FEEDBURNER

Enter your email address:

Delivered by FeedBurner

Latest Article Get our latest posts by subscribing this site

Cara Menentukan Kualitas Batik

Presiden Jokowi Belanja Batik di Cirebon
Seringkali kita bertanya-tanya bagaimana cara menentukan kualitas batik yang akan kita beli. Kualitas kain batik yang kita beli akan memengaruhi kenyamanan saat memakainya. Semakin bagus kualitas kain batik, maka harganya juga akan semakin mahal. Namun demikian, yang sangat menentukan tinggi rendahnya harga sehelai kain batik adalah tingkat kesulitan proses pembuatannya.
Bagi Anda yang sangat memerhatikan kualitas untuk barang-barang yang digunakan, memilih kain batik berkualitas bagus pasti menjadi suatu hal penting. Berikut beberapa tips yang bisa digunakan saat memilih kain batik.
Jenis Batik
Perhatikan jenis kain batik sebelum membeli, apakah batik tulis atau batik cetak/cap. Biasanya, kain pada batik tulis memiliki kualitas yang lebih baik dibanding batik cetak atau cap.  Di samping itu, harganya pun juga jauh lebih mahal. Hal ini karena dibutuhkan keterampilan saat proses pembuatannya, disamping itu waktu pembuatan dari batik tulis lebih lama dan lebih rumit jika dibandingkan dengan batik cap atau cetak.  Untuk membedakan atara batik tulis atau cap, batik tulis tiap-tiap corak gambar yang ada pada kain berbeda antara satu sama lain, sedang pada batik cetak/cap sama.  Hal ini disebabkan oleh human error saat pencantingan pada batik tulis, dan dari hal inilah yang menjadikan batik tulis lebih bernilai seni tinggi.
Jenis Bahan.
Terdapat lima jenis bahan (kain) dalam pembuatan batik.
A.  Kain Sutera
Sejak jaman dahulu, sutra telah digunakan untuk pakaian yang istimewa. Saat mengenakan pakaian yang terbuat dari sutra, kita akan merasakan kenyamanan dan kelembutan dari bahan sutra tersebut.
B.  Kain Serat Nanas
Serat nanas teksturnya kasar mirip dobi. Biasanya terlihat sulur-sulur pada kain tersebut dan mengkilap. Hampir semua kain mempunyai tingkatan dari yang paling kasar sampai yang paling halus.Tergantung dari pencampuran bahan dasar pembuatan kain.
C. Kain Paris
Kain Paristeksturnya lembut dan jatuh. Bahannya tipis dengan serat kain yang kuat. Kain paris pun memiliki tingkatan-tingkatan seperti kain-kain yang lain.
D. Kain Katun
Terdapat 3 jenis kain katun yang biasanya digunakan dalam pembuatan batik, dan jika diurutkan berdasarkan kualitasnya maka:
1.  Polisima
2.  Primissima
3.  Prima
Seperti halnya kain katun, kain mori mempunyai beberapa tingkatan berdasarkan kualitasnya; yaitu:
1.  Mori Primissima
2.  Mori Prima
3.  Mori Biru
Kualitas Pewarnaan
Rabalah warna cat yang terdapat pada kain batik. Pastikan warna yang ada di sana tidak menempel pada tangan Anda. Bila warna cat meninggalkan bekas di tangan berarti pewarna kain yang digunakan memiliki kualitas rendah. Hal ini bisa menyebabkan luntur sehingga lambat laun kain batik Anda menjadi pudar.
Kualitas Cetakan
Cobalah untuk membalik bahan kain batik yang akan Anda beli. Kain batik dengan kualitas bagus biasanya memiliki cetakan luar dan dalam yang sama. Jadi, ketika Anda membalik kain batik, motif dan warna yang ada di bagian dalam sama dengan bagian luar. Ini menunjukkan kain tersebut telah melalui proses pembuatan yang detail dan lebih awet ketimbang kain batik yang bagian luar dan dalamnya berbeda.
Disamping beberapa tips diatas, cobalah untuk menempelkan kain batik yang ingin anda beli ke kulit, jika anda merasakan kain terasa dingin jika dikenakan ini artinya bahan batik tersebut merupakan kain dengan kualitas bagus.  Biasanya kain batik jenis ini juga tidak akan mudah kusam meskipun Anda telah mencucinya berkali-kali. Dan juga jangan takut ketika Anda menemukan kain batik yang tampak kaku, karena hal ini memang sering terjadi dan akan melunak sendiri setelah dicuci.
Demikian batikdan menyarikan dari berbagai sumber tentang tips cara menentukan kualitas batik bagi anda, semoga bermanfaat.

