batik cap.
Jarik yang bercorak batik mempunyai maksud bahwa jarik batik adalah kostum yang dipakai para kesatria dalam tradisi budaya Jawa (Pakaian kejawen). Dengan memakai kostum berupa jarik ini diharapkan para pemain mempunyai jiwa ksatria dan berwibawa.

Batik Pagi Sore

Batik Pagi Sore
Batik Pagi Sore
Kain batik pagi-sore, yaitu kain batik yang terbagi dua oleh dua motif yang bertemu di bagian tengah kain secara diagonal. Desain penempatan motif batik seperti ini telah ada pada tahun 1930 di Pekalongan. Desain batik pagi-sore sangat populer pada jaman penjajahan Jepang karena pada waktu itu karena sulitnya hidup, untuk penghematan, pembatik membuat kain batik pagi-sore. Satu kain batik dibuat dengan dua desain motif yang berbeda. Sehingga jika pada pagi hari kita menggunakan sisi motif yang satu, maka sore harinya kita dapat mengenakan motif yang berbeda dari sisi kain yang lainnya, sehinga terkesan kita memakai 2 kain yang berbeda padahal hanya 1 lembar kain. Warna yang lebih gelap biasanya dipakai di bagian luar untuk pagi dan siang hari, sementara bagian batik yang berwarna pastel dipakai pada acara malam hari.  Motif pagi sore banyak ditemui pada Batik Djawa Hokokai di pekalongan pada saat pendudukan Jepang (1942-1945) pada saat berlangsungnya perang dunia II. .
Sebagai dampak adanya perang dunia II, perdagangan mori dan obat pewarna terputus, sehingga persediaan menipis. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Pada masa ini pembatik Pekalongan membuat batik baru, yang lebih rumit dan dibuat dengan sistem padat karya, dengan tujuan memperlambat produksi tetapi tidak kehilangan pekerja.  Para pengusaha batik saat itu melakukan penyesuaian produk batik kepada penguasa baru dengan maksud supaya mereka mendapat tempat di pemerintahan. Batik Djawa Hokokai dibuat di perusahaan batik orang Indo-Eropa, Indo-Arab, dan Peranakan, yang diharuskan bekerja untuk orang-orang Jepang, dengan alas an karena kualitas pekerjaan mereka yang sangat halus. Sedangkan kain katunnya dipasok oleh orang-orang yang ditunjuk oleh tentara pendudukan Jepang.
Pola pagi-sore menggambarkan suasana saat itu di mana kain sangat terbatas sehingga pembatik memiliki banyak waktu untuk mengerjakan selembar kain dengan ragam hias yang padat. Sebagian batik Djawa Hokokai ada yang menggunakan susumoyo yaitu motif yang dimulai dari salah satu pojok dan menyebar ke tepi-tepi kain tetapi tidak bersambung dengan motif serupa dari pojok yang berlawanan.
Kupu-kupu merupakan salah satu motif hias yang menonjol selain bunga. Meskipun kupu-kupu tidak memiliki arti khusus untuk masyarakat Jepang, tetapi orang Jepang sangat menyukai kupu-kupu. Motif dominan lainnya adalah bunga. Yang paling sering muncul adalah bunga sakura (cherry) dan krisant, dahlia, anggrek, mawar, lili, dan teratai. Sedangkan motif yang lain yaitu burung, dan selalu burung merak yang merupakan lambang keindahan dan keanggunan. Motif ini dianggap berasal dari Cina dan kemudian masuk ke Jepang.

