FEEDBURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Batik Indramayu

Indramayu dan sekitarnya adalah komunitas masyarakat nelayan dan merupakan pelabuhan penting pada pantai utara Jawa yang sering disinggahi kapal-kapal asing. Membatik dikerjakan oleh para isteri nelayan pada saat para suami melaut dan bertujuan menambah income/pemasukan keluarga. Mereka menggunakan canting berukuran besar, sehingga sulit untuk mengisi penuh desain batiknya.
Untuk mengisi bidang-bidang kosong, dibuat alat cocohan dengan complongan yang berbentuk seperti sisir dengan jarum tajam yang digunakan untuk mempenetrasi kain begitu selesai dicover dengan lilin. Setelah dicelup, titik-titik membentuk warna sesuai celupan.
Desain batik Indramayu yang berciri khas desain lingkungan laut dan pesisir yang digambarkan secara harafiah, dari kiri: Dara Kipu dan Ganggeng, Jarot Asem dan Urang Ayu
Ragam hias batik Indramayu terdiri dari motif non-geometris atau organik, yaitu susunan motif yang menyebar dinamis dan atraktif memenuhi bidang kain mori. Warna batik Indramayu seperti pada umumnya batik dari daerah pesisir, memiliki ragam warna dengan komposisi yang cerah, segar dan dinamis. Motif batik yang dibuat di desa nelayan sangat dipengaruhi oleh flora dan fauna sekitarnya, sebagai contoh Jarot Asem (Asem Jawa), Dara Kipu, flora atau fauna laut Gaggeng dan Urang Ayu. Motif-motif ini yang merupakan batik kasar dan murah tetapi memiliki keunikan tinggi yang pernah dibuat oleh masyarakat.
Batik Dermayon Indramayu
Salah satu ragam hias batik dari Indramayu adalah batik Dermayon.  Ragam hias batik Dermay banyak terinspirasi oleh mahluk laut dan ornamen-ornamen dari Cina, mengingat letaknya yang berada di daerah pesisir dan adanya komunitas Cina dalam jumlah besar di daerah tersebut. Motif pada batik ini berupa sayap ganda (mirong) yang berasal dari Jawa Tengah dengan bunga-bunga dari Cina dengan latar berupa titik-titik halus yang disebut cocohan. Cocohan diperoleh dengan cara menusukkan serangkaian jarum pada permukaan kain yang sudah ditutup lilin, yang akan menghasilkan titik-titik halus setelah diwarnai.