Batik Kraton

Batik Motif Kraton
Pada zaman dahulu, pembuatan batik yang pada tahap pembatikannya hanya dikerjakan oleh putri-putri di lingkungan kraton dipandang sebagai kegiatan penuh nilai kerokhanian yang memerlukan pemusatan pikiran, kesabaran, dan kebersihan jiwa dengan dilandasi permohonan, petunjuk, dan ridho Tuhan Yang Maha Esa. Itulah sebabnya ragam hias wastra batik senantiasa menonjolkan keindahan abadi dan mengandung nilai-nilai perlambang yang berkait erat dengan latar belakang penciptaan, penggunaan, dan penghargaan yang dimilikinya.
Batik kraton adalah wastra batik dengan pola tradisional, terutama yang semula tumbuh dan berkembang di kraton-kraton Jawa. Tata susunan ragam hias dan pewarnaannya merupakan paduan mengagumkan antara matra seni, adat, pandangan hidup, dan kepribadian lingkungan yang melahirkannya, yaitu lingkungan kraton.
Pada awalnya pembuatan batik Kraton secara keseluruhan yaitu mulai dari penciptaan ragam hias hingga pencelupan akhir, kesemuanya dikerjakan di dalam Kraton dan dibuat khusus hanya untuk keluarga raja. Seiring dengan kebutuhan wastra batik di lingkungan Kraton yang semakin meningkat, maka pembuatannya tidak lagi memungkinkan jika hanya bergantung kepada putri-putri dan para abdi dalem di Kraton, sehingga diatasi dengan pembuatan batik diluar Kraton oleh kerabat dan abdi dalem yang bertempat tinggal di luar Kraton. Usaha rumah tangga ini berkembang menjadi industri yang dikelola oleh para saudagadan mulai berkembang di luar Kraton dalam bentuk batik Sudagaran dan Batik Pedesaan. Batik Kraton terdapat di Kasunanan Surakarta, Kasultanan Jogjakarta, Pura Mangkunegaran dan Pura Pakualaman. Perbedaan utama dari keempat Batik Kraton terletak pada bentuk, ukuran, patra dan nuansa warna soga (coklat).
Batik Kraton Jogjakarta
Desain Batik Kraton Jogjakarta, Grompol
Desain Batik Kraton Jogjakarta, Grompol
Jogjakarta sebagai ibukota dan kerajaan di Jawa, dikenal sebagai jantung seni batik. Desain batik Jogja sangat unik yaitu mengembangkan kombinasi beberapa motif geometris.Contoh desain Batik Jogja adalah: Grompol dan Nitik.
Grompol biasa digunakan untuk acara pernikahan. Grompol berarti datang bersama, menyimbolkan kehadiran bersama semua hal yang baik, seperti; nasib baik, kebahagiaan, anak dan perkawinan yang harmonis. Nitik merupakan motif yang banyak ditemui di Jogja. Selama perayaan tahunan kolonial (Jaarbeurs) di masa penjajahan Belanda, seorang produsen batik memberinama Nitik Jaarbeurs untuk motif yang mendapat penghargaan.
Batik Kraton Surakarta
Batik Surakarta: Sawat/Lar
Batik Surakarta: Sawat/Lar
Surakarta atau Solo adalah satu dari dua kesultanan Jawa, dengan segala tradisi dan adat-istiadat kraton yang merupakan pusat kebudayaan Hindu-Jawa. Kraton bukan hanya kediaman raja, tetapi juga pusat pemerintahan, keagamaan dan kebudayaan yang direfleksikan dalam seni daerah, terutama pada ciri batiknya: motif, warna dan aturan-aturan pemakaiannya. Di Solo terdapat beberapa aturan khusus tentang pemakaian batik, meliputi: satus tsosial pemakai dan acara khusus di mana batik harus digunakan dalam hubungannya dengan harapan atau berkah yang disimbolisasi melalui desain batik.
Desain batik Solo juga sering dihubungkan dengan kultur Hindu Jawa, simbol Sawat dari mahkota atau kekuasaan tertinggi, simbol Meru dari gunung atau bumi, simbol Naga dari air, simbol Burung dari angin atau dunia bagian atas dan simbol Lidah Api dari api. Beberapadesain tradisional yang dipakai pada acara-acara penting, misalnya: Satria Manah dan Semen Rante yang dikenakan pada saat acara lamaran pengantin.
Batik Surakarta, Desain Kain Panjang
Batik Surakarta, Desain Kain Panjang
Desain Kain Panjang dibuat dalam workshop Panembahan Hardjonagoro, Surakarta pada awal 80'an, bermotif kombinasi pengaruh beberapa daerah, tetapi secara keseluruhan gaya dan warnanya tipikal desain Solo. Kain panjang adalah kain dua kali setengah meter, yang digunakan sebagai sarung formal.
Batik Pura Mangkunegaran
Gaya motif Pura Mangkunegaran serupa dengan batik Karaton Surakarta, tetapi dengan warna soga cokelat kekuningan. Meski demikian batik pura Mangkunegaran selangkah lebih maju dalam penciptaan motif. Hal ini tampak dari banyaknya motif batik pura Mangkunegaran. Motif batik pura Mangkunegaran antara lain: buketan pakis (karya Ibu Bei Madusari), sapanti nata, ole-ole, wahyu tumurun, parang kesit barong, parang sondher, parang klithik glebag seruni, liris cemeng (karya Ibu Kanjeng Mangunkusumo).
Batik Pura Pakualaman
Pada awalnya wilayah Pakualaman merupakan bagian dari Kasultanan Yogyakarta. Pada tahun 1813 Kasultanan dibelah menjadi Kasultanan Ngayogjakarta dan Kadipaten Pakualaman sebagai akibat persengketaan antara Kasultanan Yogyakarta dengan Letnan Gubernur Jendral Inggris, Thomas Stamford Raffles. Oleh karena itu unsur budaya dan motif batiknya memiliki bayak persamaan.
Gaya motif pura Pakualaman berubah sejak Sri Paku Alam VII mempersunting putri Sri Susuhunan Paku Buwono X. Sehingga kemudian motif batik Pakualaman kemudian tampil dalam paduan antara motif batik Yogyakarta dan warna batik karaton Surakarta. Motif batik Pakualaman diantaranya : candi baruna, peksi manyura, parang barong seling sisik, parang klitik seling ceplok, parang rusak seling huk, sawat manak, babon angrem.
Batik Keraton Cirebon
Cirebon dibawah pemerintahan Sunan Gunung Jati merupakan pusat kerajaan islam tertua di Jawa dan sekaligur merupakan pelabuhan penting dalam jalur perdagangan dari Persia, India, Arab, Eropa dan Cina. Kedua karatonnya, yaitu kasepuhan dan kanoman, menghasilkan batik dengan motif dan gaya yang tidak terdapat di daerah lain. Motif batik cirebon menunjukkan adanya pengaruh budaya Cina. Hal ini tampak pada bentuk penghiasan yang mendatar seperti lukisan ragam hias khas mega dan walasan dalam mega mendung dan wadasan. Beberapa contoh batik lainnya adalah : batik kereta kasepuhan, kapal kandas, peksi naga liman, cerita panji.
Batik Keraton Sumenep
Sumenep terletak di timur pulau Madura yang masih memiliki karaton yang masih terpelihara hingga sekarang. Berbeda dengan batik Madura batik sumeneb berwarna kecokelatan soga, hampir menyerupau batik dari karaton Mataram. Meski demikian juga terdapat batik biru tua, atau hitam dan putih namun dengan tambahan sedikit rona hijau dan merah. Ragam hias sawat dan lar diperkirakan merupakan pengaruh Mataram ketika Mataram menguasai Sumenep. Beberapa contoh batiknya adalah : lar, sekar jagad, lereng, limar buket, carcena lobang.
Batik Pengaruh Kraton
Batik Pengaruh Kraton menampilkan desain perpaduan ragam hias utama batik Kraton Mataram dengan ragam hias khas daerah yang dikembangkan sesuai selera masyarakat, lingkungan alam maupun budayanya.
Pada masa pemerintahan Sultan Agung, seni dan budaya
Kraton Mataram tersebar luas dan Kraton merupakan pusat kegiatan negara, yaitu pemerintahan, agama dan seni-budaya. Oleh karena itu, batik dibawa serta oleh pengikut-pengikut raja. Beberapa penyebaran batik Kraton diantranya terjadi di Banyumas oleh Pangeran Puger yang masih kerabat Kasultanan Jogjakarta, di Madura pada saat Sultan Agung menaklukan Madura dan di Cirebon pada saat Sultan Agung mempersunting putri Kraton Cirebon, sehingga batik Kraton berkembang di Cirebon, Indramayu, Ciamis, Tasikmalaya dan Garut. Komposisi warna pada batik Pengaruh Kraton sangat dipengaruhi oleh lingkungan masyarakat sekitar tempat batik tersebut berkembang.

