FEEDBURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Batik Belanda

Orang Belanda Jaman Dahulu Menggunakan Batik
Batik Belanda adalah jenis batik yang tumbuh dan berkembang antara tahun 1840-1940. Pada mulanya batik ini hanya dibuat untuk masyarakat Belanda dan Indo-Belanda yang pada umumnya berbentuk sarung. Para pemakainya semula terbatas pada kalangan sendiri kemudian menyebar ke lingkungan orang Tionghoa dan para bangsawan Jawa.
Bangsa Belanda datang ke Pulau Jawa dengan bendera VOC (Vereenigde Oost Indische Compagnie) pada awal abad ke-17 untuk berdagang. Keberhasilan di bidang niaga membuat sebagian di antara mereka memilih tinggal menetap di kawasan yang dikenal dengan sebutan Hindia Belanda yang beriklim tropis. Mereka mengenakan Chintz dari India untuk busana sehari-hari.
Pada awal abad ke-19 terjadi penurunan import Chintz dari India. Hal ini membuat para pemakainya beralih ke batik dengan pola yang menyerupai Chintz atau pola-pola yang menampilkan paduan aneka bunga atau pola buketan, pohon bunga dengan ragam hias burung terutama burung bangau, angsa dan burung-burung kecil serta kupu-kupu, dapat pula pesawat terbang, bangunan atau sosok manusia. Ada pula ragam hias dongeng Eropa dan pengaruh budaya Tiongkok. 
Batik Belanda Motif Dongeng
Ketika impor tekstil dari India terhenti, terbukalah peluang bagi pengrajin batik untuk membuat dan memasarkan batik-nya. Runtuhnya VOC tahun 1799 dan kemudian digantikan oleh pemerintahan Belanda menyebabkan makin banyak orang Belanda menetap di Pulau Jawa dan berarti meningkat pula permintaan terhadap batik. Antara tahun 1840-1940 Pekalongan merupakan tempat mulai tumbuhnya batik Belanda. Banyak perusahaan batik Belanda bermunculan di Pekalongan yang dibuat oleh wanita Indo-Belanda seperti diantaranya Catharina Carolina van Oosterom, (batik Panastroman) dan Williams, disusul oleh perusahaan milik pengusaha Tionghoa dan Arab yang membuat batik Belanda. Ada pula E. van Zuylen, Metz dan Yans yang melahirkan batik van Zuylen. Selain itu daerah Semarang, Ungaran, Banyumas, Pacitan, Surakarta dan Yogyakarta. Tahun 1910 muncul batik Belanda milik orang Jawa di Banyumas.
Orang Indo Belanda memulai usaha batik dalam bentuk industri rumah tangga dengan membeli batikan dari para pengrajin batik dan mengupah orang untuk mencelup. Meningkatnya permintaan batik mendorong mereka yang sebagian besar terdiri atas wanita Belanda mulai mengubah pola kerja dari industri rumah tangga menjadi perusahaan dengan tempat kerja yang luas dan tata kerja yang sistematis. Sekitar pertengahan abad ke-19 tercatat beberapa usaha pembuatan batik dalam bentuk perusahaan yang dirintis dan dikelola oleh wanita Belanda, yang pada umumnya berpendidikan cukup. Wanita-wanita Belanda ini merupakan pengusaha yang sangat tangguh dan berangsur-angsur menjadi pengusaha batik terkemuka di berbagai bandar sepanjang pesisir utara terutama di Pekalongan yang bersama kota-kota lain berkembang menjadi pusat batik yang penting.  Perusahaan batik Belanda pertama berdiri di Surabaya pada tahun 1840, milik Carolina Josephina von Franquemont, yang kemudian pindah ke Semarang. Franquemont terkenal dengan penemuan warna hijau dari zat warna nabati yang tahan luntur. Warna ini kemudian disebut hijau franquemont dan sekaligus menjadi ciri khas warna batiknya.
Pelopor lain pengusaha batik Belanda adalah Catharina Carolina van Oosterom. Batik van Oosterom, yang kemudian dikenal sebagai batik Panastroman, dibuat di Banyumas dengan pola-pola yang banyak menampilkan pengaruh keraton. Sebelum pindah ke Banyumas, batik Oosterom dibuat di Semarang dengan pola Eropa. Para pengusaha batik Belanda dalam periode awal ini antara lain: B Fisher, S W Ferns, Scharff van Dop, C M Meyer, J A de Wit, AJF Jans, dan A Wollweber.
Nama L Metzelaar terkenal sebelum munculnya batik Eliza van Zuylen yang merupakan puncak karya cipta pengusaha batik Belanda. Pada periode ini hadir nama-nama baru seperti Carp, Feunem, Haighton dan Williams.
Pada awalnya batik Belanda, terutama yang dihasilkan oleh para pelopor seperti Franquemont dan Oosterom hanya menampilkan warna merah mengkudu dan biru indigo, baik biru muda maupun biru tua. Pola-polanya pun masih banyak yang menampilkan ragam hias mirip lereng dan lung-lungan, serta bertema dongeng. Seiring dengan pengaruh zaman yang menghendaki pola-pola yang menampilkan jati diri secara jelas, pola-pola semacam itu tidak tampak lagi dan digantikan oleh pola yang benar-benar bernuansa Eropa atau Belanda, yakni rangkaian bunga-bunga, buketan besar ataupun burung bangau di tengah rumpun tanaman air. Warnanya pun bergeser sedikit demi sedikit kearah warna yang lebih dari dua warna, terutama ketika mereka mulai menggunakan zat warna sintetis. Meskipun sebelumnya para pengusaha Belanda menolak menggunakan zat warna tersebut. Hal ini disebabkan oleh reputasi mereka sebagai seniman batik yang dibangun melalui warna-warna khusus ramuan mereka dari zat warna alami.
Pengusaha-pengusaha batik Belanda yang bermukim di pedalaman menghasilkan batik yang sangat dpengaruhi oleh lingkungannya. Pola serta warna batik keraton tampil bersama pola-pola batik Belanda dalam bentuk sarung, baik dengan kepala tumpal maupun kepala buketan. Pola utamanya tetap bernafaskan selera Eropa, yaitu bunga-bunga, buketan, burung-burung, kupu-kupu dan rangkaian bunga di atas latar dengan isen tradisional Jawa antara lain gringsing, galaran, anggur, dan akar jahe yang ditata dengan warna-warna biru tua, putih, serta warna soga yang sangat muda. Batik Belanda semacam ini antara lain dibuat oleh M Coenraad dan E Coenraad di Pacitan; Van Gentz Gottlieb, dan Jonas di Surakarta; Gobel dan De Boer di Yogyakarta; serta Williams dan Matheron di Banyumas. Ragam hias Jawa dalam batik Matheron biasanya lebih menonjol karena banyak menggunakan warna-warna soga dan pola klasik seperti lereng dan Sekar Jagad.
Tetapi ada pula ragam hias yang diilhami oleh dongeng-dongeng Eropa sebagai tema pola, antara lain “Little Red Riding Hood”, “Snow White”, dan “Hanzel and Gretel”. Bahkan ada pula pola yang menampilkan pemgaruh budaya Tiongkok seperti Dewi His Wang Mu, serta pola wayang dan pola sirkus.
Menjelang puncak perkembangannya, yakni kurang lebih pada tahun 1890-1910, batik Belanda tampil dengan wajah baru yang diprakarsai oleh Franquemont. Banyak perubahan terjadi pada penataan polanya, antara lain tidak semua bagian kepalamenggunakan ragam hias tumpal. Ragam hias tumpal yang pada awalnya dominan digantikan oleh untaian bunga atau ragam hias renda yang berfungsi sebagai batas antara bagian kepala dan bagian badan sarung. Adapun pola pada bagian kepala beraneka ragam, misalnya pola parang, lereng, dan buketan dengan isen tanahan. Batik-batik Belanda juga mengubah semua aturan yang biasa diterapkan pada pola kepala dan badan sarung.pada perkembangannya terakhir tampak pola badan dan kepala tidak berupa buketan, tetapi cukup dibedakan melalui perbedaan perpaduan warna-warna yang digunakan. Di samping itu bagian kepala tidak selalu diletakan di ujung sarung, tetapi dipindahkan ke bidang tengah sarung. Demikian pula bagian papan dihilangkan.
Kehadiran batik Belanda di Pulau Jawa di satu sisi merupakan saksi perkembangan batik di zaman Belanda yang diwarnai oleh zaman, peristiwa, serta lingkungan. Gejolak zaman yang disebabkan berkecamuknya Perang Dunia II sangat mempengaruhi kelangsungan produksi batik Belanda. Kedatangan bala tentara Jepang menyebabkan banyak orang Belanda dan Indo-Belanda ditahan dan dimasukan ke kamp-kamp oleh tentara Jepang. Oleh sebab itu hampir semua perusahaan batik Belanda, sebuah mahzab yang memberi sentuhan khusus pada perjalanan batik di bumi Nusantara berhenti berproduksi.  Di sisi lain batik Belanda menghadirkan karya-karya yang merupakan adikarya dari karyakarya batik yang sudah pernah ada sebelumnya dan merupakan hasil karya seni budaya yang sangat tinggi nilainya. Meski keindahannya merupakan keindahan visual saja.
Di bawah ini beberapa motif batik yang tergolong batik dengan pengaruh Belanda, yaitu :
Batik Belanda (Frannquemont)
pola Hanzel dan Gretel
Batik Belanda (J. Jans)
pola Buketan isen latar
Batik Belanda (Wollweber)
pola Limaran