Batik Belanda

Orang Belanda Jaman Dahulu Menggunakan Batik
Batik Belanda adalah jenis batik yang tumbuh dan berkembang antara tahun 1840-1940. Pada mulanya batik ini hanya dibuat untuk masyarakat Belanda dan Indo-Belanda yang pada umumnya berbentuk sarung. Para pemakainya semula terbatas pada kalangan sendiri kemudian menyebar ke lingkungan orang Tionghoa dan para bangsawan Jawa.
Bangsa Belanda datang ke Pulau Jawa dengan bendera VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) pada awal abad ke-17 untuk berdagang. Keberhasilan di bidang niaga membuat sebagian di antara mereka memilih tinggal menetap di kawasan yang dikenal dengan sebutan Hindia Belanda yang beriklim tropis. Mereka mengenakan Chintz dari India untuk busana sehari-hari.
Pada awal abad ke-19 terjadi penurunan import Chintz dari India. Hal ini membuat para pemakainya beralih ke batik dengan pola yang menyerupai Chintz atau pola-pola yang menampilkan paduan aneka bunga atau pola buketan, pohon bunga dengan ragam hias burung terutama burung bangau, angsa dan burung-burung kecil serta kupu-kupu, dapat pula pesawat terbang, bangunan atau sosok manusia. Ada pula ragam hias dongeng Eropa dan pengaruh budaya Tiongkok. 
Batik Belanda Motif Dongeng
Ketika impor tekstil dari India terhenti, terbukalah peluang bagi pengrajin batik untuk membuat dan memasarkan batik-nya. Runtuhnya VOC tahun 1799 dan kemudian digantikan oleh pemerintahan Belanda menyebabkan makin banyak orang Belanda menetap di Pulau Jawa dan berarti meningkat pula permintaan terhadap batik. Antara tahun 1840-1940 Pekalongan merupakan tempat mulai tumbuhnya batik Belanda. Banyak perusahaan batik Belanda bermunculan di Pekalongan yang dibuat oleh wanita Indo-Belanda seperti diantaranya Catharina Carolina van Oosterom, (batik Panastroman) dan Williams, disusul oleh perusahaan milik pengusaha Tionghoa dan Arab yang membuat batik Belanda. Ada pula E. van Zuylen, Metz dan Yans yang melahirkan batik van Zuylen. Selain itu daerah Semarang, Ungaran, Banyumas, Pacitan, Surakarta dan Yogyakarta. Tahun 1910 muncul batik Belanda milik orang Jawa di Banyumas.
Orang Indo Belanda memulai usaha batik dalam bentuk industri rumah tangga dengan membeli batikan dari para pengrajin batik dan mengupah orang untuk mencelup. Meningkatnya permintaan batik mendorong mereka yang sebagian besar terdiri atas wanita Belanda mulai mengubah pola kerja dari industri rumah tangga menjadi perusahaan dengan tempat kerja yang luas dan tata kerja yang sistematis. Sekitar pertengahan abad ke-19 tercatat beberapa usaha pembuatan batik dalam bentuk perusahaan yang dirintis dan dikelola oleh wanita Belanda, yang pada umumnya berpendidikan cukup. Wanita-wanita Belanda ini merupakan pengusaha yang sangat tangguh dan berangsur-angsur menjadi pengusaha batik terkemuka di berbagai bandar sepanjang pesisir utara terutama di Pekalongan yang bersama kota-kota lain berkembang menjadi pusat batik yang penting.  Perusahaan batik Belanda pertama berdiri di Surabaya pada tahun 1840, milik Carolina Josephina von Franquemont, yang kemudian pindah ke Semarang. Franquemont terkenal dengan penemuan warna hijau dari zat warna nabati yang tahan luntur. Warna ini kemudian disebut hijau franquemont dan sekaligus menjadi ciri khas warna batiknya.
Pelopor lain pengusaha batik Belanda adalah Catharina Carolina van Oosterom. Batik van Oosterom, yang kemudian dikenal sebagai batik Panastroman, dibuat di Banyumas dengan pola-pola yang banyak menampilkan pengaruh keraton. Sebelum pindah ke Banyumas, batik Oosterom dibuat di Semarang dengan pola Eropa. Para pengusaha batik Belanda dalam periode awal ini antara lain: B Fisher, S W Ferns, Scharff van Dop, C M Meyer, J A de Wit, AJF Jans, dan A Wollweber.
Nama L Metzelaar terkenal sebelum munculnya batik Eliza van Zuylen yang merupakan puncak karya cipta pengusaha batik Belanda. Pada periode ini hadir nama-nama baru seperti Carp, Feunem, Haighton dan Williams.