Batik Pesisir

BatiK Pesisir Yang Dipengaruhi Motif Kraton
Pada zaman penjajahan Belanda, batik dikelompokkan menjadi dua kelompok besar, yakni batik vorstenlanden dan batik pesisir. Yang disebut batik vorstenlanden adalah batik dari daerah Solo dan Yogyakarta, sedangkan batik pesisir adalah semua batik yang pembuatannya dikerjakan di luar daerah Solo dan Yogyakarta.
Istilah batik "pesisir" muncul karena letaknya berada di daerah pesisir utara pulau jawa seperti Cirebon, Indramayu, Lasem, Bakaran, dan lain sebagainya. Pola yang ada pada batik pesisir lebih bebas dan warnanya lebih beraneka ragam, dikarenakan pengaruh budaya luar yang begitu kuat. Tidak seperti batik keraton, batik pesisir lebih ditujukan sebagai barang dagangan. Di samping itu budaya luar pada batik pesisir sangat mempengaruhi bentuk ragam hias batik-nya terutama pada saat masuknya agama Islam pada abad 16. Ragam flora non figuratif menjadi alternatif dalam motif batik pesisir dikarenakan adanya larangan dikalangan ulama Islam dalam menggambar bentuk-bentuk figuratif.
Dalam sejarah perkembangan batik pesisir mengalami kemajuan sekitar abad ke-19, hal yang menyebabkan kemajuannya adalah karena adanya kemunduran produksi tekstil dari India yang selama itu menjadi salah satu produsen kain terbesar yang dijual ke pulau jawa dan mengakibatkan banyak konsumen beralih ke kain batik.
Puncak perkembangan batik pesisir adalah di masa pengusaha Indo-Belanda yang berperan pada usaha pembatikan. Batik tersebut dikenal dengan nama "Batik Belanda". Selain pengusaha dari belanda pengusaha Tionghoa juga ikut dalam usaha pengembangan batik pesisir.
Batik pesisir memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
- Ragam hias batik-nya bersifat natural dan mendapat pengaruh kebudayaan asing secara dominan.
- Warna beraneka ragam
Batik pesisir terbagi menjadi delapan model :
1. Batik pesisir tradisional yang merah biru
2. Batik hasil pengembangan pengusaha keturunan, khususnya Tionghoa dan indo Eropa
3. Batik yang dipengaruhi kuat oleh Belanda
4. Batik yang mencerminkan kekuasaan kolonial
5. Batik hasil modifikasi pengusaha Tionghoayang ditujukan untuk kebutuhan kalangan Tionghoa
6. Kain panjang
7. Batik hasil pengembangan dari model batik merah biru
8. Kain adat
Berdasarkan motifnya batik pesisir terdiri dari:

Motif Batik Khas Tiongkok

Batik Encim Pekalongan
Batik Tionghoa adalah jenis batik yang dibuat oleh pengusaha Tionghoa yang kebanyakan hidup di kota pantai utara Jawa. Patra batiknya menampilkan ragam hias satwa mitos Tiongkok seperti naga, singa, burung phoenix atau hong, kura–kura, kilin, dewa dan dewi ataupun ragam hias keramik Tiongkok, serta ragam hias berbentuk mega. Batik Tionghoa yang dipengaruhi patra batik Belanda yang mulai berkembang kurang lebih 10 tahun sebelum batik Tionghoa, juga menggunakan ragam hias bunga dan buket lengkap dengan kupu–kupu dan burung–burungnya. Ada pula patra batik Tionghoa yang menggunakan ragam hias batik Kraton dan warna soga.  Hingga saat ini yang dapat menyamai halusnya batik Belanda adalah batik Tionghoa, baik dalam teknik maupun patra.
Batik Tionghoa Sarung Tiga Negeri
Batik Tionghoa Sarung Tiga Negeri
Pada awalnya batik Tionghoa hanya digunakan sebagai pelengkap upacara keagamaan. Oleh karena itu, sebelum 1910 batik Tionghoa hanya berupa Tokwi (kain altar), Mukli (taplak meja besar) dan kain batik untuk hiasan dinding dan umbul-umbul yang warnanya masih terbatas pada warna biru Indigo dan merah Mengkudu. Produk batik Tionghoa ada pula yang berupa sarung, dengan patra mirip patra tekstil atau hiasan keramik Tiongkok, yang pada umumnya mempunyai arti filosofis seperti banji (lambang kebahagiaan) dan kelelawar (lambang nasib baik).
Setelah tahun 1910, patra dan warna dari batik Tionghoa mengalami perubahan karena lebih banyak digunakan sebagai busana.  Perkembangan tersebut juga dipicu dengan keadaan pasar yang dibanjiri oleh batik Belanda. Pedagang Tionghoa memanfaatkan peluang ini dengan membuat batik yang patra dan warnanya cenderung dipengaruhi batik Belanda dan unsur budaya Eropa. Batik Tionghoa  juga dibuat untuk masyarakat pedalaman, dengan menampilkan warna dan patra batik Kraton. Jenis batik ini disebut "Batik Tiga Negri”, karena membuatnya melibatkan tiga daerah pembatikan, yaitu Lasem untuk warna merah, Kudus dan Pekalongan untuk warna biru, dan Surakarta, Jogjakarta dan Banyumas untuk warna coklat.
Batik Tionghoa, Sarung Jawa Hokokai
Batik Tionghoa, Sarung Jawa Hokokai
Batik Tionghoa lain yang sangat khas adalah batik Batik Djawa Hokokai yang menampilkan pengaruh budaya Jepang, baik warna maupun patranya, dan dibuat pada era penjajahan Jepang (tahun 1942 – 1945). Format batiknya dibuat dengan format “pagi–sore”, karena pada satu helai kain terdapat dua macam patra batik pada kedua sisi kain. Patra–patra batik Djawa Hokokai tersusun dari ragam hias bernuansa Jepang misalnya bunga Sakura, bunga Seruni, burung Merak dan kupu–kupu, dan warnanya-pun terdiri dari warna–warna yang merupakan selera orang Jepang.
Meski mengandung kesamaan dalam unsur budaya luar Indonesia, batik Belanda dan batik Tionghoa berbeda dari segi pendekatan rohaniah-nya. Patra dan warna batik Tionghoa masih banyak mengandung makna filosofis. Batik Tionghoa terutama terdapat di daerah pesisir seperti Cirebon, Pekalongan. Lasem, Demak dan Kudus. Batik Tionghoa yang terkenal antara lain karya Oey Soe Tjoen (Kedungwuni – Pekalongan), The Tie Siet, Oey Soen King, Liem Siok Hien dan Oey Koh Sing. Oey Soe Tjoen adalah batik paling dikenal di seluruh dunia karena keindahannya.
Hal yang mendorong munculnya batik-batik dengan ragam hias yang berasal dari budaya Tionghoa adalah cara berpakaian para penduduk di kota-kota pelabuhan yang menggunakan batik diikuti oleh orang-orang Tionghoa , yang wanita menggunakan sarting atau kain batik, sedangkan yang pria menggunakan celana dari bahan batik.
Kehalusan batik Tionghoa dapat dikatakan menyamai batik Belanda, baik dalam teknik maupun pola. Pola-pola batik Tionghoa  lebih dimensional, suatu efek yang diperolah karena penggunaan perbedaan ketebalan dari satu warna dengan warna lain, isen pola yang rurnit, seperti cecek yang ditata dengan berbagai tata susun. Penampilan warna yang luar biasa ini ditunjang oleh penggunaan zat warna sintetis jauh sebelum orang-orang Indo-Belanda menggunakannya.
Batik Lasem Bermotif Naga dan Burung Hong
Batik Lasem Bermotif Naga dan Burung Hong
Batik seringkali menampilkan pola-pola dengan ragam hias satwa mitos Tiongkok, seperti:
- naga
- singa
- burung phoenix (burung Hong)
- kura-kura
- kilin (anjing berkepala singa)
- dewa-dewi
- ragam hias yang berasal dari keramik Tiongkokkuno dan
- ragam hias berbentuk mega dengan warna merah dan biru
- ragam hias buketan atau bunga-bungaan, ter-utama batik Tionghoayang dipengaruhi pola batik Belanda dan menggunakan warna seperti batik Belanda.
Adapun ragam hias yang terdapat pada batik Tionghoatersebut merupakan perlambang atau mempunyai makna khusus, seperti:
Kupu-kupu dan Bebek Mandarin, sering digunakan sebagai simbol cinta abadi. Kupu-kupu dianggap sebagai penjelmaan pasangan Romeo-Julietnya Tionghoa (Sampek-Engtay) maka yang menjadikan bebek mandarin sebagai simbol adalah karena unggas ini hanya memiliki satu pasangan hidup sepanjang hayatnya.
Naga,dipercaya sebagai makhluk penjelmaan dewa. Makhluk ini digambarkan sebagai makhluk supranatural yang baik dan bijak. Selain itu naga pun manjadi simbol laki-laki (Yang), yang melambangkan kesuburan, hujan, di musim semi, dan hujan secara umum. oleh karena itu Naga di timur disebut juga sebagai Qinglong atau naga biru.
Burung Hong, dalam catatan sejarah musim semi dan musim gugur yang ditulis pada abad ke-4 SM, digambarkan bahwa burung hong jantan adalah salah satu simbol negeri yang diperintah oleh raja yang bijaksana. Burung Hong merupakan pemimpin hewan-hewan berbulu, jika penggambarannya bersama dengan naga, maka burung hong merupakan simbol permaisuri yang mendampingi sang kaisar (naga).
Bunga Peony, merupakan lambang dari orang yang dicintai jika digabungkan dengan burung Hong)