Pola Batik Buketan

Pola Buketan Batik
Motif buketan merupakan motif dengan mengambil tumbuh-tumbuhan atau bunga sebagai ornamen atau hiasan yang disusun memanjang selebar kain.  Kata buketan sendiri berasal dari bahasa Perancis bouquet yang berarti rangkaian bunga. Motif ini mudah anda kenali karena motif dalam batik ini bergambar bunga, kupu-kupu, burung  hong, burung bangau, dan tumbuhan yang bersulur-sulur seperti tanaman yang tumbuh di Eropa. Gambar-gambar tersebut dirangkai dalam suatu rangkaian yang cantik, dengan warna yang indah.  Batik motif buketan ini banyak berkembang di daerah pesisir Jawa pada abad ke-19. Bersamaan dengan adanya pengaruh Eropa di zaman kolonial, khususnya Belanda. Selain itu motif batik buketan ini juga dipengaruhi oleh keberadaaan pedagang dan pengusaha batik dari Tiongkok pada masa lampau.
Motif Buketan pada Batik Belanda
Sejarah Pola Buketan
Penerapan ragam hias buketan itu mereka lakukan pada saat Batik Belanda yang berawal kurang lebih pada tahun 1840 dan dipelopori oleh Caroline Josephine Van Franquemont dan Catherina Carolina Van Oosterom. Pada awalnya batik Belanda tidak menampilkan pola-pola buketan. Namun demikian, seiring dengan adanya perkembangan polanya, maka batik Belanda pun menampilkan ragam hias buket–buket yang halus dan indah dengan warna-warna cerah serta serasi, bahkan sering dipadu dengan isen latar ragam hias tradisional keraton seperti galaran, gringsing, dan blanggreng yang dibatik sangat halus ( lebih halus dari batikan keraton ). Setelah bahan kimia masuk ke Jawa, maka batik Belanda yang semula hanya menampilkan dua warna itu, mulai menampilkan beragam warna sehingga tampak lebih indah dan halus.
Pola buketan tersebut pertama kali diproduksi oleh Cristina Van Zuylen yaitu salah satu seorang pengusaha batik keturunan Belanda kelas menengah di Pekalongan. Pada tahun 1880, Cristina Van Zuylen telah mengubah tradisi yang semula sebagai karya anonym ( tanpa diketahui identitas pembuatnya ) dan bersifat missal, menjadi karya individual. Identitas nama Cristina van Zuylen dituliskan disudut bagian dalam kain bentuk tanda tangan yang berbunyi “T. van Zuylen” ( kependekan dari Tina Van Zuylen ) pada setiap karyanya. Batik buketan yang terkenal adalah karya Zuylen bersaudara yaitu Cristina Van Zuylen dan Lies van Zuylen.
Batik Van Zuylen tersebut sangat laku, sehingga pengusaha-pengusaha menengah Tionghoa yang semula menerapkan pola-pola dengan ragam hias mitos Cina maupun keramik Cina, mulai membuat batik buketan setelah tahun 1910 sebagaimana diuraikan dimuka. Para pengusaha tersebut antara lain Lock Tjan dari Tegal, Oey-Soe-Tjoen dari Kedungwuni, dan Nyonya Tan-Ting-Hu yang mulai tahun 1925 telah memproduksi batik dengan format “pagi-sore”. Selain itu, dikampung Kwijan ( Tempat tinggal Kepala Daerah Pekalongan Tan-Kwi-Jan ) juga terdapat dua orang pengusaha batik buketan dari golongan Tionghoa yang cukup terkenal yaitu Tjoa-Sing-Kwat dan Mook-Bing-Liat.
Bangkitnya para pengusaha kelas menengah Tionghoa di Pekalongan untuk memproduksi batik dengan pola buketan ternyata mampu memberikan nilai tambah bagi karya seni batik dan tidak hanya menjadi barang dagangan semata. Selain jumlah produksinya yang meningkat, batik karya pengusaha Tionghoa tersebut juga memiliki nilai seni yang tinggi bahkan bisa disejajrkan dengan pelukis di Eropa ( Belanda ), terutama batik yang memiliki pola dan ragam hias mitos Cina. Namun demikian, batik yang diusahakan oleh pengusaha pribumi tetap tidak mengalami perubahan karena batik hanya dianggap sebagai kerajinan atau dagangan saja. Oleh karena itu, batik dibiarkan seperti adanya saja karena dipandang sebagai milik pasar. Hal itulah yang membedakan kedua golongan pengusaha yaitu Tionghoa dan pribumi dalam mengelola industri batik. adanya persaingan antara pengusaha batik Tionghoa dalam industri pembatikan telah membawa berbagai ketegangan, sehingga menimbulkan konflik yang sangat memprihatinkan.

Selamat Datang di BatikDan

Membuat Batik TuliBati
BatikDan : Batik Tradisional Indonesia adalah ensiklopedia Batik Tradisional Indonesia.  Sebagai upaya pelestarian dan referensi bagi para pecinta batik tradisional Indonesia, kami mengumpulkan artikel-artikel dari beberapa sumber sebagai catatan tertulis tentang khasanah pengetahuan tentang batik tradisional Indonesia.
Batik Tradisional Indonesia mempunyai sejarah yang panjang dalam perkembangannya. Meskipun ada yang meragukan bahwasannya batik adalah budaya asli Indonesia, tetapi ditemukannya motif batik pada arca candi Prambanan mengisyaratkan bahwa batik sudah dikenal sebelum Candi Prambanan itu dibuat yaitu 850 Masehi.Dalam perkembangannya, batik tradisional Indonesia tidak menutup kemungkinan dari pengaruh-pengaruh dari luar (India, Arab, Tiongkok, Belanda, ataupun Jepang).  Disamping itu, dalam metode pembuatannya batik tradisional Indonesia juga mengalami perkembangan, metode pewarnaan, bahan perintang (malam), bahan pewarna, maupun metoda pembuatan baru ditemukan. Pengaruh ini tentu saja memperkaya khasanah, corak, ragam, dan motif batik tradisional Indonesia.  Perbedaan yang ada bukanlah sesuatu yang mengurangi keindahan batik tradisional Indonesia, tetapi semakin memperkaya khasanah dan menjadikan batik tradisional Indonesia semakin unik, seperti halnya bangsa Indonesia yang terdiri  dari beraneka ragam suku, bangsa, bahasa, dan budaya.
Batik sebagai warisan budaya bangsa perlu kita lestarikan, hal ini dikarenakan  pada saat ini jumlah pengajin batik khususnya  batik tulis semakin menurun. Disamping itu, minimnya sumber referensi khususnya batik tradisional Indonesia, sejarah perkembangan, jenis batik, motif batik, ragam hias, dan corak yang ada membuat penulis merasa perlu untuk mengumpulkan dan menyarikannya melalui sebuag blog sebagai referensi umum untuk para pecinta batik tradisional Indonesia.  
Berikut ini adalah kumpulan artikel BatikDan, kami berusaha untuk terus menambah dan melengkapi artikel kami, dan besar harapan kami semoga artikel yang kami kumpulkan bermanfaat bagi para pecinta Batik Tradisional Indonesai.