Batik Cirebon

Pengrajin Batik Tulis di Cirebon
Cirebon merupakan salah satu daerah penghasil batik di Jawa Barat yang memiliki kekuatan dalam penggambaran setiap motifnya. Hal ini disebabkan sejarah batik di Cirebon terkait erat dengan proses asimilasi budaya serta tradisi ritual religius. Sejarah batik Cirebon dimulai ketika Pelabuhan Muara Jati (Cirebon) menjadi tempat persinggahan pedagang Tiongkok, Arab, Persia, dan India. Dengan adanya persinggungan budaya yang berlainan tersebut, akhirnya banyak melahirkan pembauran baik asimilasi maupun interkulturasi yang satu sama lain saling mempengaruhi.
Secara geografis, Cirebon merupakan wilayah strategis yang letaknya berada di pesisir pantai utara Jawa. Kota ini merupakan tempat bertemunya berbagai kebudayaan.  Dalam buku Purwaka Caruban Nagari yang ditulis pada tahun 1720 disebutkan, berbagai bangsa sering mengunjungi pelabuhan Cirebon, yaitu: “orang Tiongkok, Arab, Parsi, India, Malaka, Tumasik, Pasai, Jawa Timur, Madura dan Palembang”. Awal mula penduduk Cirebon konon merupakan masyarakat pendatang dari kerajaan Galuh Pakuan, yang menetap dan mendirikan sebuah perkampungan nelayan. Kondisi perkampungan tersebut semakin lama terus berkembang dan pada akhirnya menjadi kerajaan Cirebon. Demikian pula dengan terjadinya migrasi penduduk dari Jawa Tengah ke Cirebon untuk mencari penghidupan baru. Hal ini menambah semarak dan beragamnya masyarakat yang bermukim di wilayah Cirebon.
Batik Cirebon Motif Taman Arum Sunyaragi 
Salah satu asimilasi dari berbagai pengaruh budaya tersebut dapat terlihat dalam perwujudan seni batik di Cirebon. Secara visual batik Cirebon memiliki banyak ragam dan corak yang menggambarkan betapa banyaknya pengaruh dari luar, baik mancanegara maupun daerah sekitar yang memiliki hubungan erat dengan Cirebon. Pengaruh dari luar yang tampak pada batik Cirebon berasal dari Tiongkok , Arab (dunia Islam) dan India (mitologi Hindu). Di antara tiga budaya tersebut, seni rupa Tiongkok memiliki pengaruh yang sangat besar. Hubungan erat antara Cirebon dengan Tiongkok terjadi karena para saudagar dari Tiongkok sering tinggal dan menetap di daerah ini. Selain itu banyak di antara orang Tiongkok yang menikah dengan penduduk setempat. Demikian pula dengan menikahnya Sunan Gunungjati dengan Oeng Tien, seorang putri dari kekaisaran Tiongkok memiliki dampak yang sangat besar pada bidang seni dan arsitektur di Cirebon. Hal ini misalnya, dapat dilihat dengan adanya ragam hias awan dan bebatuan yang terdapat di keraton Kasepuhan dan Taman Sunyaragi. Hal serupa terdapat pula pada motif kain batik, yang di antaranya pada batik motif Taman Arum.
Hubungan Cirebon sebagai daerah pelabuhan dengan daerah-daerah lainnya dengan para pendatang dari berbagai negeri yang membawa tata-nilai seni budaya telah menjadikan Cirebon mengalami suatu pembauran budaya baik secara internal dan eksternal. Hubungan perdagangan yang erat antara Cirebon dengan negeri Tiongkok, Arab, India (Hindu), telah pula menyebabkan kultur Cirebon berpadu dengan kulturkultur asing tersebut. Perpaduan budaya tersebut pada akhirnya telah membuahkan corak-corak cultural yang beragam pada kebudayaan Cirebon umumnya. Batik Cirebon memiliki keunikan dan kekuatan dalam penggambaran desain motifnya yang telah diakui masyarakat pencinta batik. Batik Cirebon sendiri termasuk golongan batik pesisir, namun sebagian batik Cirebon juga termasuk dalam kelompok batik kraton. Apabila dilihat dari sisi ragam hiasnya, maka batik Cirebon memiliki dua ragam hias, yakni batik pesisiran yang dipengaruhi budaya Tiongkok dan batik kraton yang banyak dipengaruhi oleh agama Hindu dan Islam.
Pengrajin Batik Trusmi - Cirebon
Cirebon merupakan salah satu sentra batik di pulau Jawa yang memiliki perjalanan panjang. Hal ini tidak bisa dipisahkan dari peran pusat pemerintahan (Keraton Cirebon) dan lingkungan sosial masyarakat penyangga tradisi membatik, seperti beberapa tempat produksi batik, yakni Kenduruan, Paoman, Trusmi, dan Kalitengah. Dari beberapa sentra seni kerajinan batik tersebut hanya di desa Trusmi yang masih bertahan hingga saat ini. Pengrajin batik Trusmi merupakan pemasok batik untuk memenuhi kebutuhan Keraton. Motif batik untuk keperluan ini memiliki makna filosofis. Di samping itu pengrajin batik Trusmi juga memproduksi batik gaya pesisiran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Gaya ini lebih dinamis dalam mengikuti selera pasar tanpa harus memiliki makna filosofis.
Pertumbuhan dan perkembangan batik Cirebon yang memiliki kedua klasifikasi yaitu batik Pesisir dan batik kraton adalah bukti betapa uniknya batik Cirebon tersebut. Perkembangan batik Cirebon dalam kurun waktu 10 tahun belakangan ini cukup melonjak dari sisi jumlah (Data Yayasan Batik Jawa Barat). Ketika batik diakui oleh UNESCO sebagai World Heritage (Warisan Dunia) pada tahun 2009, berbusana batik menjadi mode dan batik Cirebon kembali berkembang lagi dengan hasil dari produksi yang awalnya hanya berupa kain, berkembang menjadi aneka ragam bentuk dan jenisnya dari bahan dan barang jadi yang beraneka ragam, dari busana dan aksesoris yang semua bermotif ciri khas Cirebonan. Dahulu batik Cirebon umumnya digunakan untuk kain sinjang (jarik) berupa lembaran-lembaran kain yang menggunakan warna dan motif-motif tradisional, kini juga berfungsi untuk memenuhi kebutuhan sandang dan lainnya, beberapa pengrajin telah mengembangkan produk batik lebih bervariasi dan mengikuti perkembangan zaman.