Sejarah Penyebaran Batik Jawa, Motif, Ornamen dan Makna

Kata "batik" berasal dari gabungan dua kata bahasa Jawa: "amba", yang bermakna "menulis" dan "titik" yang bermakna "titik. Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat.  Beberapa ahli berpendapat bahwa batik di tanah Jawa baru diproduksi pada pertengahan abad ke-18, karena pada masa tersebut belum terdapat kain yang diyakini cocok untuk dibatik dengan menerapkan desain rumit. Meskipun demikian, Kata ‘batik’ tercantum dalam rekening muatan kiriman barang pada tahun 1641 dari Batavia (Jakarta) ke Sumatera.
Salah satu referensi sejarah yang merekam budaya batik di tanah Jawa adalah sisa-sisa peninggalan kerajaan Majapahit yang berupa arca. Banyak ragam hiasan pada arca tersebut yang memperlihatkan motif-motif layaknya batik. Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa pada masa penciptaan batik, tradisi ini hanya diperuntukan bagi kalangan kerajaan saja, sehingga terkesan terbatas. Namun, seiring berkembangnya zaman, batik yang banyak dikerjakan oleh para pekerja di kalangan kerajaan mulai dibawa ke masyarakat luar. Hal ini dikarenakan banyaknya pekerja di kerajaan yang berdomisili di daerah di luar kerajaan tersebut. Akibatnya, batik mulai dijadikan suatu pekerjaan keseharian bagi masyarakat karena dapat bernilai jual. 
Seiring dengan runtuhnya kerajaan Majapahit, tradisi membatik tetap berlanjut di masa penguasaan kerajaan Islam, khususnya pada masa sesudah kerajaan Mataram (1588–1681). Kerajaan Mataram merupakan cikal bakal lahirnya kesultanan Yogyakarta dan kasunanan Surakarta. Kedua daerah ini sangat erat kaitannya dengan perkembangan batik tradisional Indonesia
Kesultanan Surakarta sebagai salah satu pecahan dari kerajaan Mataram, memiliki motif batik yang khas yaitu Sidomukti dan Sidoluruh.
Motif Sidomukti biasanya diterapkan sebagai pakaian pengantin dalam upacara pernikahan, dengan pengharapan bahwa akan adanya kebahagiaan dan kesejahteraan bagi sang pengantin yang menggunakan batik tersebut. 
Sementara itu, motif Sidoluhur memiliki makna suatu pengharapan agar si pemakai dapat berhati serta berpikir luhur sehingga dapat berguna bagi masyarakat banyak.
Di Yogyakarta sendiri, batik pertama kali dikenal pada masa kerajaan Mataram I, di bawah kepemimpinan Panembahan Senopati. Seperti halnya di masa kejayaan Majapahit, batik yang berkembang di masa kejayaan kesultanan Yogyakarta hanya sebatas dikalangan kerajaan saja (keraton). Tradisi membatik dilakukan oleh para abdi dalem (pembantu kerajaan). Selama masa kesultanan tersebut, ada kalanya orang-orang keraton  menggunakan pakaian batik dalam rangka suatu upacara resmi kerajaan. Hal inilah yang menjadi awal mula batik mulai dikenal oleh masyarakat.
Penyebaran sentra industri batik di pulau Jawa sendiri dipengaruhi oleh beberapa hal:
Perluasan Kerajaan Majapahit
Dalam usaha perluasan wilayah kerajaan Majapahit, beberapa petugas kerajaan dan keluarga kerajaan membawa serta budaya membatiknya ke daerah baru. Seperti yang terjadi di daerah Kwali, Mojosari, Betero dan Sidomulyo Kabupaten Mojokerto. 
Keruntuhan Majapahit
Pada saat-saat keruntuhan Kerajaan Majapahit banyak keluarga kerajaan Majapahit yang melarikan diri ke beberapa daerah. Dalam masa pelariannya tersebut, beberapa menularkan ilmu membatiknya kepada warga sekitar sehingga daerah-daerah yang belum mengenal batik bisa mengenal dan memproduksi batik sendiri. Hal ini terjadi di desa Bakaran kecamatan Juwana Kabupaten Pati, dimana terdapat sentra industri batik yang pertama kali dirintis oleh salah seorang keluarga kerajaan Majapahit.
Perang Diponegoro
Setelah perang perang Diponegoro (1825-1830)banyak penduduk di wilayah kerajaan Mataram berpindah tempat. Mereka mencari daerah yang lebih aman dari peperangan, seperti Banyumas, Pekalongan, Kebumen, Tasikmalaya dan Ciamis.
Dengan adanya penyebaran batik ke beberapa daerah di pulau Jawa, semakin memperkaya khasanah batik tradisional Indonesia. Hal ini disebabkan oleh semakin banyaknya motif-motif batik baru yang muncul di daerah-daerah tersebut, dimana setiap daerah mempunyai ciri khas dan motif masing-masing.
Berikut ini adalah beberapa motif batik Tradisional Indonesia:
Batik Motif Sido Wirasat
a. Batik Motif Sido Wirasat
Dikenakan pada saat pernikahan oleh orang tua pengantin, mempunyai makna orang tua memberi nasehat pada anaknya.