Ragam Hias Batik

Batik Mega Mendung Cirebon
Ragam hias batik adalah hasil lukisan pada kain dengan menggunakan alat yang disebut dengan canting. Jumlah ragam hias pada batik tradisional Indonesia saat ini sangat beragam baik variasi bentuk maupun warnanya. Pada umumnya ragam hias batik sangat dipengaruhi oleh faktor Letak geografis daerah pembuatan, Sifat dan tata penghidupan di daerah bersangkutan, Kepercayaan dan adat istiadat yang ada di daerah tempat pembuatan batik, Keadaan alam sekitar termasuk flora dan fauna, Adanya kontak atau hubungan antar daerah pembuat pembatikan
Unsur-Unsur Ragam Hias
Pada sehelai kain batik memuat sejumlah ragam hias yang dapat dikelompokkan menjadi dua bagian utama yaitu:
1. Ornamen Utama
Ornamen utama adalah suatu ragam hias yang menentukan motif tersebut mempunyai makna, sehingga dalam pemberian nama motif batik berdasarkan perlambang yang ada pada ornamen utama ini. Jika ragam hias utamanya adalah Parang maka batiknya biasannya diberi nama Parang. 
Ragam hias utama banyak sekali macamnya diantaranya: meru, api, naga, burung, garuda, pohon hayat, tumbuhan, bangunan, parang dll.
2. Isen-isen
Isen-isen merupakan aneka corak pengisi latar kain dan pada bidang-bidang kosong ragam hias. Pada umumnya berukuran kecil dan kadang rumit. Dapat berupa titik-titik, garis-garis ataupun gabungan keduannya. Jumlah isen-isen ada banyak sekali tetapi pada perkembangannya hanya beberapa saja yang masih biasa dijumpai dan masih dipakai pada saat ini.
Isen-isen pengisi latar antara lain : galaran, rawan, ukel, udar, belara sineret, anam karsa, debundel atau cebong, kelir, kerikil, sisik melik, uceng mudik, kembang jati dan gringsing.
Isen-isen pengisi bidang kosong antara lain : cecek, kembang jeruk, kembang suruh, kembang cengkeh, sawat, sawut kembang, srikit, kemukus, serit, untu walang. Pembuatan isen-isen memerlukan waktu yang cukup lama bentuk-bentuknya yang kecil dan rumit membututuhkan ketelitian yang tinggi.
Penggolongan Ragam Hias Batik Berdasarkan Bentuknya
Ragam hias batik berdasarkan bentuknya secara garis besar dibagi menjadi dua golongan yaitu golongan ragam hias geometris dan non geometris.
1. Ragam Hias Geometris
ragam hias geometris adalah ragam hias yang mengandung unsur-unsur garis dan bangun seperti garis miring, bujur sangkar, persegi panjang, trapesium, belah ketupat, jajaran genjang, lingkaran dan bintang yang disusun secara berulang-ulang membentuk satu kesatuan motif. yang termasuk ragam hias geometris adalah:
a. Motif Ceplok
Motif ceplok atau ceplokan adalah motif-motif batik yang di dalamnya terdapat gambaran-gambaran bentuk lingkaran, roset, binatang dan variasinya. Beberapa nama motif ceplok, yaitu: ceplok nogosari, ceplok supit urang, ceplok truntum, ceplok cakra kusuma.
b. Motif ganggong
Banyak orang menganggap motif ganggong adalah motif ceplok, karena sepintas hampir sama. Ciri khas yang membedakan motif ganggong dengan ceplok adalah adanya bentuk isen yang terdiri atas seberkas garis-garis yang panjangnya tidak sama dan pada ujung garis yang paling panjang berbentuk serupa salib. Nama-nama motif ganggong antara lain: ganggong arjuna, ganggong madusari, ganggong sari.
c. Motif Parang dan Lereng
Motif Parang merupakan salah satu motif yang sangat terkenal dalam kelompok motif garis miring. Motif ini terdiri atas satu atau lebih ragam hias yang tersusun membentuk garis-garis sejajar dengan sudut kemiringan 45º. Contoh motif Parang dan lereng adalah: Parang rusak, Lereng ukel
d. Motif Banji
Motif banji berdasar pada ornamen swastika, dibentuk atau disusun dengan menghubungkan swastika dengan garis-garis, sehingga membentuk sebuah motif. Nama-nama motif banji antara lain banji guling, banji bengkok, banji kerton, banji lancip.
2. Ragam Hias Non-Geometris
Pola non-geometris merupakan pola dengan susunan tidak terukur, artinya polanya tidak dapat diukur secara pasti meskipun dalam bidang luas dapat terjadi pengulangan seluruh motif. Pola yang termasuk keadalam golongan pola non geometris yaitu :
a. Motif Semen
Ragam hias utama yang merupakan ciri motif semen adalah meru, suatu gubahan menyerupai gunung. Meru berasal dari nama gunung mahameru. Hakekat meru adalah lambang gunung atau tempat tumbuh-tumbuhan bertunas ( Jawa : semi ) hingga motif ini disebut semen. Semen berasal dari kata dasar semi. Ragam hias utama semen adalah Garuda, sawat, lar maupun mirong. Contoh motif semen adalah semen jolen dan semen gurdha.
b. Motif Lung-lungan
Sebagian besar motif lung-lungan mempunyai ragam hias serupa dengan motif semen. Berbeda dengan motif semen, ragam hias motif lung-lungan tidak selalu lengkap dan tidak mengandung ragam hias meru. Motif lung-lungan diantaranya adalah Grageh waluh, Babon Angrem.
c. Motif Buketan
Motif buketan mudah dikenali lewat rangkaian bunga atau kelopak bunga dengan kupu-kupu, burung atau berbagai satwa kecil yang mengelilinginya. Berbagai unsur tersebut tampil sebagai satu susunan yang membentuk satu kesatuan motif.
d. Motif Pinggiran
Motif ini disebut motif pinggiran karena unsur hiasannya terdiri atas ragam hias yang biasa digunakan untuk ”hiasan pinggir” atau ”hiasan pembatas” antara bidang yang memiliki hiasan dan bidang kosong pada dodot, kemben dan udheg.
e. Motif Dinamis
Motif dinamis adalah motif-motif yang masih dapat dibedakan menjadi unsur-unsur motif, tetapi ornamen didalamnya tidak lagi berupa ornamen-ornamen tradisional, motif ini merupakan peralihan motif batik klasik dan modern.