Batik Pesisir Motif India

Batik Motif Chintz/Sembagi Flores
Batik India adalah wastra batik yang menerapkan ragam hias wastra dari India yaitu kain Patola dan Chintz atau Sembagi. Jenis batik ini mulai dibuat oleh pedagang Arab dan Cina pada awal ke-19 di kawasan pantai utara Pulau Jawa terutama Cirebon dan Lasem.
Setelah perdagangan Nusantara dengan India menurun mengakibatkan sulitnya memperoleh kedua kain tersebut, maka awal abad ke-19 atau akhir abad ke-18 banyak pengusaha batik terutama orang Cina dan Arab membuat tiruan Patola dan Chintz guna mengisi kekosongan pasar, melalui kedua jenis kain inilah unsur budaya India mempengaruhi ragam hias batik. Batik yang menggunakan ragam hias dari kain Sembagi disebut batik Sembagi sementara kain yang menampilkan tiruan pola tenun Patola disebut batik Jlamprang atau batik Nitik.
Batik Motif Patola

Daerah penghasil batik India atau batik Sembagi adalah Cirebon, Lasem, Pekalongan setelah abad ke-17 dan mendapatkan respon pasar yang bagus di Sumatra.Oleh karena itu, di Sumatra hanya batik Sembagi yang tumbuh dan berkembang karena sangat digemari oleh masyarakat Jambi dan Palembang dalam bentuk kain bang–biru (merah biru). Patra Sembagi saat ini telah menjadi ciri khas batik Jambi, yang patranya diperindah dengan menghadirkan ragam hias batik stilisasi dari buah–buahan dan sebagian besar masih menampilkan warna biru indigo, merah mengkudu dan beberapa warna soga.
Batik Jlamprang
Disamping itu, kegemaran bangsawan keraton Surakarta dan Yogyakarta memakai kain Patola mengakibatkan kain batik ini masuk ke lingkungan keraton dan para pengrajin batik keraton meniru pola ini. Tiruan pola-pola tenun Patola di Pekalongan, Surakarta dan Yogyakarta berbeda dan menghasilkan batik dengan warna berbeda. Hal ini terjadi karena pengaruh lingkungan tempat berkembang berbeda. Pengaruh lingkungan pada batik Nitik sangat kuat, terbukti di Pekalongan tiruan pola tenun Patola dengan batik menghasilkan batik Jlamprang.

Mengapa Harga Batik Tulis Mahal Harganya

Pembuatan Batik Tulis
Seringkali kita bertanya mengapa batik tulis mahal harganya?. Sebelum menjawab pertanyaan tersebut diatas marilah belajar bersama cara membedakan antara batik tulis dan batik cap.
Berikut ini adalah perbedaan antara keduanya:
  • Batik Tulis dibuat dengan canting sedangkan batik cap dibuat dengan alat cap
  • Waktu pengerjaan pembuatan batik Tulis 2-3 kali lebih lama dari batik cap. Untuk membuat 1 lembar batik tulis kurang lebih 1-4 bulan tergantung tingkat kerumitan motif batik itu sendiri.
  • Untuk proses pembuatan batik tulis dibutuhkan keahlian, kesabaran, dan ketelatenan dari pembuat batik itu sendiri.
  • Tingkat kerumitan dalam proses pembuatan batik tulis lebih tinggi jika dibandingkan batik cap
  • Pada setiap potongan gambar yang sama pada batik tulis tidak sama antara satu dengan yang lain, hal ini disebabkan oleh faktor human error dari pembatik.  Tetapi dari sinilah letak seni dari batik tulis itu sendiri.
Dari perbedaan antara batik tulis dan batik cap tersebut, bisa disimpulkan bahwa batik tulis yang dibuat dengan alat tulis yang berupa canting mempunyai nilai seni yang lebih tinggi daripada batik cap yang dibuat secara mekanis.  Oleh karenanya ketika anda membeli selembar batik tulis, maka yang anda beli bukan semata-mata selembar kain; tetapi anda telah membeli suatu karya seni.

Kain Jarik

Jarik adalah kain panjang berwarna latar hitam dengan corak batik warna coklat dengan motif batik yang beraneka ragam.  Kain sebagai khasanah Batik Tradisional Indonesia seringkali disebut juga jarit.  Pada masa lalu nyamping atau jarik yang digunakan biasanya berupa batik tulis, tetapi  untuk saat ini rupanya tidak jarang pula dipergunakan batik cap.
Jarik yang bercorak batik mempunyai maksud bahwa jarik batik adalah kostum yang dipakai para kesatria dalam tradisi budaya Jawa (Pakaian kejawen). Dengan memakai kostum berupa jarik ini diharapkan para pemain mempunyai jiwa ksatria dan berwibawa.