Batik Motif Parang Kusumo
b. Batik Motif Parang Kusumo
Dikenakan pada saat pernikahan oleh pengantin putri saat prosesi tukar cincin, termasuk jenis motif batik keraton yang mempunyai makna hati yang berbunga-bunga.








Batik Motif Truntum
c. Batik Motif Truntum
Dikenakan pada saat pernikahan oleh orang tua pengantin, termasuk jenis motif batik keraton Surakarta mempunyai makna orang tua memberi tuntunan pada anak.








Batik Motif Kawung
d. Batik Motif Kawung
Salah satu motif batik keraton Surakarta, melambangkan pertumbuhan, perkembangan dan kesuburan.









Batik Motif Sido Mulyo
e. Sido Mulyo
Dikenakan pada saat pernikahan oleh pengantin putra dan putri, termasuk jenis motif batik pengaruh dari keraton Surakarta, mempunyai makna bahagia serta rejeki yang melimpah.







Batik Motif Semen Rante
f. Batik Motif Semen Rante
Dikenakan oleh utusan, termasuk jenis motif batik petani yang mempunyai makna panah dan mengikat.









Batik Motif Wahyu Temurun
g. Batik Motif Wahyu Temurun
Salah satu jens motif batik keraton Surakarta.










Batik Motif Sido Mukti
h. Batik Motif Sido Mukti
Dikenakan oleh pengantin putra dan putri saat proses resepsi atau penghargaan, termasuk jenis motif batik petani yang mempunyai makna bahagia dan berkecukupan.








Batik Motif Sidoluhur
i. Batik Motif Sido Luhur
Dikenakan oleh pengantin putri pada saat malam pengantin, termasuk jenis batik keraton yang mempunyai makna dua jiwa menjadi satu.








Batik Motif Sido Asih
j. Batik Motif Sido Asih
Dikenakan oleh pengantin putri pada saat malam pengantin, termasuk jenis batik keraton yang mempunyai makna dua jiwa menjadi satu.








Batik Motif Bondhet
k. Batik Motif Bondhet
Dikenakan oleh pengantin putri pada saat malam pengantin, termasuk jenis batik keraton yang mempunyai makna dua jiwa menjadi satu.








Batik Motif Sekar Jagad
l. Batik Motif Sekar Jagad
Dikenakan oleh orang tua pengantin, termasuk jenis motif batik petani yang mempunyai makna hati yang gembira. Beraneka ragam motif batik Surakarta, keseluruhannya mempunyai makna tersendiri yang melambangkan kedudukan, perasaan, peristiwa pemakai batik.






Batik Motif Megamendung
m. Batik Motif Megamendung
Bentuk awan merupakan gambaran dunia luas, bebas dan mempunyai makna transidental (Ketuhanan).











Batik Motif Parang
n. Batik Motif Parang
Motif Batik Parang itu berpola pedang yang menunjukkan kekuatan atau kekuasaan,
karenanya batik bercorak parang diperuntukkan para ksatria dan penguasa.
Kalau berpola pisau belati atau keris , batik bercorak parang boleh dipakai
oleh tiap orang dan dipercaya membawa rizki dan menjauhkan dari
penyakit. Variasinya : Parang Rusak, Parang Barong dan Parang Klitik.