Kain Mori Dalam Pembuatan Batik

Kain Mori Setelah Dipola Batik
Kain mori  atau “muslim” atau “cambric”, adalah kain yang terbuat dari benang kapas. Kain kapas yang ditenun menjadi kain disebut Katun berasal dari bahasa Arab yaitu Quoton. Pada tahun 2500 sebelum Masehi orang mesir menenun kapas untuk membalut mumi raja. Hal tersebut menandakan bahwa kapas sudah dikenal sejak dahulu, bahkan seluruh dunia telah mengenal kapas secara menyeluruh.
Sejarah perkembangan kapas diperkirakan telah diketemukan ditiga tempat berbeda belahan dunia, yaitu India, Cina, Peru, dan Amerika Selatan. Catatan pertama tentang kapas diketemukan oleh sejarawan Yunani bernama Herodotus hidup sekitar tahun 484 sebelum Masehi. Dimana pohon kapas banyak tumbuh di India pada tahun 5000 sebelum Masehi. Sahabat Herodotus bahkan menambahkan bahwa kapas berasal dari “Pohon Domba“ yang merupakan nenek moyang dari hewan domba yang sebenarnya. Penjelajah Marcopolo pada tahun 1298 menyatakan bahwa India merupakan penghasil kapas terbaik didunia.
Kain katun berasal dari serat kapas yang dihasilkan dari buah tanaman jenis gossypium, serat kapas terdiri dari molekul–molekul selulosa yang merupakan polimer linier tersusun dari komdensasi molekul glukosa yang terikat satu sama lain membentuk polimer yang panjang
Berdasarkan tingkat kehalusannya Kain mori atau kain katun dibedakan atas tiga golongan, yaitu:
Golongan Kain Mori Primisima
Mori Primisima adalah golongan mori yang paling halus. Dahulu Indonesia import kain primissima dari Belanda, kemudian mendatangkan dari Jepang. Tahun 1970 Pabrik cambric Medari milik GKBI mulai membangun bagian khusus membuat kain atau mori primissima
Mori atau kain Primissima yang dulu masuk dari negeri Belanda dengan nama cap “Sent“, tapi pada perkembangannya sekarang ini P.T Primissima Medari mengeluarkan produk kain yg setara dengan cap “sent “ dengan nama “Kereta Kencana“ selain itu ada lagi merk Gamelan/Gong, dan merk Tari kupu. Kain atau mori diperdagangkan dalam bentuk piece (blok, geblok, gulungan) dengan ukuran lebar 43 inchi (106 cm) dan panjang 37,5 yard (33,5 m).
Sifat–sifat khusus kain primissima adalah dingin apabiala dipakai karena menyerap keringat, halus karena tenunan yang rapat serta mudah menyerap warna, sehingga dapat menghasilkan warna yang bagus apabila dipergunakan untuk media lukisan dengan mempergunakan pewarna alami. Perawatannya juga lebih mudah dan mempunyai tingkat keawetan yang lebih tahan lama.Mori ini digunakan untuk batik tulis, jarang sekali untuk batik cap. Mori ini diperdagangkan dalam bentuk piece (gulungan) lebar 42" atau + 106 cm, panjang 17,5 Yard + 15,5 m.
Golongan Kain Mori Prima
Mori prima adalah golongan mori halus kedua. Kain mori ini juga bagus untuk dipergunakan sebagai media lukisan dengan menggunakan pewarna alami. Golongan Prima ini belum dapat diproduksi didalam negeri, tetapi kain yangt dibuat oleh Pabrik cambric GKBI–Medari kwalitasnya sudah mendekati golongan prima (Primatexco Batang).
Mori ini digunakan untuk batik tulis maupun cap. Mori ini diperdagangkan dalam bentuk piece (gulungan) lebar 42" atau ± 106 cm, panjang 17,5 Yard ± 15,5 m.
Golongan Kain Mori Biru
Mori biru adalah golongan mori kualitas ketiga. Mori ini digunakan untuk batik kasar atau sedang, tidak untuk batik tulis halus. Mori ini juga diperdagangkan dalam bentuk piece (gulungan) lebar 40" atau ± 100 cm, panjang 16 yard, 30 yard, 40 yard, dan 45 yard.
Golongan Grey/Blaco
Golongan ini adalah jenis kain mori yang kasar.
Sebagian besar batik menggunakan bahan mori (katun), karena di samping harganya relatif murah juga mudah diproses. Adapun proses-proses yang dilakukan selama pembuatan batik, khususnya batik tulis atau cap adalah sebagai berikut
Mencuci/Nggirah/ Ngetel
Biasanya mori batik diperdagangkan dengan diberi kanji secara berlebihan, agar kain tampak tebal dan berat. Karena kanji dalam proses pemberian warna bersifat menghalangi penyerapan, maka perlu dihilangkan kemudian diganti dengan kanji ringan. Cara menghilangkan kanji tersebut, kain direndam dalam larutan enzim atau direndan satu malam, kemudian dikeprok/dicuci kemudian dibilas dengan air bersih. Bila kain tersebut akan dibuat batik halus (kualitas prima atau primisima), maka mori itu tidak cukup hanya dicuci saja, tetapi di “kloyor” atau di “ketel”.