Pada awalnya batik Belanda, terutama yang dihasilkan oleh para pelopor seperti Franquemont dan Oosterom hanya menampilkan warna merah mengkudu dan biru indigo, baik biru muda maupun biru tua. Pola-polanya pun masih banyak yang menampilkan ragam hias mirip lereng dan lung-lungan, serta bertema dongeng. Seiring dengan pengaruh zaman yang menghendaki pola-pola yang menampilkan jati diri secara jelas, pola-pola semacam itu tidak tampak lagi dan digantikan oleh pola yang benar-benar bernuansa Eropa atau Belanda, yakni rangkaian bunga-bunga, buketan besar ataupun burung bangau di tengah rumpun tanaman air. Warnanya pun bergeser sedikit demi sedikit kearah warna yang lebih dari dua warna, terutama ketika mereka mulai menggunakan zat warna sintetis. Meskipun sebelumnya para pengusaha Belanda menolak menggunakan zat warna tersebut. Hal ini disebabkan oleh reputasi mereka sebagai seniman batik yang dibangun melalui warna-warna khusus ramuan mereka dari zat warna alami.
Pengusaha-pengusaha batik Belanda yang bermukim di pedalaman menghasilkan batik yang sangat dpengaruhi oleh lingkungannya. Pola serta warna batik keraton tampil bersama pola-pola batik Belanda dalam bentuk sarung, baik dengan kepala tumpal maupun kepala buketan. Pola utamanya tetap bernafaskan selera Eropa, yaitu bunga-bunga, buketan, burung-burung, kupu-kupu dan rangkaian bunga di atas latar dengan isen tradisional Jawa antara lain gringsing, galaran, anggur, dan akar jahe yang ditata dengan warna-warna biru tua, putih, serta warna soga yang sangat muda. Batik Belanda semacam ini antara lain dibuat oleh M Coenraad dan E Coenraad di Pacitan; Van Gentz Gottlieb, dan Jonas di Surakarta; Gobel dan De Boer di Yogyakarta; serta Williams dan Matheron di Banyumas. Ragam hias Jawa dalam batik Matheron biasanya lebih menonjol karena banyak menggunakan warna-warna soga dan pola klasik seperti lereng dan Sekar Jagad.
Tetapi ada pula ragam hias yang diilhami oleh dongeng-dongeng Eropa sebagai tema pola, antara lain “Little Red Riding Hood”, “Snow White”, dan “Hanzel and Gretel”. Bahkan ada pula pola yang menampilkan pemgaruh budaya Tiongkok seperti Dewi His Wang Mu, serta pola wayang dan pola sirkus.
Menjelang puncak perkembangannya, yakni kurang lebih pada tahun 1890-1910, batik Belanda tampil dengan wajah baru yang diprakarsai oleh Franquemont. Banyak perubahan terjadi pada penataan polanya, antara lain tidak semua bagian kepalamenggunakan ragam hias tumpal. Ragam hias tumpal yang pada awalnya dominan digantikan oleh untaian bunga atau ragam hias renda yang berfungsi sebagai batas antara bagian kepala dan bagian badan sarung. Adapun pola pada bagian kepala beraneka ragam, misalnya pola parang, lereng, dan buketan dengan isen tanahan. Batik-batik Belanda juga mengubah semua aturan yang biasa diterapkan pada pola kepala dan badan sarung.pada perkembangannya terakhir tampak pola badan dan kepala tidak berupa buketan, tetapi cukup dibedakan melalui perbedaan perpaduan warna-warna yang digunakan. Di samping itu bagian kepala tidak selalu diletakan di ujung sarung, tetapi dipindahkan ke bidang tengah sarung. Demikian pula bagian papan dihilangkan.
Kehadiran batik Belanda di Pulau Jawa di satu sisi merupakan saksi perkembangan batik di zaman Belanda yang diwarnai oleh zaman, peristiwa, serta lingkungan. Gejolak zaman yang disebabkan berkecamuknya Perang Dunia II sangat mempengaruhi kelangsungan produksi batik Belanda. Kedatangan bala tentara Jepang menyebabkan banyak orang Belanda dan Indo-Belanda ditahan dan dimasukan ke kamp-kamp oleh tentara Jepang. Oleh sebab itu hampir semua perusahaan batik Belanda, sebuah mahzab yang memberi sentuhan khusus pada perjalanan batik di bumi Nusantara berhenti berproduksi.  Di sisi lain batik Belanda menghadirkan karya-karya yang merupakan adikarya dari karyakarya batik yang sudah pernah ada sebelumnya dan merupakan hasil karya seni budaya yang sangat tinggi nilainya. Meski keindahannya merupakan keindahan visual saja.
Di bawah ini beberapa motif batik yang tergolong batik dengan pengaruh Belanda, yaitu :
Batik Belanda (Frannquemont)
pola Hanzel dan Gretel
Batik Belanda (J. Jans)
pola Buketan isen latar
Batik Belanda (Wollweber)
pola Limaran