Batik Pagi Sore

Batik Pagi Sore
Batik Pagi Sore
Kain batik pagi-sore, yaitu kain batik yang terbagi dua oleh dua motif yang bertemu di bagian tengah kain secara diagonal. Desain penempatan motif batik seperti ini telah ada pada tahun 1930 di Pekalongan. Desain batik pagi-sore sangat populer pada jaman penjajahan Jepang karena pada waktu itu karena sulitnya hidup, untuk penghematan, pembatik membuat kain batik pagi-sore. Satu kain batik dibuat dengan dua desain motif yang berbeda. Sehingga jika pada pagi hari kita menggunakan sisi motif yang satu, maka sore harinya kita dapat mengenakan motif yang berbeda dari sisi kain yang lainnya, sehinga terkesan kita memakai 2 kain yang berbeda padahal hanya 1 lembar kain. Warna yang lebih gelap biasanya dipakai di bagian luar untuk pagi dan siang hari, sementara bagian batik yang berwarna pastel dipakai pada acara malam hari.  Motif pagi sore banyak ditemui pada Batik Djawa Hokokai di pekalongan pada saat pendudukan Jepang (1942-1945) pada saat berlangsungnya perang dunia II. .
Sebagai dampak adanya perang dunia II, perdagangan mori dan obat pewarna terputus, sehingga persediaan menipis. Kalaupun ada, harganya sangat mahal. Pada masa ini pembatik Pekalongan membuat batik baru, yang lebih rumit dan dibuat dengan sistem padat karya, dengan tujuan memperlambat produksi tetapi tidak kehilangan pekerja.  Para pengusaha batik saat itu melakukan penyesuaian produk batik kepada penguasa baru dengan maksud supaya mereka mendapat tempat di pemerintahan. Batik Djawa Hokokai dibuat di perusahaan batik orang Indo-Eropa, Indo-Arab, dan Peranakan, yang diharuskan bekerja untuk orang-orang Jepang, dengan alas an karena kualitas pekerjaan mereka yang sangat halus. Sedangkan kain katunnya dipasok oleh orang-orang yang ditunjuk oleh tentara pendudukan Jepang.
Pola pagi-sore menggambarkan suasana saat itu di mana kain sangat terbatas sehingga pembatik memiliki banyak waktu untuk mengerjakan selembar kain dengan ragam hias yang padat. Sebagian batik Djawa Hokokai ada yang menggunakan susumoyo yaitu motif yang dimulai dari salah satu pojok dan menyebar ke tepi-tepi kain tetapi tidak bersambung dengan motif serupa dari pojok yang berlawanan.
Kupu-kupu merupakan salah satu motif hias yang menonjol selain bunga. Meskipun kupu-kupu tidak memiliki arti khusus untuk masyarakat Jepang, tetapi orang Jepang sangat menyukai kupu-kupu. Motif dominan lainnya adalah bunga. Yang paling sering muncul adalah bunga sakura (cherry) dan krisant, dahlia, anggrek, mawar, lili, dan teratai. Sedangkan motif yang lain yaitu burung, dan selalu burung merak yang merupakan lambang keindahan dan keanggunan. Motif ini dianggap berasal dari Cina dan kemudian masuk ke Jepang.