Pekerjaan ngetel mori tidak hanya menghilangkan kanji saja, melainkan kain mempunyai daya penyerapan lebih tinggi dan supel, tetapi terjadi penurunan kekuatan kain walaupun sedikit. Proses ini menyerupai proses merserisasi.
Pada pembatikan sekarang, kain sudah siap untuk dibatik karena kain dipasaran kanji yang diberikan pada kain merupakan kanji ringan dan kain telah mengalami proses merser.
Yang dipakai untuk ngetel pada dasarnya adalah campuran minyak nabati (minyak kacang, minyak klenteng, minyak kelapa) dan bahan–bahan pelarut lain seperti soda abu, soda kostik, soda kue. Kain dikerjakan berulang–ulang dengan larutan tersebut dimana setiap pengerjaan ulang kain dikeringkan/dijemur
Pekerjaan ketelan tersebut masih banyak cara–cara dan variasinya, tiap daerah pembatikan mempunyai cara dan pengalaman sendiri – sendiri. Beberapa cara diatas merupakan contoh.
Pada era sekarang ini pengerjaan mengetel sudah tidak dikerjakan lagi mengingat lama dan kurang efesien. Sebagai gantinya kain direndam dalam larutan penghilang kanji seperti enzim dan sebagainya.
Menganji Kain
Kain yang akan dibuat batik perlu dikanji agar lilin batik tidak meresap kedalam kain. Tetapi kanji tersebut tidak boleh menghalangi penyerapan zat warna pada kain, maka kanji yang diberikan adalah kanji tipis atau kanji ringan.
Ngemplong
Kain mori yang telah dikanji perlu dihaluskan atau diratakan permukaannya dengan cara dikemplong.
Ngemplong adalah meratakan kain dengan cara kain dipukul berulang–ulang dengan menggunakan palu dari kayu. Cara ngemplong adalah kain yang telah dikanji dan kering, beberapa lembar kain dilipat kemudian di letakKan dia atas landasan kayu yang permuakannya rata, gulungan kain diikat dengan landasan kayu agar tidak lepas, kemudian kain dipukul dengan pemukul kayu. Setelah kain rata gulungan kain dibuka dan kain satu persatu dibuka, dilipat untuk dibatik.
Karena meratakan kain dalam keadaan dingin, tidak seperti jika menggunakan seterika panas, maka kanji pada mori mudah dihilangkan dengan pencucian. Pewarnaan tidak terganggu oleh adanya kanji pada kain batik dalam proses persiapan ini.
Mencanting atau Mencap Kain Mori
Kain yang sudah dikerjakan persiapan, bila akan dibatik, dipola lebih dulu bertujuan untuk menggambar desain dengan pinsil, kemudian baru masuk pada pembatik tulis. Untuk batik cap, proses pembatikan dapat langsung dikerjakan tanpa perlu dipola.
Memberi Warna
Mori batik yang telah dicap atau ditulis dengan lilin yang merupakan gambaran atau motif dari batik yang akan dibuat, diberi warna, sehingga pada tempat yang terbuka menjadi berwarna sedang pada tempat yang tertutup dengan lilin tidak kena warna atau tidak diwarnai.
Menghilangkan Lilin Batik
Menghilangkan lilin batik pada kain batik dapat berupa menghilangkan sebagian atau keseluruhan. Menghilangkan lilin sebagian atau setempat adalah melepaskan lilin pada tempat-tempat tertentu dengan cara menggaruk lilin itu dengan alat semacam pisau, pekerjaan ini disebut ”ngerok” atau ngerik”.
Menghilangkan lilin keseluruhan pada akhir proses pembuatan batik, disebut ”mbabar” atau ”ngebyok” atau melorod. Menghilangkan lilin pada kain secara keseluruhan ini dikerjakan dengan cara pelepasan di dalam air panas, di mana lilin meleleh dan lepas dari kain. Air panas sebagai air lorodan tersebut biasanya diberi larutan kanji untuk kain batik dengan zat warna dari nabati, sedang untuk batik dengan zat warna dari anilin (sintetik) air lorodan diberi soda abu.
Untuk batik dari sutera atau serat protein yang lain, maka penghilangan lilin secara pelarutan, yaitu kain direndam dalam pelarut lilin yaitu bensin (tetapi awas akan bahaya kebakaran). Cara lain untuk menghilangkan lilin pada batik sutera, pada proses pembatikan digunakan lilin khusus yang mudah lepas pada air panas, dapat juga tetap digunakan lilin biasa tetapi pada air lorodan diberi emulsi minyak tanah dan teepol, atau kain direndam dingin dalam larutan alkali (misalnya 10 gram per liter soda abu).