Pola Batik Buketan

Pola Buketan Batik
Motif buketan merupakan motif dengan mengambil tumbuh-tumbuhan atau bunga sebagai ornamen atau hiasan yang disusun memanjang selebar kain.  Kata buketan sendiri berasal dari bahasa Perancis bouquet yang berarti rangkaian bunga. Motif ini mudah anda kenali karena motif dalam batik ini bergambar bunga, kupu-kupu, burung  hong, burung bangau, dan tumbuhan yang bersulur-sulur seperti tanaman yang tumbuh di Eropa. Gambar-gambar tersebut dirangkai dalam suatu rangkaian yang cantik, dengan warna yang indah.  Batik motif buketan ini banyak berkembang di daerah pesisir Jawa pada abad ke-19. Bersamaan dengan adanya pengaruh Eropa di zaman kolonial, khususnya Belanda. Selain itu motif batik buketan ini juga dipengaruhi oleh keberadaaan pedagang dan pengusaha batik dari Tiongkok pada masa lampau.
Motif Buketan pada Batik Belanda
Sejarah Pola Buketan
Penerapan ragam hias buketan itu mereka lakukan pada saat Batik Belanda yang berawal kurang lebih pada tahun 1840 dan dipelopori oleh Caroline Josephine Van Franquemont dan Catherina Carolina Van Oosterom. Pada awalnya batik Belanda tidak menampilkan pola-pola buketan. Namun demikian, seiring dengan adanya perkembangan polanya, maka batik Belanda pun menampilkan ragam hias buket–buket yang halus dan indah dengan warna-warna cerah serta serasi, bahkan sering dipadu dengan isen latar ragam hias tradisional keraton seperti galaran, gringsing, dan blanggreng yang dibatik sangat halus ( lebih halus dari batikan keraton ). Setelah bahan kimia masuk ke Jawa, maka batik Belanda yang semula hanya menampilkan dua warna itu, mulai menampilkan beragam warna sehingga tampak lebih indah dan halus.
Pola buketan tersebut pertama kali diproduksi oleh Cristina Van Zuylen yaitu salah satu seorang pengusaha batik keturunan Belanda kelas menengah di Pekalongan. Pada tahun 1880, Cristina Van Zuylen telah mengubah tradisi yang semula sebagai karya anonym ( tanpa diketahui identitas pembuatnya ) dan bersifat missal, menjadi karya individual. Identitas nama Cristina van Zuylen dituliskan disudut bagian dalam kain bentuk tanda tangan yang berbunyi “T. van Zuylen” ( kependekan dari Tina Van Zuylen ) pada setiap karyanya. Batik buketan yang terkenal adalah karya Zuylen bersaudara yaitu Cristina Van Zuylen dan Lies van Zuylen.
Batik Van Zuylen tersebut sangat laku, sehingga pengusaha-pengusaha menengah Tionghoa yang semula menerapkan pola-pola dengan ragam hias mitos Cina maupun keramik Cina, mulai membuat batik buketan setelah tahun 1910 sebagaimana diuraikan dimuka. Para pengusaha tersebut antara lain Lock Tjan dari Tegal, Oey-Soe-Tjoen dari Kedungwuni, dan Nyonya Tan-Ting-Hu yang mulai tahun 1925 telah memproduksi batik dengan format “pagi-sore”. Selain itu, dikampung Kwijan ( Tempat tinggal Kepala Daerah Pekalongan Tan-Kwi-Jan ) juga terdapat dua orang pengusaha batik buketan dari golongan Tionghoa yang cukup terkenal yaitu Tjoa-Sing-Kwat dan Mook-Bing-Liat.
Bangkitnya para pengusaha kelas menengah Tionghoa di Pekalongan untuk memproduksi batik dengan pola buketan ternyata mampu memberikan nilai tambah bagi karya seni batik dan tidak hanya menjadi barang dagangan semata. Selain jumlah produksinya yang meningkat, batik karya pengusaha Tionghoa tersebut juga memiliki nilai seni yang tinggi bahkan bisa disejajrkan dengan pelukis di Eropa ( Belanda ), terutama batik yang memiliki pola dan ragam hias mitos Cina. Namun demikian, batik yang diusahakan oleh pengusaha pribumi tetap tidak mengalami perubahan karena batik hanya dianggap sebagai kerajinan atau dagangan saja. Oleh karena itu, batik dibiarkan seperti adanya saja karena dipandang sebagai milik pasar. Hal itulah yang membedakan kedua golongan pengusaha yaitu Tionghoa dan pribumi dalam mengelola industri batik. adanya persaingan antara pengusaha batik Tionghoa dalam industri pembatikan telah membawa berbagai ketegangan, sehingga menimbulkan konflik yang sangat memprihatinkan.