Motif
Dilihat dari mitologi masyarakat Jawa secara keseluruhan, motif batik Jawa mengacu pada unsur alam, masing-masing stilasi (perubahan bentuk dari alamiah ke bentuk baru) mempunyai falsafah yang sama, mulai dari kehidupan air, darat, dan kehidupan udara. Menurut paham Triloka, yaitu faham dari kebudayaan Hindu, unsur-unsur kehidupan tersebut terbagi menjadi tiga bagian, meliputi Alam atas, Alam tengah, Alam bawah, contoh dari ketiga tempat tersebut adalah burung melambangkan Alam atas, pohon melambangkan alam tengah, ular melambangkan alam bawah. 
Ornamen
Ornamen yang berhubungan dengan alam atas atau udara seperti garuda, kupu-kupu, lidah api, burung atau binatang terbang, merupakan tempat para Dewa. Ornamen yang berhubungan dengan alam tengah atau daratan, meliputi pohon hayat, tumbuh-tumbuhan, meru, binatang darat, dan bangunan, merupakan tempat manusia hidup. Ornamen yang berhubungan dengan air seperti perahu, naga (ular), dan binatang laut lainnya merupakan alam bawah sebagai tempat orang yang hidupnya tidak benar. Ornamen-ornamen yang biasa ditampilkan ke dalam motif semen, sawat, dan motif alas-alasan adalah sawat melambangkan matahari, kesaktian, kepekarsaan, meru merupakan tempat Dewa melambangkan kehidupan dan kesuburan, pohon hayat melambangkan kehidupan, burung melambangkan umur panjang, binatang berkaki empat melambangkan keperkasaan dan kesaktian, kapal melambangkan cobaan, damper atau tahta melambangkan tempat Raja, pusaka melambangkan wahyu, kegembiraan, dan ketenangan, naga melmbangkan kesaktian dan kesuburan, kupu-kupu melambangkan kebahagiaan dan kesuburan.
Ornamen utama dari motif batik Yogyakarta yang mempunyai makna simbolis adalah:
  • Meru melambangkan gunung atau tanah yang disebut juga bumi. 
  • Api atau lidah api melambangkan nyala api yang disebut juga agni atau geni. 
  • Ular atau naga melambangkan air atau banyu disebut juga tirta ( udhaka ). 
  • Burung melambangkan angin atau maruta.
  • Garuda atau lar garuda melambangkan mahkota atau penguasa tertinggi, yaitu penguasa jagad dan isinya.
Secara umum ornamen-ornemen yang ada adalah:
  • Ornamen garuda, ornamen ini melambangkan kekuatan dan keperkasaan. Dimana ornamen ini dalam pemakaiannya sering digambarkan dengan bentuk badan manusia dan kepalanya burung garuda. 
  • Ornamen meru, melambangkan atau menggambarkan bentuk puncak
  • gunung tetapi dari penampakan samping. Gunung ini diibaratkan sebagai tempat bersemayamnya dewa-dewa. Motif ini menyimbolkan unsur tanah atau bumi, yang didalamnya terdapat berbagai macam kehidupan dan pertumbuhan. Baik itu kehidupan manusia, hewan, dan tumbuhan.
  • Ornamen lidah api, ornamen ini sering disebut sebagai cemukiran atau modang. Makna ini sering dikaitkan dengan kesaktian dan ambisi untuk mendapatkan apa yang diinginkan karena dalam pemakaiannya digambarkan dengan deretan api.
  • Ornamen ular atau naga, ornamen ini dalam pemakaiannya digambarkan ular yang kepalanya memakai mahkota. Ornamen ini melambangkan kesaktian dan kekuatan yang luar biasa.
  • Ornamen burung, ornamen ini merupakan ornamen utama yang dilambangkan burung merak, phoenix, dan burung yang aneh dan berjengger. Ornamen ini melambangkan kesucian dan dunia atas, karena burung merak ini sebagai kendaraan dewa-dewa.

Batik Tradisional Indonesia

Batik tradisional Indonesia merupakan kebudayaan khas bangsa Indonesia yang secara historis sudah dikenal sejak abad XVII yang tertulis dan dilukis pada daun lontar. Saat itu motif dan pola batik tradisional Indonesia masih didominasi oleh bentuk binatang dan tanaman. Namun dalam perkembangannya batik tradisional Indonesia mengalami perkembangan corak, ragam dan motif. Disamping itu, keanekaragaman budaya bangsa Indonesia yang demikian kaya telah mendorong lahirnya berbagai corak dan jenis batik tradisioanal dengan ciri kekhususannya sendiri.
Perkembangan batik tradisional Indonesia sehingga menjadi milik rakyat Indonesia dan khususnya suku Jawa ialah setelah akhir abad 18 atau awal abad 19. Batik yang dihasilkan pada saat itu adalah batik tulis sampai awal abad XX, kemudian batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar 1920. pada awalnya membatik hanyalah pekerjaan kaum wanita dalam rumah tangganya untuk mengisi waktu senggang. Selanjutnya, batik yang tadinya hanya pakaian keluarga istana kemudian menjadi pakaian rakyat yang digemari baik wanita maupun pria.
Batik dapat didenifisikan sebagai cara pembuatan bahan kain, Selain itu definisi batik juga bisa mengacu pada dua hal: 
  • Teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam, teknik ini adalah salah satu bentuk seni kuno yang berguna untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Dalam literatur internasional, teknik ini dikenal sebagai wax-resist dyeing.  
  • Kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan.
Warga Belanda Tempo Doeloe Menggunakan Batik
Dalam Perkembangannya, ragam corak dan warna batik tradisional Indonesia dipengaruhi oleh berbagai pengaruh asing, khususnya dari pedagang asing (India, Arab, Tiongkok) dan Belanda/Jepang yang saat itu menduduki Indonesia. Pengaruh motif corak India dapat ditemui pada batik sembagi dan batik jlamprang.  Batik yang meniru pola dan motif chintz dan patola dipopulerkan oleh para pedagang arab dan Tionghoa untuk mengisi kekosongan pasar akan kebutuhan kain patola dan chintz akibat menurunnya perdagangan antara India dan Nusantara pada akhir abad 18. Pengaruh ragam dan corak budaya Tiongkok pada batik tradisional Indonesia juga bisa ditemui pada daerah pesisir seperti Indramayu, Cirebon, Pekalongan, lasem, dan Tuban. Pengaruh Warna-warna cerah seperti merah, dan motif/corak burung Hong, naga, singa, kura-kura, kilin, dewi-dewi. Batik tradisional tetap mempertahankan coraknya, dan masih dipakai dalam upacara-upacara adat. Pengaruh kebudayaan Eropa khususnya Belanda pada batik tradisional Indonesia mulai tumbuh dan berkembang antara tahun 1840-1940.  Hal ini dapat ditemui pada pola buketan (bouquet : rangkaian bunga), pada daerah pesisir khususnya daerah pekalongan dan sekitarnya.
Pembuatan Batik Tradisional Indonesia
Batik tradisional Indonesia dalam perkembangan lebih lanjut tidak hanya terbatas dalam ragam hias, corak, dan motifnya saja; tetapi juga dari cara pembuatannya. Oleh karenanya batik tradisional Indonesia berdasarkan cara pembuatannya dibagi menjadi:
Disamping itu batik tradisional Indonesia pada umumnya diproduksi terpusat hanya di beberapa daerah atau kota saja, dan pada setiap daerah tersebut memiliki ciri khas tersendiri.
Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa batik tradisional Indonesia mempunyai sejarah yang panjang, dan dengan berjalannya waktu telah mengalami perkembangan dan mengalami proses akulturasi budaya dari budaya aslinya. Batik tradisional Indonesia adalah warisan nenek moyang yang harus kita lestarikan bersama.  Salah satu upaya pelestarian yang bisa kita lakukan adalah dengan mencintai produk-produk batik tradisional Indonesia, produk bangsa Indonesia.