Batik Lok Can

Kain Lokcan
Pengaruh budaya Tiongkok juga terdapat pada batik di pesisir utara Jawa Tengah hingga saat ini yang dikenal dengan nama Lok Can. Lok Can merupakan burung yang dibawa oleh tentara Tartar. Setiap daerah di Indonesia memiliki motif yang berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain.
Orang-orang Tionghoamulai membuat batik pada awal abad ke-19. Jenis batik ini dibuat oleh orang-orang Tionghoa atau peranakan yang menampilkan pola-pola dengan ragam hias satwa mitos Tiongkok, seperti naga, ragam hias yang berasal dari keramik Tiongkokkuno serta ragam hias yang berbetuk mega dengan warna merah atau merah dan biru. Batik Tionghoajuga mengandung ragam hias buketan, terutama batik Tionghoa yang dipengaruhi pola Batik Belanda. Pola-pola batik Tionghoa dimensional suatu efek yang diperoleh karena penggunaan perbedaan ketebalan dari satu warna dengan warna lain dan isian pola yang sangat rumit. Hal ini ditunjang oleh penggunaan zat warna sintetis jauh sebelum orang-orang Indo-Belanda menggunakannya.
Batik Tulis Lok Can
Batik Lok Can awalnya dibuat dengan bahan sutera (bahasa Cina: Can = sutera). Warna motif batik Lok Can didominasi oleh warna biru, khususnya biru muda (bahasa Cina: Lok = biru), dan warna latar belakang putih atau krem. Namun kini, banyak dijumpai Batik Lok Can berbahan katun primis super halus dengan variasi warna yang semakin menarik dan terjangkau harganya.
Ornamen utama motif Batik Lasem Lok Can sesungguhnya berupa stylisasi burung hong (phoenix). Meski ada kalanya dimodifikasi dengan motif burung kecil, yakni wallet/sriti, yang banyak terdapat di Lasem. Modifikasi Motif Burung Phoenix selalu diharmonisasikan dengan motif flora dan bahkan fauna. Selain bernilai artistik estetis, Batik Lasem Lok Can memiliki makna sosial filosofis, yaitu burung Phoenix (Hong) melambangkan kebajikan, prestasi, dan keabadian.