Ragam Hias Batik

Batik Mega Mendung Cirebon
Ragam hias batik adalah hasil lukisan pada kain dengan menggunakan alat yang disebut dengan canting. Jumlah ragam hias pada batik tradisional Indonesia saat ini sangat beragam baik variasi bentuk maupun warnanya. Pada umumnya ragam hias batik sangat dipengaruhi oleh faktor Letak geografis daerah pembuatan, Sifat dan tata penghidupan di daerah bersangkutan, Kepercayaan dan adat istiadat yang ada di daerah tempat pembuatan batik, Keadaan alam sekitar termasuk flora dan fauna, Adanya kontak atau hubungan antar daerah pembuat pembatikan
Unsur-Unsur Ragam Hias
Pada sehelai kain batik memuat sejumlah ragam hias yang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian utama yaitu:
1. Ornamen Utama
Ornamen utama adalah suatu ragam hias yang menentukan motif tersebut mempunyai makna, sehingga dalam pemberian nama motif batik berdasarkan perlambang yang ada pada ornamen utama ini. Jika ragam hias utamanya adalah Parang maka batiknya biasannya diberi nama Parang. 
Ragam hias utama banyak sekali macamnya diantaranya: meru, api, naga, burung, garuda, pohon hayat, tumbuhan, bangunan, parang dll.
2. Isen-isen
Isen-isen merupakan aneka corak pengisi latar kain dan pada bidang-bidang kosong ragam hias. Pada umumnya berukuran kecil dan kadang rumit. Dapat berupa titik-titik, garis-garis ataupun gabungan keduannya. Jumlah isen-isen ada banyak sekali tetapi pada perkembangannya hanya beberapa saja yang masih biasa dijumpai dan masih dipakai pada saat ini.
Isen-isen pengisi latar antara lain : galaran, rawan, ukel, udar, belara sineret, anam karsa, debundel atau cebong, kelir, kerikil, sisik melik, uceng mudik, kembang jati dan gringsing.
Isen-isen pengisi bidang kosong antara lain : cecek, kembang jeruk, kembang suruh, kembang cengkeh, sawat, sawut kembang, srikit, kemukus, serit, untu walang. Pembuatan isen-isen memerlukan waktu yang cukup lama bentuk-bentuknya yang kecil dan rumit membututuhkan ketelitian yang tinggi.
Penggolongan Ragam Hias Batik Berdasarkan Bentuknya
Ragam hias batik berdasarkan bentuknya secara garis besar dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan ragam hias geometris dan non geometris.
1. Ragam Hias Geometris
ragam hias geometris adalah ragam hias yang mengandung unsur-unsur garis dan bangun seperti garis miring, bujur sangkar, persegi panjang, trapesium, belah ketupat, jajaran genjang, lingkaran dan bintang yang disusun secara berulang-ulang membentuk satu kesatuan motif. yang termasuk ragam hias geometris adalah:
a. Motif Ceplok
Motif ceplok atau ceplokan adalah motif-motif batik yang di dalamnya terdapat gambaran-gambaran bentuk lingkaran, roset, binatang dan variasinya. Beberapa nama motif ceplok, yaitu: ceplok nogosari, ceplok supit urang, ceplok truntum, ceplok cakra kusuma.
b. Motif ganggong
Banyak orang menganggap motif ganggong adalah motif ceplok, karena sepintas hampir sama. Ciri khas yang membedakan motif ganggong dengan ceplok adalah adanya bentuk isen yang terdiri atas seberkas garis-garis yang panjangnya tidak sama dan pada ujung garis yang paling panjang berbentuk serupa salib. Nama-nama motif ganggong antara lain: ganggong arjuna, ganggong madusari, ganggong sari.
c. Motif Parang dan Lereng
Motif Parang merupakan salah satu motif yang sangat terkenal dalam kelompok motif garis miring. Motif ini terdiri atas satu atau lebih ragam hias yang tersusun membentuk garis-garis sejajar dengan sudut kemiringan 45º. Contoh motif Parang dan lereng adalah: Parang rusak, Lereng ukel
d. Motif Banji
Motif banji berdasar pada ornamen swastika, dibentuk atau disusun dengan menghubungkan swastika dengan garis-garis, sehingga membentuk sebuah motif. Nama-nama motif banji antara lain banji guling, banji bengkok, banji kerton, banji lancip.
2. Ragam Hias Non-Geometris
Pola non-geometris merupakan pola dengan susunan tidak terukur, artinya polanya tidak dapat diukur secara pasti meskipun dalam bidang luas dapat terjadi pengulangan seluruh motif. Pola yang termasuk keadalam golongan pola non geometris yaitu :
a. Motif Semen
Ragam hias utama yang merupakan ciri motif semen adalah meru, suatu gubahan menyerupai gunung. Meru berasal dari nama gunung mahameru. Hakekat meru adalah lambang gunung atau tempat tumbuh-tumbuhan bertunas ( Jawa : semi ) hingga motif ini disebut semen. Semen berasal dari kata dasar semi. Ragam hias utama semen adalah Garuda, sawat, lar maupun mirong. Contoh motif semen adalah semen jolen dan semen gurdha.
b. Motif Lung-lungan
Sebagian besar motif lung-lungan mempunyai ragam hias serupa dengan motif semen. Berbeda dengan motif semen, ragam hias motif lung-lungan tidak selalu lengkap dan tidak mengandung ragam hias meru. Motif lung-lungan diantaranya adalah Grageh waluh, Babon Angrem.
c. Motif Buketan
Motif buketan mudah dikenali lewat rangkaian bunga atau kelopak bunga dengan kupu-kupu, burung atau berbagai satwa kecil yang mengelilinginya. Berbagai unsur tersebut tampil sebagai satu susunan yang membentuk satu kesatuan motif.
d. Motif Pinggiran
Motif ini disebut motif pinggiran karena unsur hiasannya terdiri atas ragam hias yang biasa digunakan untuk ”hiasan pinggir” atau ”hiasan pembatas” antara bidang yang memiliki hiasan dan bidang kosong pada dodot, kemben dan udheg.
e. Motif Dinamis
Motif dinamis adalah motif-motif yang masih dapat dibedakan menjadi unsur-unsur motif, tetapi ornamen didalamnya tidak lagi berupa ornamen-ornamen tradisional, motif ini merupakan peralihan motif batik klasik dan modern.