Cara Membedakan Batik Tulis, Batik Cap dan Batik Printing

Memiliki batik bukan berarti hanya sekadar punya, tapi juga mengenal. Bisa dimulai dengan mengetahui, mengidentifikasi, mencari tahu asal-usulnya, sebagaimana mengenali pasangan kita. Mari kita berkenalan dengan tiga jenis batik berdasarkan teknik pembuatannya, yakni batik tulis, cap dan print. Bagaimana mengenali perbedaan antara tiga jenis batik?
Tidak banyak yang tahu, kapan tepatnya teknik merintang warna diatas kain dengan menggunakan malam yang kemudian disebut batik pertama kali masuk ke Indonesia. Konon, teknik ini dibawa oleh anak buah kapal Laksamana Ceng Ho yang bernama Binang Oen. Namun, menurut Robyn Maxwell dalam bukunya “Textiles Of South East Asia: Tradition, Trade And Transformation”, batik mungkin baru berkembang di abad ke XVII. 
Semua punya teorinya sendiri. Batik tulis disebut “batik tulis” karena perintang warnanya dibubuhkan dengan cara seperti menulis dengan menggunakan alat bernama canting.
Ciri-ciri:
  • Tidak ada satu pun batik tulis yang kembar, semua dibuat hanya satu setiap lembar. Motif biasanya lebih rumit.
  • Karena dibuat dengan tangan, tidak ada satu pun yang motifnya sempurna. Justru ketidaksempurnaan inilah yang membuat batik tulis sangat manusiawi.
  • Bolak-balik, warna dan motifnya sama. Hal ini dikarenakan, setelah bagian depannya dicanting, bagian baliknya kemudian harus dicanting lagi.
  • Memiliki ukuran yang tidak biasa misalnya 2 x 1,25 meter persegi.
  • Kalau batik kuno, biasanya ada inisial tulisan tangan nama pembatik di ujung kain.
Pembuatan Batik Cap
Batik cap mulai berkembang di Indonesia setelah meningkatnya permintaan terhadap kain batik di pertengahan abad XIX. Pada saat itu produsen batik mulai mencari cara untuk bisa memproduksi batik dalam jumlah banyak dengan waktu yang singkat. Dari sini kemudian dibuatlah lempengan besi dengan motif batik untuk membubuhkan malam pada permukaan kain mori. Lempengan besi ini kemudian berfungsi seperti “stempel” yang dicapkan ke atas kain. Sehingga batiknya kemudian disebut sebagai batik cap.
Ciri-ciri:
  • Motifnya cenderung berulang, tidak banyak detail.
  • Bolak-balik warnanya tidak sama, bagian belakang cenderung memiliki warna yang lebih redup atau tipis.
  • Karena sudah masuk produksi massal, kualitas bahan umumnya tidak terlalu baik.
  • Dijual per lembar dengan ukuran standart kain potong.
  • Kain mori yang digunakan biasanya tidak melalui proses perebusan berhari-hari seperti batik tulis. 
Pembuatan Batik Printing Dengan Mesin
BATIK PRINT
Batik printing atau yang bisa juga disebut sebagai kain tekstil bermotif batik. Muncul di Indonesia tahun 1970-an seiring penetapan batik sebagai pakaian nasional.
Kain tekstil bermotif batik ini awalnya diproduksi oleh industri tekstil lokal, namun karena permintaan yang semakin banyak akhirnya batik print ini juga diproduksi oleh pabrik luar negeri. Hal inilah yang kemudian dikhawatirkan akan mematikan industri kerajinan batik lokal.
Ciri-ciri:
  • Motifnya sangat detail dan rapi, sangat rapi bahkan.
  • Warnanya cerah dan sangat menarik.
  • Bagian belakang berwarna putih, dengan sedikit tembusan-tembusan warna dari bagian mukanya.
  • Harganya sangat murah.
  • Biasanya dijual meteran.
Tidak sulit kan membedakan batik tulis, cap dan print? Hanya butuh latihan. Semakin sering kita bersentuhan dengan kain batik, memakainya dan berdialog dengan pedagang serta pembuatnya, semakin ahli kita mengidentifikasi kain batik.

BUKU KAMI DI GOOGLE BOOKS

title

BUKU NOVEL KOMEDI ANAK SEKOLAH
 
Support : Batik Tradisional Indonesia | Motif Batik | Keanekaragaman Batik
Copyright © 2013. Batik Tradisional Indonesia - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by BatikDan
Proudly powered by Blogger