Sejarah Batik Malaysia Motif dan Keanekaragamannya

Pengrajin Batik di Malaysia
Pengrajin Batik di Malaysia
Sejarah batik Malaysia dimulai pada abad ke 18 saat Batik Minah Pelangi mendirikan perusahaan Batik di Trengganu. Pada tahun 1911 Haji Che Su bin Haji Ishak mendirikan perusahaan Batik di kawasan Lorong Gajah Mati, Kota Baru - Kelantan. Pada jaman dahulu, masyarakat Melayu menggunakan kentang sebagai alat cap pembuat batik, tetapi saat ini kain batik telah dibuat dengan alat-alat modern. Di Melayu (Pulau Sumatra dan Malaysia), suatu motif batik yang disebut Batik Pelangi yang telah diperkenalkan sejak tahun 1770-an.
Pada saat itu teknik pembuatan batik hanyalah menggunakan teknik ikat dan celup dan dikenali sebagai Batik Pelangi. Pada saat itu kain diimport dari Thailand jenis ‘Kain Pereir’ sementara itu pewarna dibuat sendiri dengan menggunakan pewarna buah dan kulit kayu. Warna kain batik pelangi hanyalah Biru dan hitam saja. Pada tahun 1922 Haji Che Su telah mulai membuat batik yang menggunakan blok kayu (tehnik batik cap). Pada tahun 1926 pewarna kimia dari Eropa telah membawa perkembangan batik Malaysia dan mulai banyak digunakan. Aneka corak batik awalnya dipengaruhi oleh corak batik Indonesia disertai dengan nama batik yang dikomersialkan.
MOTIF BATIK MALAYSIA
Motif batik di Malaysia banyak dipengaruhi oleh alam sekitar. Motif-motif ini dihasilkan karena kepekaan masyarakat tradisional terhadap lingkungan. Bagi mereka apa saja yang menarik dan mengandung falsafah sendiri bisa dijadikan corak. Oleh itu kita boleh membuat kesimpulan bahwa motif-motif ini menunjukkan penyatuan masyarakat tradisional dengan alam. Terdapat enam jenis motif alam yang digubah menjadi corak atau ragam hias yang menarik:
Unsur flora
Fungsi unsur flora adalah seperti berikut:
§  Untuk menghiaskan kain batik ela. Motif flora seperti bunga, kudup, putik, daun, ranting dan pucuk digunakan secara tunggal atau bertabur
§  Untuk menghiasi badan batik sarung.
v bunga, kuntum, putik, ranting dan pucuk disusun menjalar datar dengan bentuk lembut
v helaian daun, kelopak serta ranting dan bunga
v bunga disusun berdahan tegak
§  Untuk menghiasi bahagian kepala kain (gunung) biasanya motif pucuk rebung biasa digunakan, ragam corak diubah bukan secara realistik tetapi campuran gaya organik dan geometri.

Unsur Flora Pada Batik Malaysia
Unsur Flora Pada Batik Malaysia





Unsur fauna
Unsur-unsur fauna adalah seperti:
Motif rama-rama, kumbang, burung, ayam, rusa, bangau, ikan, kijang dan sebagainya.
Unsur Fauna Pada Batik Malaysia
Unsur Fauna Pada Batik Malaysia







Unsur geometri
Fungsi motif unsur rupa geometri:
§  Untuk hiasan kaki kain atau gigi — susunan garis-garis halus, motif parang rusak, motif banji atau swastika dan motif pinggir awan digunakan.
§  Garis-garis lurus yang direka dan disusun menjadi motif seperti cangkerang, siput, kisi-kisi, jaring bersilang dan lain-lain lagi.
§  Untuk menghiasi batik panjang — motif kawung dalam susunan empat bentuk bujur sering digunakan.
§  Motif ceplok dengan susunan segi empat yang berisikan beberapa bentuk lain seperti bunga, unggas atau binatang dan garis berpalang digunakan bentuk ini bukan bentuk geometri sebenarnya, ini merupakan campuran gaya organik dan geometri.
Contoh motif unsur geometri: keluk pinggir awan persegi, pilin berganda', buntut siput, parang rusak, banji, ceplok, jalur, kawung.
Unsur Geometri Pada Batik Malaysia
Unsur Geometri Pada Batik Malaysia





Unsur benda buatan manusia
Fungsi motif unsur buatan manusia yang agak moden ini biasanya digunakan untuk hiasan batik ela. Contoh motif unsur benda buatan manusia:
§  abor
§  jaring ikan
§  kampung
§  layang layang
Unsur Buatan Manusia Pada Batik Malaysia
Unsur Buatan Manusia Pada Batik Malaysia







Unsur Motif Isen
Isen ialah motif pengisi untuk, memenuhi kain batik tradisional atau sebagai latar belakang kepala sesualu pola corak.
Contoh jenis isen:
Ada-ada, atap, sirapan, berangan, cacah gari, cantlel, cecek-cecek, cecek pitu, cecek sawut daun, galangan, grinsing, mata dara, penutup, poleng, sisik dan sebagainya.
Daftar Pola/Motif Batik Malaysia.
Contoh Motif Isen Pada Batik Malaysia
Contoh Motif Isen Pada Batik Malaysia