Motif Batik

Motif batik adalah kerangka gambar yang mewujudkan batik secara keseluruhan. Motif batik terdiri dari dua bagian, yaitu ornamen motif batik dan isen motif batik.
 1. Motif Geometris
Motif Geometris adalah motif-motif batik yang ornamen-ornamennya merupakan susunan geometris. Ciri ragam hias geometris ini adalah motif tersebut mudah dibagi-bagi menjadi bagian-bagian yang disebut satu “raport”. Golongan geometris ini pada dasarnya dapat dibedakan atas dua macam, yaitu:
a. Raportnya berbentuk seperti ilmu ukur biasa, seperti bentuk-bentuk segiempat, segiempat panjang atau lingkaran. Motif batik yang memiliki raport segi empat adalah golongan Banji, Ceplok, Ganggang, Kawung.
b. Raportnya tersusun dalam garis miring, sehingga raportnya berbentuk semacam belah ketupat. Contoh motif ini adalah golongan motif parang dan udan liris.
2. Motif Non Geometris
Motif non geometris adalah motif-motif batik yang tidak geometris. Termasuk dalam motif ini adalah motif Semen, Buketan, Terang Bulan. Motif-motif golongan non geometris tersusun dari ornamen-ornamen tumbuhan, Meru, Pohon Hayat, Candi, Binatang, Burung, Garuda, Ular (Naga) dalam susunan tidak teratur menurut bidang geometris meskipun dalam bidang luas akan terjadi berulang kembali susunan motif batik tersebut.
Keanekaragaman motif batik berakibat pada beranekaragam nama-nama batik. Motif batik merupakan keutuhan dari subyek gambar yang menghiasi kain batik tersebut. Biasanya motif ini di ulang-ulang untuk memenuhi seluruh bidang kain. Membentuk motif secara fisik adalah unsur spot (berupa goresan, warna dan teksture), line (garis) dan mass (massa/berupa gambar) dalam sebuah kesatuan. Kemudian motif tersebut diduplikasikan atau diberi variasi dengan perulangan untuk membentuk pola atau field.
Dalam seni batik di Jawa dikenal beberapa pola untuk menyusun motif batik yaitu :
1. Membentuk garis miring atau diagonal, misalnya bermacam-macam motif parang.
2. Membentuk kelompok-kelompok, misalnya motif-motif ceplok.
3. Membentuk garis tepi (motif pinggiran )
4. Membentuk tumpal atau karangan bunga, misalnya batik Buketan
Pada batik modern dan batik-batik diluar Jawa pola batik lebih variatif atau bebas. Penyusunan motif sering dilakaukan secara simetris maupun asimetris atau dengan cara memadukan bebarapa pola batik tradisional. Secara umum motif batik terdiri dari motif :
Motif Figuratif
Motif figuratif menggambarkan benda-benda sesuai dengan aslinya, misalnya bunga, ikan, buah, binatang dan sebagainya. Penyusunan motif figuratif pada umumnya juga mempertimbangkan ruang atau jauh dekat, warna dibuat mirip aslinya dan lain-lain. Motif ini banyak digunakan pada batik modern dan batik-batik luar Jawa.
Motif Semifiguratif
Jika pada motif figuratif bentuk-bentuk benda yang digambarkan masih kelihatan maka pada motif semifiguratif benda-benda dilakukan stilisasi dan deformasi. Penggambaran benda masih bertujuan untuk menggambarkan filosofi tertentu namun besar kecilnya benda, proporsi, dan perspektif tidak lagi diperhatikan. Pemberian warna juga kebih bebas sehingga penyusunan motif ini lebih bersifat dekoratif. Penggambaran motif semifiguratif dapat secara geometris yaitu mengikuti bentuk-bentuk ilmu ukur misalnya segitiga, segi empat, lingkaran maupun non geometris yaitu masih mengikuti garis-garis objek gambarnya.
Motif Nonfiguratif.
Motif nonfiguratif disebut juga motif abstrak sehingga bentuk-bentuk benda apapun tidak lagi dipersoalkan. Yang diutamakan adalah keindahan motif itu sendiri. Motif abstark dapat berupa garis, massa, spot, isian-isian batik, bidang atau warna yang serasi antara bagian dan keseluruhan maupun bagian dan keseluruhan maupun bagian dengan bagian lainnya.