Sejarah Batik Tulis Bakaran

Pengrajin Batik Tulis Bakaran
Wilayah Desa Bakaran Wetan merupakan daerah pesisir kabupaten Pati yang oleh penduduk setempat dimanfaatkan sebagai tempat pemukiman, ladang, sawah tadah hujan, tambak serta sebagai tempat usaha lainnya termasuk pembuatan barang seni yaitu batik.  Keberadaan batik bakaran ini tak lepas dari usaha Nyai Sabirah sebagai orang yang pertama kali memperkenalkan dan mengajarkan membatik para wanita di sekitar Bakaran. Beliau dengan sabar mengajari mereka membatik bagaimana cara memegang canting (alat untuk membatik) cara meniup lubang canting, cara merebus malam, cara menghubungkan titik-titik dan cara menorehkan ujung canting ke kain yang sudah digambar. Sampai sekarang wanita-wanita Desa Bakaran banyak yang menekuni kerajinan batik, dan sampai saat ini-pun Bakaran merupakan sentral kerajinan batik di wilayah Kabupaten Pati.
Nyai Sabirah juga sama seperti RA. Kartini, waktu itu beliau juga berkeinginan untuk mengangkat derajat kaum wanita di Bakaran Wetan agar sederajat dengan kaum laki-laki. Cara yang dilakukan Nyai Sabirah adalah mengajarakan wanita Bakaran Wetan untuk bertani dan membatik dengan penuh rasa sabar karena beliau sadar pada dasarnya martabat wanita itu sama baik dalam hubungannya manusia dengan Tuhan Yang
Maha Esa dan begitu juga hubunganya dengan mahkluk sosial. Nyai Sabirah juga mengubah pandangan masyarakat khususnya masyarakat Bakaran wetan bahwa wanita juga dapat memimpin, juga dapat bekerja menghidupi keluarganya, tidak hanya lelaki saja yang dapat memimpin dan bekerja.
Nyai Sabirah adalah keturunan dari kerajaan Majapahit. Pada saat kerajaan Majapahit terjadi perang saudara, tiba-tiba pemberontak membakar kerajaan Majapahit selama tiga hari tiga malam keadaan yang sudah kacau balau itu diperparah lagi dengan datangnya pasukan tentara Demak di bawah pimpinan Raden Patah (1500-1518) sebenarnya Raden Patah ini bermaksud baik ingin menumpas pemberontak di kerajaan Majapahit, akan tetapi kerajaan Majapahit beranggapan bahwa Demak memberontak melawan Majapahit.
Banyak keluarga Majapahit yang melarikan diri meninggalkan kerajaan untuk menyelamatkan diri termasuk di dalamnya kakak beradik Ki Dukut dan adiknya Nimas Sabirah, perjalanan kakak beradik itu sampailah ke suatu hutan belantara mereka berdua bergotong-royong membuka lahan pertanian dan tempat tinggal dengan cara membabat hutan tersebut,di saat mereka berdua bergotong-royong, sang adik meminta kepada kakaknya agar dia dibebaskan dari tugas pembabatan hutan tersebut dengan alasan tugas itu berat bagi seorang perempuan, bahwa tenaga laki-laki tentunya lebih kuat dan mampu membuka lahan yang banyak dibanding perempuan.
Sang adik mempunyai usul kepada kakaknya "Kak...kamu adalah seorang laki-laki pasti wilayahmu lebih luas dari aku,” kata Nimas Sabirah kepada kakaknya "Aku punya usul begini kak, supaya adil kalau seandainya aku mengumpulkan sedikit sampah dan membakarnya, nanti di mana jatuhnya abu di situlah wilayah bagianku, bagaimana menurutmu kak?", lanjut Nimas Sabirah kepada kakaknya.  Kemudian kakak-nya menjawab "Sebagai kakak yang bijaksana aku setuju dengan usulanmu".
Mulailah Nimas Sabirah mengumpulkan sampah yang kemudian membakarnya. Atas izin Sang Pencipta tiba-tiba angin bertiup sangat kencang dan membawa abu sampah itu berterbangan ke mana-mana sesuai perjanjian dengan sang kakak, maka di mana abu (langes) itu jatuh di situlah wilayah sang adik. Pembabatan hutan itu mengundang perhatian masyarakat di sekitar hutan untuk ikut bergabung. Mereka membantu membabat hutan untuk tempat tinggal dan membuka usaha mereka banyak warga masyarakat yang ikut bergabung, semakin luas pula wilayah baru tersebut, tidak lagi sebuah desa kecil, tetapi menjadi perkampungan baru yang sangat luas dengan penduduk yang cukup banyak. Wilayah jatuhnya abu itu kemudian disebut Desa Bakaran.