Terdapat beberapa jenis susunan motif pada kain batik Malaysia, yaitu:
§  berdiri
§  berjalur
§  calur/ dam
§  kisi-kisi
§  melintang
§  menyeluruh
§  serong
§  tompok-tompok (bertabur)
§  ulang bersilang
§  ulang batu bata
Motif pucuk rebung sering diletakkan pada bagian kepala kain. Susunan motif untuk bagian badan kain lebih bebas, berbentuk bunga berpohon atau bunga tunggal bisa disusun untuk menghasilkan corak. Motif parang rosak, pilin berganda atau banji sering digunakan untuk susunan menyerong. Motif pinggir awan, keluk berlingkar, keluk berbunga dan lengkungan separuh bulat sering menyatukan bentuk dengan bagian badan kain.
JENIS TEKNIK DAN PEMBUTAN BATIK DI MALAYSIA
Terdapat tiga teknik pembuatan batik di Malaysia.
Teknik batik blok
§  Blok tembaga yang berukir dengan gaya ukiran timbul digunakan untuk mengecap.
§  Berbagai wama yang digunakan untuk membuat corak yang berlatarkan kain putih.
§  Biasanya tiga blok yang berbeda digunakan.
§  Setiap blok mempunyai sarang tertentu.
§  Sarang jenis ini meninggalkan garis serta titik yang khas dan bungkus pada terapan lilin apabila dicelup dengan pewama.
§  Corak dan motif yang lebih rumit dan sempurna juga dapat dihasilkan.
Peralatan Yang Digunakan
§  Blok bunga atau sarang yang dibentuk khas dan di pateri mengikut rekaan corak
§  Kuali leper untuk memasak bahan campuran lilin dan pengadang
§  Kuali kawah untuk mencelup, merendam dan merebus kain
§  Meja menerap
Dilapisi span, kain goni atau kelopak batang pisang yang telah diproses dan direndam dalam air garam selama 12 jam.
Biasanya pokok pisang jenis kelat air, pisang Benggala atau Pisang rasa digunakan
§  Kain putih
§  Bahan pewarna
§  Debu soda
Proses membuat batik Cap di Malaysia:
§  Kain putih direbus untuk melembutkan dan menanggalkan kanji, kemudian dijemur sampai kering.
§  Kain dibentangkan dengan rata di atas permukaan meja.
§  Bahan campuran lilin damar dipanaskan dan permukaan blok dicelup kedalam lilin cair itu.
§  Lilin cair diterapkan pada permukaan kain mengikut susunan dan pola letak /motif dengan teliti.
§  Kain yang telah siap dicap dengan lilin dicelup ke dalam bahan pewarna.
§  Proses menerap dan mencelup warna dilakukan berulang kali dengan blok dan pewama yang berlainan untuk menghasilkan kain batik yang beraneka corak dan warna.
§  Kain kemudian direbus dengan air yang dicampurkan dengan bahan debu soda.
§  Kain dicuci dan dibilas sebelum dijemur sehingga kering.
Teknik batik tulis Malaysia
Banyak disukai oleh orang Malaysia karena mempunyai ciri yang up to date; wama eksklusif dan motif yang bebas serta dapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. Batik Tulis juga mempunyai motif/corak yang tersendiri.
Peralatan yang digunakan:
§  Kain putih atau kertas
§  Canting
§  Campuran lilin (lilin paraffin, lilin lebah, dammar & lemak binatang/minyak masak)
§  Berus lembut
§  Serbuk pewarna jenis ‘reactive-dye’
§  Sodium silicate (Pemati wama)
§  Soda ash
§  Pemidang kayu
Proses membuat batik tulis Malaysia:
§  Kain yang telah dicuci (untuk membuang kanji) dikeringkan dan diregangkan pada pemidang kayu.
§  Motif dan corak dilakar pada kain dengan menggunakan pensil (6D).
§  Bahan campuran lilin dipanaskan dengan suhu sedang.
§  Lilin (60%) + damar (40%) + sedikit minyak masak untuk melicinkan aliran lilin.
§  Canting yang berisi lilin cair digunakan untuk melukis mengikuti pola di atas permukaan kain.
§  Bahan pewama disapu pada pola corak.
§  Kain dibiarkan mengering, kemudian disapu atau direndam dengan sodium silikat dan dibiarkan selama 8-12 jam di tempat teduh untuk mematikan warna.
§  Kain yang telah dimatikan warnanya, dicuci dengan air mengalir sehingga menghilangkan bekas sodium silikat tersebut.
§  Kain selanjutnya direbus dan di campur dengan sedikit abu soda sehingga lilinnya lepas.
§  Kain dicuci dan dibilas di dalam air sehingga bersih sebelum dikeringkan.
Teknik Batik Skrin Malaysia
Pada awalnya dipelopori oleh sekelompok pembuat batik di negeri Kelantan dan terus berkembang menjadi satu industri.
Proses pembuatan lebih cepat, lebih ekonomi dan teknik yang digunakan lebih cepat daripada teknik membatik yang lain.
Peralatan:
§  Skrin
§  Sekuji
§  Meja mengecap
§  Selongsong slensil
§  Kain putih
§  Bahan pewarna
§  bahan lekar
Proses membuat batik skrin di Malaysia
§  Motif/Pola dibuat, dilukis dan ditentukan skema warnanya pada kertas
§  Pecahan pola/ corak dibuat mengikut warna untuk menentukan jumlah pemidang yang akan digunakan
§  Selongsong stensil yang diisi dengan bahan laker digunakan untuk melukis corak pada skrin mengikut pecahan warna dan reka corak
§  Kain putih yang bersih diregang diratakan diatas meja
§  Skrin diletakkan di atas permukaan kain dengan ditata dengan rapi
§  Bahan pewarna dituang pada bagian ujung skrin
§  Pewarna disapukan dengan lembut dan rata dengan cara menarik atau menolak sekuji
§  Kain yang telah siap dicetak dijemur sehingga kering
§  Proses penguapan dilakukan pada kain supaya wamanya tidak luntur
§  Kain kemudiannya direndam dan dibersihkan di dalam air hangat yang bercampur bio-soft untuk menanggalkan sisa bahan pewarna di samping untukmelembutkan kain dan dijemur.

BUKU KAMI DI GOOGLE BOOKS

title

BUKU NOVEL KOMEDI ANAK SEKOLAH
 
Support : Batik Tradisional Indonesia | Motif Batik | Keanekaragaman Batik
Copyright © 2013. Batik Tradisional Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by BatikDan
Proudly powered by Blogger