Para perancang batik memiliki kebebasan dalam menyaring dan memilih motif yang diinginkan. Dalam memilih motif batik yang terpenting adalah ketelitian misalnya dalam memilih motif figuratif perancang perlu memperhatikan detail pemotongan agar objek tetap indah
Macam-Macam Motif Batik
Batik Motif Parang Kusumo
Batik Motif Parang Kusumo
Motif Parangkusumo
Motif Parang Kusumo adalah motif batik yang mempunyai makna pada suatu kehidupan harus dilandasi dengan perjuangan dan usaha dalam mencapai keharuman lahir dan batin. Kata kusuma dalam bahasa jawa kusumo disamakan dengan harumnya bunga (kusuma) pada filsafat jawa. Yang dimaksud adalah kehidupan dalam bermasyarakat yang harus diutamakan adalah membentuk kepribadian yang harum dengan mementingkan norma dan nilai yang berlaku pada masyarakat, berharap dapat menempuh kehidupan yang lahir dan batin dengan kerja keras dari tingkah laku dan pribadi yang baik. Batik Parang Kusumo diutamakan mendapatkan keharuman pada pribadi itu sendiri yang dilandasi pada pencarian lahir dan batin. Kegunaan dari motif ini sebagai kain saat tukar cincin dalam pernikahan, yang diharapkan kehidupan yang harum sempurna lahir dan batin pada pernikahan nanti.
Batik Motif Trumtum
Batik Motif Trumtum
Motif Truntum
Motif batik Truntum adalah motif berdasarkan simbol yang bermakna cinta. Berdasarkan cerita yang dimulai dari Kanjeng Ratu Kencana (Permaisuri Sunan Paku Buwana III) dengan makna cinta tumbuh kembali. Beliau menciptakan motif ini sebagai simbol cinta yang tulus tanpa syarat, abadi dan semakin subur dan berkembang atau disebut juga dengan Tumaruntum. Banyak yang memakai motif ini pada orang tua pengantin pada hari pernikahan, harapanya agar cinta kasih akan menghinggapi kedua mempelai. Dan juga orang tua dapat menuntun kedua mempelai dalam memasuki kehidupan yang baru.
Batik Motif Kawung
Batik Motif Kawung
Motif Kawung
Motif Kawung adalah sebagai lambang keperkasaan dan keadilan. Corak dari motif ini bulat seperti pada buah Kawung yang seperti buah kelapa atau disebut juga buah Kolang-Kaling yang dibentuk berstruktur dan geometris dan rapi. Beberapa dari motif ini juga diadaptasi dengan bunga lotus dengan empat lembat daun bunga yang merekah yang diartikan dengan bunga yang melambangkan umur panjang dan kesucian. Biasanya motif ini dinamakan sesuai dengan besar kecilnya atau bentuk yang terdapat pada motif tertentu.
Batik Motif Ceplok
Batik Motif Ceplok
Motif Ceplok
Motif Ceplok adalah motif yang didalamnya terdapat gambaran berbentuk lingkaran, binatang, roset dan beberapa variasinya. Gambaran tersebut terletak pada bidang yang dasarnya berbentuk segi empat, lingkaran dan lainya yang berbentuk geometris. Ornament pada corak menggambarkan bunga tampak depan, buah yang dipotong melintang. Bunga dan daun dibentuk secara roset, dan binatang yang tersusun secara melingkar dalam lingkaran atau segi empat. Nama ceplok terbentuk dari beberapa sudut pandang yang berbeda seperti berdasarkan pada ornament yang dipakai seperti ceplok kembang jeruk, ceplok manggis, ceplok salak sategal, ceplok supit urang, ceplok Cakar ayam, ceplok gandosan, ceplok kembang waru, ceplok lung slop, dan sebagainya. Ada juga yang berdasarkan tempat asal dari pembuatan motif tersebut. Dan terakhir berdasarkan nama penciptanya yaitu Ceplok Pubonegoro, Ceplok madu Sumirat, Ceplok Sirat Madu, Ceplok Cokrokusumo.
Batik Motif Tambal
Batik Motif Tambal
Motif Tambal
Motif batik Tambal mempunyai unsur motif yang diadaptasi dari motif ceplok, parang, meru, dll dengan ciri khas kerokan yang pada umumnya digunakan sebagai kain panjang. Filosofi dari motif ini adalah tambal yang artinya sebagai menambah semangat baru, dan masyarakat percaya bahwa bila ada orang sakit menggunakan kain ini sebagai selimut, maka sakitnya akan cepat sembuh.