Nimas Sabirah di Desa Bakaran itu mengajak warga masyarakat untuk hidup rukun, gotong-royong dan saling tolong-menolong. Nyai Sabirah memberi contoh warga masyarakat untuk mengolah lahan pertanian dengan baik dan beliau juga ikut bertani sebagaimana masyarakat desa itu. Nimas Sabirah ingat akan pesan orang tua dan leluhurnya agar dia menjadi wanita yang utama. Pengertian wanita yang utama menurut orang Jawa dimaksudkan bahwa seorang wanita dituntut mempunyai keutamaan moral dalam menjalin hubunganya dengan Tuhan Yang Maha Esa dan hubungannya sesama melalui segala aspek jasmani maupun rohani. Nimas Sabirah beranggapan bahwa wanita mempunyai martabat sederajat dengan pria, baik dari segi hubungannya dengan Tuhan maupun sebagai makhluk sosial.
Nimas Sabirah dengan kecerdasannya mengajak masyarakat untuk membangun suatu bangunan tempat berkumpul sekaligus tempat pencerahaan jiwa. Bangunan itu terletak disamping rumahnya. Masyarakat bergotong-royong membangun tempat itu dengan senang hati. Bangunan itu bentuknya seperti masjid, menghadap ke timur mengarah ke kiblat, namun bangunan itu tidak ada tempat untuk pengimaman (tempat memimpin sholat). Bangunan itu terdiri dari ruang utama atau ruang dalam dan serambi. Orang memberi nama atau menyebutnya bangunan Sigit (Isine Wong Anggit) bangunan Sigit ini digunakan oleh Nyai Sabirah sebagai tempat berkumpulnya masyarakat Bakaran Wetan ketika Nyai Sabirah panen beliau mengumpulkan warganya untuk makan bersama dan malamnya menonton pertunjukan wayang.
Bangunan Sigit itu sampai saat ini masih terawat kokoh dan bahkan pernah direnovasi warga Bakaran tahun 1923. Tulisan yang tertera pada pintu utama sigit tertulis dengan jelas 15 September 1923. Serambi sigit pernah direnovasi generasi penerusnya dan dalam blandar (kayu) tertulis 10 November 1949. Pada kayu punden-pun pernah direnovasi dan tertulis dengan jelas 15 Februari 1957.
Nimas Sabirah selain mendirikan bangunan sigit juga membangun sumur, yang dibagian atas sumur itu dibangun dengan batu bata merah. Seperti kebiasaan wanita pedesaan lainnya Nimas Sabirah juga melakukan aktivitas yang sama memasak, mandi dan mencuci. Sumur itu sampai saat ini masih terawat dan konon air sumur itu dapat digunakan untuk mengobati berbagai macam penyakit dan tempat untuk membuktikan orang yang telah melakukan kesalahan dan orang itu tidak mengakui kesalahanya.
Nyai Sabirah walaupun seorang wanita, beliau mempunyai piaraan yang sangat unik yaitu ayam jantan. Ayam jantan Nyai Sabirah selalu berkokok setiap paginya untuk membangunkan warga masyarakat untuk segera bangun dan mencari nafkah. Ayam jantan itu di beri nama Jago Tunggul Wulung dan ayam jantan piaraan Nyai Sabirah ini tidak terkalahkan apabila ditandingkan dan yang bertugas merawatnya adalah Bagus Kajieneman.
Kelembutan serta kasih sayang dan kedermawanan Nyai Sabirah menjadikan beliau dikenal banyak orang. Banyak tamu-tamu berdatangan dari segala penjuru dan segala lapisan masyarakat. Tamu-tamunya menyebutnya dengan sebutan Nyai Ageng Bakaran (Orang Agung di Bakaran). Setiap ada tamu dari luar wilayah yang datang selalu dimuliakan dan disambut dengan senyuman.  Nyai Sabirah melaksanakan ungkapan jawa bahwa “Ulat sumeh agawe renane wong akeh” orang yang selalu tersenyum pasti membuat banyak orang bahagia. Setiap tamu yang datang selalu diaruh, disuguh, direngkuh. Diaruh maksudnya setiap tamunya yang datang disambut dengan kata-kata yangmenyejukan hati dan menyenangkan. Disuguh setiap tamu yang datang selau diberi minuman dan makanan. Direngkuh setiap tamu yang datang dianggap saudara.
Dalang Sapanyana dan Trunajaya Kusuma adalah anak asuh dari Nyai Sabirah yang membantu beliau untuk menjamu para tamu, selain itu Nyai Sabirah juga mengajarkan membatik para wanita di sekitar Bakaran. Beliau dengan sabar mengajari mereka membatik bagaimana cara memegang canting (alat untuk membatik) cara meniup lubang canting, cara merebus malam, cara menghubungkan titik-titik dan cara menorehkan ujung canting ke kain yang sudah digambar. Sampai sekarang wanita-wanita Desa Bakaran banyak yang menekuni kerajinan itu, dan sebagai khasanah Batik Tradisional Indonesia.

BUKU KAMI DI GOOGLE BOOKS

title

BUKU NOVEL KOMEDI ANAK SEKOLAH
 
Support : Batik Tradisional Indonesia | Motif Batik | Keanekaragaman Batik
Copyright © 2013. Batik Tradisional Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by BatikDan
Proudly powered by Blogger