Batik Motif Satwa Wana
Batik Motif Satwa Wana
Motif Satwa Wana
Motif Satwa Wana mempunyai pola Satwa wana yang berarti aneka macam satwa di dalam hutan, yang biasanya terdapat gambar Gajah, Burung Merak, Ayam Alas, Kupu–Kupu, Macan, Rusa, Kambing, Banteng dan lain–lain. Selain binatang terdapat juga tanaman yang disusun secara padat dan detail yang sehingga dapat mengisi hampir seluruh bidang kain.


Batik Motif Parang Sarpa
Batik Motif Parang Sarpa
Motif Parang Sarpa
Motif Parang Sarpa diambil dari kata Sarpa yaitu Ular, simbol yang melambangkan keberanian, kekuasaan, kemegahan, sukses, keamanan, dan kesejahteraan. Dan Parang adalah motif larangan yang biasanya dipakai oleh keluarga kerajaan atau keraton. Kata Parang itu sendiri merupakan simbolisasi dimana tempat raja bersemedi yang berada di sekitar pantai, yang berasal dari kata batu karang.
Batik Motif Semen Rama Latar Sisik
Batik Motif Semen Rama Latar Sisik
Motif Semen Romo Latar Sisik
Motif Semen Romo Latar Sisik ini yang berasal dari Pola Semen dari kata semi-semian, yang menceritakan kehidupan. Didalam motif ini terdapat simbol ketabahan, kekuasaan, matahari, yang digambarkan dalam bentuk sayap (Garuda). Batik Semen Romo ini memuat ajaran Hastha Brata yaitu ajaran pada keutamaan, cerminan, dari sifat darma, adil terhadap sesama, teguh hati, berjiwa luhur, tidak “adigang adigung” dan ada kesaktian melawan musuh. Dengan latar gringsing (pola sisik ular) yang dianggap dapat memberikan umur panjang.
Batik Motif Parang Barong
Batik Motif Parang Barong
Motif Parang Barong
Motif Parang Barong adalah salah satu motif larangan dan bagi kalangan keraton. Motif ini hanya digunakan oleh Raja dan keluarganya. Kata parang inipun berasal dari kata tempat bersemedi raja yang berada disekitar pantai, yaitu “batu karang” dan Barong dalam bahasa jawa yaitu Singa. Pada zaman kekerajaan Parang Barong ini bermotif besar dan biasanya digunakan oleh bangsawan untuk upacara ritual keagamaan dan meditasi karena diangggap sakral. Parang juga merupakan simbol dari sebuah senjata, yang menggambarkan kekuasaan, kekuatan dan kecepatan gerak. Ksatria yang menggunakan motif ini dapat dilambangkan kuat dan gesit.

Batik Motif Sidomukti
Batik Motif Sidomukti
Motif Sidomukti
Motif Sidomukti yang berasal dari kata mukti yang artinya kehidupan yang mulya dan luhur. Yang mempunyai harapan bagi pemakainya agar dapat mencapai kedudukan yang tinggi (luhur) dan diberikan rejeki yang lebih (mulya). Sering dipakai untuk upacara tradisi dan biasanya dikenakan oleh pengantin pria dan wanita pada acara perkawinan, dinamakan juga sebagai sawitan (sepasang). Batik ini merupakan pengembangan dari Motif Batik Sidomulya latar putih, yang dasarnya digantikan dengan isen – isen latar ukel.
Batik Motif Sri Kuncoro
Batik Motif Sri Kuncoro
Motif Sri Kuncoro
Motif Sri Kuncoro adalah motif batik yang biasa dipakai oleh kerabat kerjaan untuk menghadiri perayaan – perayaan. Pengharapan akan (Kehidupan baru) agar mempunyai nama yang tersohor / terkenal.

Motif Sekar Jagad
Motif Sekar Jagad adalah motif yang berasal dari kata sekar (bunga) dan jagad (dunia) atau puja dunia yang mempunyai makna filosofi kebahagiaan. Sekar jagad biasanya dipakai oleh orang tua pengantin perempuan pada saat resepsi pernikahan yang melambangkan kebahagiaan orang tua yang mendapat anugerah, karena putrinya telah mendapatkan jodoh.


Batik Motif Ceplok Lempeng
Batik Motif Ceplok Lempeng
Motif Ceplok Lempeng
Motif Ceplok Lempeng adalah kain yang beradaptasi dari kain ceplok yang berpola ceplok lempeng, yang terdapat gambar bulatan – bulatan dengan sisi yang berombak – ombak didalamnya yang berisi motif parang rusak. Latar kain berwarna hitam penuh dengan tumbuhan bermotif ukel dan bunga berwarna coklat, gambar bunga berkelopak tujuh di antara bulatan / ceplokan. Keempat sisi kain berwarna putih kosong. Kedua ujung kain dikelim dengan jahitan tangan.

Batik Motif Parang Rusak Seling Huk
Batik Motif Parang Rusak Seling Huk
Motif Parang Rusak Seling Huk
Motif Parang Rusak Seling Huk adalah motif yang termasuk di dalam kategori motif ‘larangan’. Yang hanya dipakai oleh Raja, Permaisuri, dan putera – puteranya. Kata Parang bisa merupakan simbolisasi tempat para raja semedi di sekitar pantai, berasal dari kata “batu karang”. Dalam kain batik ini motif parang diselingi dengan motif burung huk.




Batik Motif Parang Klithik
Batik Motif Parang Klithik
Motif Parang Klithik
Motif Parang Klithik adalah motif yang dipergunakan untuk putri kerajaan. Dalam dongeng pewayangan Dewi Kunti, Ibu Pandawa memakai batik parang klitik yang menyimbolkan perilaku halus dan bijaksana. Motif Parang termasuk motif ‘larangan’ yang biasa dipakai oleh keluarga kerajaan. Kata Parang merupakan simbolisasi tempat para raja semedi di sekitar pantai, berasal dari kata “batu karang”.

BUKU KAMI DI GOOGLE BOOKS

title

BUKU NOVEL KOMEDI ANAK SEKOLAH
 
Support : Batik Tradisional Indonesia | Motif Batik | Keanekaragaman Batik
Copyright © 2013. Batik Tradisional Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by BatikDan
Proudly powered by Blogger